AES#001 Survival vs Thriving (1)
Murdeani
Tuesday April 22 2025, 8:00 PM
AES#001 Survival vs Thriving (1)

Tanpa sadar kita dalam aktivitas sehari-hari selalu berada dalam survival mode (mode bertahan). Ini sangat wajar sih, karena narasi selama kita bertumbuh pun selalu mengacu ke mode ini. Dunia kita dibentuk dengan cara seperti ini. Kita diajari untuk berjuang, berlomba, dan ngga pernah merasa cukup. Dasarnya dibangun dari rasa takut: takut tertinggal, FOMO, takut gagal, takut ngga dianggap, takut kehabisan, takut ngga kebagian. Ini adalah kesadaran kolektif kita.

Tapi sebenarnya ada satu dunia lagi yang bisa kita jalani. Dunia ini nggak berada di tempat yang berbeda, tapi yang membedakan adalah ‘state of being’nya, frekuensinya. Dunia yang ini mengingatkan kita untuk hadir, mendengar, dan menjadi cukup sejak awal. Dasarnya dibangun dari cinta: cinta pada hidup, pada jeda, pada diri kita sendiri. Di dunia yang ini, kita boleh hadir apa adanya, dan tetap berharga.

Di dunia pertama, kita belajar untuk sibuk, dikejar target, peran, dan ekspektasi yang ngga pernah ada habisnya. Di dunia kedua, kita belajar untuk hening, untuk mengenali ritme kita sendiri, dan mempercayainya.

Di dunia pertama, kita diajak untuk menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Di dunia kedua, kita diajak untuk menemukan keutuhan di sini, saat ini, bahkan dalam hal-hal kecil.

Yang satu terasa berat, tapi familiar. Yang satu terasa ringan, tapi belum biasa.

Mungkin kita sudah lama hidup di dunia pertama: mode bertahan/survival. Tapi di kedalaman, kita tahu bahwa kita ngga diciptakan cuma untuk bertahan.

Kita ada untuk berkembang, bukan cuma bertahan. Untuk merasakan hidup mengalir, untuk membuka diri pada kelimpahan yang sudah ada di sekitar kita.

---

Bersambung ke bagian 2: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7628/aes002-survival-vs-thriving-2