Agenda bulan November ini cukup banyak, aku mulai beradaptasi dengan rutinitas baru yang jauh berbeda dari rutinitas lama. Namanya juga pengacara, pengangguran banyak acara jadi rutinitasnya juga random kadang kesana kadang kemari, menulis catatan perjalanan hari ini.
Rutinitas baru ini sungguh dinamika yang unik. Menganggur setelah berkutat dengan kegiatan sekolah, kuliah, bekerja, membuatku tidak punya waktu untuk menemukan diri sendiri, siapa aku? Rasanya tidak ada ruang untuk bernapas.
Memang keputusan resign kemarin betul waktu yang tepat untuk memulai hal baru. Katanya situasi ini disebut berjeda. Kata orang keputusan berjedaku ini “sayang sekali” ya rasanya mungkin begitu untuk banyak orang yang melihat, melihat usaha yang sudah dilakukan untuk mencapai titik itu. Titik yang dilihat begitu prestisius. Saat semua orang bertanya kenapa berhenti, aku malah berpikir kenapa harus melanjutkan? Saat aku kehilangan arti, kehilangan spirit yang seharusnya semakin membakar. Apa gunanya melanjutkan jika harus kehilangan?
Hari ini begitu bermakna, setelah mengantar adik ke sekolah masih ada waktu 1.5 jam sebelum pukul 10.00, lalu aku dan Fajrin melipir ke warung favorit kami, Ibu Imas. Sudah lama kami tidak kesana, makan jam segini masih kosong kami bisa makan dengan tenang tanpa perlu berdesakan dan makan terburu-buru. Parkiran juga masih kosong jadi tidak perlu berjalan jauh atau berputar-putar dulu. Siapa juga yang makan berat jam segini? Sepertinya banyak yang belum tahu kalau disini ada menu hidden gem. Sambal goang. Tidak tertulis dimenu, sambalnya pakai cabe rawit merah, kencur dan kemangi. Pecinta pedas harus mencoba kalau kemari. Mantul!
Selama perjalanan kami banyak berdiskusi, aku dan Fajrin memang tipe yang suka bertukar pikiran, saat pacaran dulu pun begitu kami bisa berjam-jam berdiskusi, saling sanggah sudah biasa yah namanya juga anak muda. Sekarang kami sedang bersama-sama berproses mengenal diri, kami berkesempatan melalui prosesnya masing-masing walau caranya berbeda jadi saat punya waktu berdua seperti ini kami akan membahas sesuatu sesuai dengan temuan kami. Mungkin ini yang namanya dapat hidayah. Hasil diskusi kali ini kami sepakat hidayah itu datang setiap saat, tinggal bagaimana kita mau menerima atau tidak. Dibalik penerimaan ini ada yang namanya kesadaran. Menerima secara sadar ini yang kadang luput dari keseharian kita. Kira-kira begitu.
Sampai sekolah aku mengikuti sosialisasi pindah jenjang SD besar. Wah seperti baru kemarin mengikuti gelar griya. Sosialisasi ini menyadarkan kami orang tua, menyertai anak yang sedang tumbuh berkembang juga perlu turut berkembang. Perlu penyesuaian mengikuti milestone anak. Kolaborasi sekolah dan rumah jadi poin penting bagaimana harmonisnya hubungan anak, sekolah dan rumah memiliki andil kuat pada keberhasilan anak melampaui milestone-nya. Disini ditekankan lagi untuk berkesadaran. Kesadaran orang tua akan membangun kesadaran anak. Hubungan ini belum timbal balik karena anak masih dalam tahapan menjadi tahanan orang tua, usia 7-12 tahun.
Keberhasilan orang tua = keberhasilan anak.
Sudah 2x hari ini belajar, makin yakin keputusan berjeda memang tepat. Pembenaran. Fokus membersamai anak, hadir seutuhnya dalam proses belajar. Selesai sosialisasi duduk berbincang dengan orang tua lain tentang concern-nya, kebanyakan masih seputar membangun rutin, mengenal emosi, minat membaca. Masih ada waktu 8 bulan untuk menggenapinya. Ayo berjuang bersama!
Kemudian giliran kak Andy yang datang menyapa, membicarakan tentang AES. Kami sepakat AES menjadi wadah membangun literasi di Smipa. Sudah berjalan lama sebenarnya sejak sebelum pandemi, mulai dari website blog sampai memiliki blog sendiri sekarang di Ririungan. Dari 1, 100, sekarang sudah mencapai 5 ribuan tulisan yang terekam, lalu terbit buku kurasi AES dari para penulis. Keren!
Setelah pencapaian timbul tantangan baru, jumlah cerita mengalami penurunan, banyak penulis yang berjeda, sibuknya kegiatan sehari-hari atau mulai meredupnya semangat menulis yang pasti dialami oleh semua orang. Tidak masalah berjeda tetapi alangkah baiknya muncul lagi semangat melanjutkan.
Mulai mengenalkan kembali kesenangan berliterasi. Mulai mengajak lagi warga Smipa berliterasi disini. Menemukan jalan membangun kesadaran literasi. Menghidupkan spirit AES.
Rasanya banyak hal yang bisa dicerna pada kegiatan hari ini.
Merefleksikan kembali bagaimana kita sebagai individu perlu mengasah kemampuan diri untuk berkembang. Sebagai orang tua terus belajar bersama mengiringi anak untuk menemukan dirinya sendiri. Sebagai keluarga besar Smipa ikut berkontribusi membangun wadah yang nyaman untuk membangun kesadaran.
Begitulah ceritaku hari ini. Makanan enak pagi tadi sepertinya menjadi energi utamaku untuk menyerap semua kisah hari ini.
Keputusan tepat kesana, makan enak, hati gembira, pikiran jernih. Malam nanti pasti akan tidur nyenyak hehehe
Wah keren amat ini rekaman cerita dalam sehari... penuh makna juga Sanya. Turut senang membacanya 🙏🏼