AES184 Katalisis Kesepian
carloslos
Friday May 22 2026, 12:47 PM
AES184 Katalisis Kesepian

Halo teman-teman yang budiman, entah apa yang harus saya banggakan. Tanpa terasa sudah genap dua minggu saya mengerjakan proyek novel ini. Dua minggu mungkin terdengar sebentar, tapi ketika seseorang hidup bersama tulisannya setiap hari, waktu bisa terasa lebih panjang dari yang dibayangkan. Hari ini saya tersadar pada sesuatu yang agak mengganggu pikiran saya: sebenarnya apa yang saya cari?

Pertanyaan itu datang begitu saja. Tidak mengetuk pintu, tidak meminta izin. Ia tiba-tiba duduk di kepala saya dan menolak pergi. Pada dasarnya semua makhluk hidup adalah fana. Datang, hidup sebentar, lalu hilang. Bahkan manusia—makhluk yang menganggap dirinya paling istimewa—tidak bisa berbuat banyak di hadapan waktu. Kadang saya berpikir, jika dilihat secara sederhana, manusia hanya melanjutkan keturunannya demi menjaga agar jenisnya tidak berhenti di tengah jalan.

Pikiran itu saya tuliskan pada salah satu karakter dalam novel saya. Dan kalau saja karakter itu bisa membaca tulisan ini, mungkin ia akan menatap saya dengan wajah bingung. Atau mungkin justru tertawa kecil, sebab saya sering memberi pertanyaan kepada tokoh yang sebenarnya belum bisa saya jawab sendiri. Tapi di tengah pikiran-pikiran semacam itu, ada satu hal yang selalu saya syukuri: bulan dan bintang.

Teman-teman yang budiman, saya rasa tempat terbaik bagi saya bukanlah senja menuju blue hour yang sering diagung-agungkan banyak orang. Entah kenapa saya tidak terlalu dekat dengannya. Senja memang indah, tapi rasanya terlalu ramai oleh pujian manusia. Sedangkan malam berbeda. Malam lebih jujur. Saya suka memandang bulan dan bintang. Karena anehnya, di sana saya merasa melihat diri saya sendiri. Bukan wajah atau bentuk, melainkan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.

Mungkin karena bulan tidak bersinar dengan cahayanya sendiri. Ia hanya memantulkan cahaya yang datang kepadanya. Kadang penuh, kadang setengah, kadang nyaris hilang. Tapi meski begitu, ia tetap ada di langit. Dan bintang juga demikian. Mereka kecil, jauh, dan sering kali kalah oleh lampu-lampu kota. Tapi mereka tidak pernah benar-benar menghilang.

Kenapa bukan matahari? Karena matahari terlalu menyilaukan. Ia terlalu terang, terlalu pasti, terlalu setia pada hukumnya sendiri. Setiap pagi ia datang dan semua orang tahu ia akan datang. Sedangkan bulan dan bintang punya sesuatu yang lebih dekat dengan manusia: ketidakutuhan. Mereka hadir dengan cara yang tidak selalu sempurna. Dan mungkin karena itulah saya menyukainya. Sebab semakin saya tumbuh, semakin saya sadar bahwa kesepian bukan selalu sesuatu yang harus dilawan. Kadang ia seperti katalis—sesuatu yang mempercepat reaksi dalam diri kita.

Kesepian membuat saya bertanya. Kesepian membuat saya menulis.

Dan mungkin, diam-diam, kesepian juga sedang membantu saya menemukan sesuatu yang selama ini saya cari, meski saya sendiri belum tahu namanya.