Pada suatu Kamis, tema menulis CSWC adalah bagaimana cara mengahadapi "hantu". Dari undian kartu, hantu yang mesti kuhadapi adalah hantu Loneliness.
Tetapi bagiku, loneliness bukanlah hantu. Bukanlah sumber ketakutan, bukan sesuatu yang harus kutakuti. Bahkan, hadiah yang kuterima dari loneliness adalah pengenalan diri. Ketika banyak di luar sana orang menghindari loneliness, dalam berbagai kesempatan justru loneliness itu kuciptakan sendiri. Kusadari ini sebagai sebuah kebutuhan. Harus ada dan cukup waktu bagi diriku untuk merasakan "keterpisahan", terasing, sendiri, atau menikmati loneliness itu sendiri.
Di sisi lain, kulihat bahwa ketakutan pada loneliness bukan karena takut kesendiriannya. Tetapi jauh kepada belim sadarnya kita, bahwa kita tidak pernah sendiri. "BUKAN TIDAK BISA SENDIRI", tetapi kita TIDAK pernah sendiri, tak pernah terpisah, sekaligus juga terpisah. Bingung kan? He.he.he
Untuk yang belajar fisika kuantum pasti lebih memahami bahwa partikel terkecil penyusun kehidupan, yaitu atom, ternyata lebih banyak terisi oleh kekosongan. Silakan nanti dicari lebih mendalam. Tetapi intinya, dalam keterpisahan kita bersatu, dalam kebersatuan kita juga terpisah.
Ketidaksadaran bahwa kita adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan, menciptakan ketakutan pada keterpisahan atau kesendirian. Padahal, kita tidak pernah sendiri atau terpisah, sekaligus juga terpisah dan sendiri.