AES156 Hujan
Sanya
Monday November 3 2025, 4:23 PM
AES156 Hujan

Sudah beberapa hari belakangan siang menjelang sore, cahaya cerah matahari perlahan tertutup awan. Lewat tengah hari hawa menjadi lebih dingin, langit kelabu, seakan sore datang lebih cepat. Tak berapa lama hujan datang, intensitas nya tak menentu bisa gerimis kecil atau hujan lebat. Aku sudah lama menanti momen yang tepat untuk merasakan langsung berada di bawah langit, menikmati hujan.

Kemarin sore aktivitas cukup senggang, aku bersama anak-anak berjalan santai tanpa alas kaki beberapa keliling dekat saja di sekitar rumah kemudian angin dingin berhembus cukup kencang tanda hujan sebentar lagi akan datang. Walau langit belum sepenuhnya gelap aku tahu hujan kali ini akan cukup deras. Kami pun berjalan pulang, 4 anak yang bersemangat berlomba siapa yang paling cepat sampai ke rumah. Kejar-kejaran melawan angin yang membawa awan tebal. Betul saja sampai depan rumah perlahan air mulai turun. Mereka berucap syukur sampai rumah tepat sebelum hujan.

Matahari telah sepenuhnya pergi, hujan makin lebat. Aku hanya melirik Fajrin dari seberang meja, dia tersenyum tahu betul apa maksudku. “Siap?” Katanya menantang. Tak menunggu waktu lama kami keluar menatap langit. Sekejap tubuh kami basah kuyup, dingin menggigit.

“Ayo kita lari!”

Kami lari seperti anak-anak, lari sambil berputar-putar dan sesekali tertawa keras. Kami lari memutar waktu. Yang berlari sambil bermain air adalah Sanya kecil dan Fajrin kecil. Kami sahabat akrab yang menyelinap keluar rumah untuk main hujan-hujanan tanpa sepengetahuan orang tua.

Suhu terasa semakin turun, dingin terasa sampai ke tulang tapi hati kami hangat. Sepanjang jalan kami asyik bermain kejar-kejaran, bicara panjang sampai air ikut tertelan, terus mengusap wajah agar bisa melihat jelas. Kami terus berlari sampai ujung jalan. Memegang tiang lampu yang menjadi penanda akhir.

Inilah yang terasa aneh, saat berbalik badan angin berhembus begitu kencang sampai air dipermukaan jalan terlihat seperti ombak tipis. Kali ini dinginnya tak tertahankan, suasana mendadak sunyi, kegelapan semakin pekat. Waktu terhenti. Derasnya hujan terlihat jelas dari sorotan lampu jalan, petir menyambar beberapa kali. Aku kembali hadir, Sanya kecil telah selesai bermain-main.

Jalanan yang sama terasa berbeda. Kami berdua berjalan masing-masing. Tidak ada canda, kali ini kami berada di dunia kami sendiri. Bagiku momen inilah momen hadir seutuhnya. Tak ada penjelasan tapi dapat dirasakan.

Sesampainya di rumah kami hanya saling tersenyum kecil, kami berdua telah melewati lini masa yang sama dengan pengalaman yang berbeda satu sama lain. Tapi bukankah begitu yang terjadi setiap hari?

Sampai di dalam rumah suara tak asing menyambut, “Kalian hujan-hujanan? Dasar anak kecil!”

Hahaha memang, kami anak alam semesta.


Masih dalam tema spiritualitas, bisa jadi momen kemarin adalah kepingan perjalanan spiritual kami berdua.