Bulan Mei menyimpan dua tanggal penting yang menjadi pilar sejarah pendidikan dan pergerakan bangsa Indonesia. Pertama, tanggal 2 Mei yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, bertepatan dengan hari lahir Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, yang lebih kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Kedua, tanggal 20 Mei yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional untuk menandai lahirnya organisasi Budi Utomo. Para tokoh pendahulu kita yang memimpikan “Indonesia Merdeka” sangat sadar bahwa kunci utama kemerdekaan dan kemajuan bangsa terletak pada pendidikan.
Namun, membicarakan carut-marut pendidikan di Indonesia tidak akan cukup dalam satu atau dua hari. Jika kita berkaca pada realitas hari ini, ada banyak indikator yang menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita masih jauh dari keberhasilan, bahkan bisa dibilang menghadapi kegagalan masif. Setelah lebih dari 80 tahun merdeka, kita masih terseok-seok melahirkan pemimpin yang visioner, belum berhasil membangun budaya kolektif yang bersih dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), bahkan masih gagal untuk sekadar menanamkan kesadaran mendasar seperti menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.
Tentu saja, kita tidak bisa terus-menerus melimpahkan seluruh beban pendidikan bangsa ini kepada pemerintah semata. Meski begitu, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ketidakjelasan pemerintah dalam menyusun cetak biru sistem pendidikan, yang kerap kali berganti arah setiap kali terjadi pergantian menteri, telah mengorbankan anak-anak kita. Padahal, anak-anak inilah yang kelak akan menduduki kursi kepemimpinan, menyusun kebijakan, dan menentukan ke mana arah masa depan Indonesia akan dibawa.
Melihat kondisi tersebut, sebagian orang merasa pesimistis dan menilai situasi ini sudah tidak tertolong karena praktik KKN telah mengakar hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Namun, benarkah kita sudah kehabisan jalan keluar?
Di tengah situasi pelik ini, saya meyakini bahwa prinsip pendidikan yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara tetap menjadi kompas yang selalu relevan bagi Indonesia. Meskipun eksistensi Sekolah Taman Siswa secara fisik kini mulai meredup, tiga prinsip dalam Sistem Among beliau akan selalu abadi:
Kunci utama dari sistem among terletak pada prinsip yang pertama: Ing ngarsa sung tulodo. Keteladanan adalah jiwa dari pendidikan; sebuah fondasi moral yang wajib dipahami dan dipraktikkan oleh seluruh orang dewasa, khususnya para pendidik.
Fitrah dasar anak-anak adalah meniru. Mereka menyerap hal baik maupun buruk di sekitarnya dengan sangat cepat. Ditambah lagi dengan penetrasi teknologi visual saat ini, anak-anak dapat dengan mudah mengakses segala macam konten yang bertebaran di dunia maya. Maka tidak mengherankan jika hari ini, ketika anak-anak ditanya mengenai cita-citanya, mayoritas dari mereka ingin menjadi YouTuber, influencer, atau gamer. Realitas ini sangat jauh berbeda dengan generasi saya di masa lalu, yang rata-rata bercita-cita menjadi presiden, dokter, atau pengusaha. Pergeseran ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh figur yang mereka lihat setiap hari di layar kaca terhadap orientasi hidup mereka.
Pengalaman saya di dunia kepramukaan memberikan perspektif menarik mengenai bagaimana Sistem Among ini berkaitan erat dengan tahap tumbuh kembang anak dalam siklus tujuh tahunan. Secara sederhana, fase tumbuh kembang anak dapat dibagi menjadi tiga tahapan:
Jika kita ingin mengembalikan ruh Kebangkitan Nasional, kita harus berani membedah kembali orientasi dunia pendidikan kita. Sudah siapkah sistem pendidikan kita menanam dan merawat tunas-tunas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi? Serta mampukah kita mempersiapkan mereka agar kelak tidak hanya siap bersaing, tetapi juga mampu berkolaborasi dengan anak-anak dari seluruh belahan dunia?
Ini adalah sebuah pertanyaan besar yang tentu saja tidak akan pernah bisa saya jawab sendirian.
Dibutuhkan partisipasi aktif dan sinergi dari seluruh elemen masyarakat untuk membenahi dunia pendidikan kita. Jika kita belajar dari tonggak sejarah perjuangan bangsa, kemerdekaan tidak diraih secara instan dalam semalam. Perjuangan itu bersifat gradual: dimulai dari pergerakan Budi Utomo pada tahun 1908 untuk menyiagakan kesadaran bangsa, lalu menggalang persatuan lewat Sumpah Pemuda pada tahun 1928 untuk menggalang kekuatan, hingga akhirnya kita mampu menegakkan kemerdekaan pada tahun 1945. Pola historis ini sangat selaras dengan tahapan penggolongan usia dalam Gerakan Pramuka, yaitu: Siaga, Penggalang, dan Penegak.
Sebagai catatan untuk diri sendiri (self-note): Sudahkah saya menjadi teladan yang baik bagi anak-anak di sekitar saya?
Mari kita berhenti mengutuk kegelapan dan mulai menyalakan api kecil. Perubahan tidak harus menunggu kebijakan dari atas; mari kita mulai dari hal-hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulailah saat ini juga.