Sungguh tidak terasa, Siang tadi adalah slametan terakhirku sebagai murid di Semi Palar.
Lima belas slametan, namun tahun ini menjadi puncak slametan dari semua slametan. Tidak seperti biasanya, tahun ini acara slametan dilaksanakan di Smipa. Sebuah keputusan yang tegas, walau jujur aku tidak mengetahui alasan utamanya. Siang tadi, menyadari acara tersebut adalah acara slametan terakhir sebagai murid Smipa sempat beberapa saat aku merasa sedih. Seraya mengecat tembok bak pasir, memaknai setiap momennya sambil berbagi momen pada teman-teman lain. Hari ini aku merasakan sekali makna dari rumah belajar kami Semi Palar, merasakan memiliki dengan bersama beberes. Di rumah belajar ini lah aku berproses menemukan bintang diriku.
Slametan kali ini memang ngena banget pada diriku, kalau tidak ditahan sepertinya sudah keluar tetesan air dari mataku. Dari acara tadi, aku belajar merasakan bahwa kesederhanaan dapat lebih bermakna daripada kemewahan. Sepertinya kalau slametan tadi dilaksanakan diluar Semi Palar, tidak akan ada AES ini. Terimakasih kakak-kakak dan semua panitia yang sudah bertugas, slametan kali ini luar biasa!
Flavi, kak Andy tambahan foto ya. Kebetulan kemarin sempat ada dokumentasinya. 🙏🏼😊
Wah, oke ka, makasih ka.
Flavi! Terima kasih sudah memaknai dan berbagi cerita ini.
Ka Mamat! Terimakasih juga sudah membaca😁.
Flavi terima kasih sudah berbagi makna, manis sekali