Saat kesadaran kita tertutup kabut ilusi, kehidupan rasanya datar, rutinitas terasa berat, dan dunia jd kehilangan rasa, seringkali kita pun merasa tergesa-gesa selalu dikejar waktu. Kita sekedar menunaikan tugas. Dan itu berlangsung setiap hari (baca: Survival vs Thriving).
Namun aku juga harus jujur, kita mungkin ngga langsung selalu bisa hadir utuh. Mungkin ada momen di mana kita hadir utuh, lalu tiba-tiba tersedot lagi perlahan ke dalam kabut: pikiran jalan sendiri, tubuh bergerak otomatis, hati mulai teralihkan… sampai tiba-tiba kita tersadar, “loh, tadi aku ke mana ya?”.
Ini wajar, bahkan alami. Dunia modern memang dirancang untuk menceraikan kita dari momen hadir. Pikiran kita dibombardir oleh notifikasi, kewajiban, asumsi tentang siapa kita dan apa yang harus kita lakukan. Otak dilatih untuk terus berpikir, berpindah-pindah, bukan diam. Oleh karena itu, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, hadir sadar itu bukan sesuatu yang bisa dicapai, lalu selamanya kita akan seperti itu. Kita perlu untuk terus memilih, untuk terus kembali.
Beberapa jembatan untuk kembali ke kehadiran secara sadar, di antaranya:
- Nafas sebagai gerbang pulang
Setiap kali kita ingat sudah nggak sadar, berhenti sejenak. Tarik nafas perlahan lewat hidung, keluarkan lewat mulut sambil menyadari, “Aku di sini, hadir, saat ini”. Satu nafas juga cukup, atau kalau sempat lakukan tiga nafas. Rasakan tubuh kita menyatu kembali dengan ruang ini.
- Jeda setiap transisi
Sebelum pindah aktivitas (misal dari kerja ke makan, dari ngobrol ke nulis), beri satu jeda. Bisa satu langkah berhenti, atau satu kalimat dalam hati, “Aku memasuki momen baru dengan kesadaran”, atau “Bismillahirrahmanirrahim” jika mau. Kalimat Basmalah bukan sekedar ucapan kosong, jika kita jiwai, ia bukan sesuatu yang diucapkan karena kebiasaan. Lain kali kita bahas ini ya.
- Sentuhan tubuh dengan penuh kasih
Ketika mencuci tangan, menyisir rambut, mandi, mengusap wajah, menggunakan skincare, berwudhu, atau memakai alas kaki, misalnya, lakukan dengan kesadaran bahwa kita menyentuh tubuh yang hidup, yang selama ini setia menemani.
- Turun ke tubuh saat pikiran hilir mudik
Ketika pikiran lalu lalang tanpa henti, sangat mudsh bagi kita untuk terseret. Ketika sadar, tidak perlu berusaha menghentikan pikiran, karena semakin kita berusaha menghentikan, pikiran akan semakin membayangi kita. Cukup tarik nafas dan bawa kesadaran turun ke tubuh kita. Rasakan kita menghuni tubuh dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lihat sekeliling, dengarkan suara di sekitar, aktifkan panca indera dengan lembut.
- Ruang saat terseret emosi
Jika kita terlanjur terseret oleh emosi, detik pertama kita sadar adalah jembatan pulang. Segera beri ruang bagi diri kita untuk berhenti sejenak, untuk menyadari dan merasakan total emosi kita, untuk memeluknya dulu. Jika kita sedang berhubungan dengan anak, jelaskan dengan lembut bahwa kita sedang butuh ruang. Pastikan anak aman terlebih dahulu. Akan lebih baik jika ada pasangan yang bisa menemani si anak. Atau sama-sama duduk dalam keheningan. Kita bisa kembali mendekati anak dan menolong dia ketika diri kita kembali hadir utuh. Kita akan mampu melihatnya seapaadanya, tidak terdistorsi dengan kabut emosi, dan ketika itu terjadi, kita malah akan berempati kepadanya. Jika pada orang dewasa seperti kita saja gelombang emosi bisa membuat lupa diri, apalagi pada anak kecil yang prefrontal cortexnya belum sempurna. Be gentle to ourselves, and our kids. Ini sekaligus akan menunjukkan pada anak kita bahwa kita pun berproses. Anak belajar bukan dari apa yang kita katakan atau ceramahkan, tapi lebih dari apa yang kita lakukan. Dan hadiah terbesar bagi seorang anak adalah orangtua yang hadir sadar. Anak-anak tidak butuh orangtua sempurna, mereka butuh orangtua yang hadir, sadar, dan terus bertumbuh.
Kita memang sedang belajar, pelan-pelan, untuk kembali pulang ke momen ini. Nggak perlu buru-buru. Nggak perlu sempurna. Yang penting, kita terus memilih untuk kembali.
Kalau kamu juga sedang berada di jalan ini, mari saling jaga. Kita barangkali nggak selalu hadir, tapi kita bisa saling mengingatkan. Dan semoga, dari satu tarikan napas ke tarikan napas berikutnya, kita bisa sedikit lebih hadir… sedikit lebih hidup.
Terima kasih udah membaca sampai sini. Kamu nggak sendiri ❤️
----
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7682/aes011-vagus-nerve-dan-hubungannya-dengan-sistem-saraf-parasimpatis
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7678/aes009-kehadiran-sadar-di-tengah-rutinitas
Terima kasih banyak Dini sudah banyak menuliskan tentang kesadaran di ruang ini. Saya dan kakak-kakak Semi Palar juga sedang banyak mengolah ini dan akan jadi titik perhatian lebih di semester mendatang.
Saya belum sempat baca-baca tulisan Dini, tapi tentunya akan jadi bahan belajar bagi saya dan kakak-kakak Smipa. Nuhuun. 🙏🏼😊👍🏼
Makasih kak Andy apresiasinya. Masih dikit kok tulisannya, masih kekejar dibaca semua hahaha.... Wah bagus sekali kalau memang di Smipa akan jadi titik perhatian lebih, karena menurut saya ini basic. Inti dari pendidikan adalah membangunkan jiwa. Segala hal lain spt pengetahuan, keterampilan, disiplin, bahkan nilai2 hanya sarana. Inti sejatinya yaitu menghidupkan kesadaran akan siapa sejatinya kita. Ini yg aku dapatkan selama (dan selalu) berproses homeschooling Kido