AES#009 Kehadiran Sadar di Tengah Rutinitas
Murdeani
Thursday May 15 2025, 4:45 PM
AES#009 Kehadiran Sadar di Tengah Rutinitas

Setiap hari, mungkin kita terbiasa melakukan rutinitas, baik di rumah, di kantor, atau di manapun kita perlu melakukan aktivitas. Seringkali semua berjalan secara autopilot. Kita nggak perlu terlalu fokus terus-terusan pada apa yang sedang kita lakukan, karena sudah ada program bawah sadar yang katanya mengendalikan 80-90% kegiatan kita (pikiran, tindakan, respon dsb). Tubuh kita memang mengandalkan pikiran bawah sadar, seperti jantung yang berdetak tanpa kita kendalikan. Namun, kita tidak harus sepenuhnya dikendalikan oleh pola bawah sadar yang terbentuk dari pengalaman dan pengaruh luar yang mungkin menghambat pertumbuhan kita. Ini bukan berarti kita mengganti porsi pikiran bawah sadar dengan pikiran sadar, karena hal tersebut akan sangat melelahkan, melainkan kita perlu menghadirkan kesadaran kita kembali. Kita perlu kembali sadar bahwa kita sedang sadar (baca : Lima Lapis Kesadaran). Dengan demikian, kita akan hadir di sini saat ini, dengan seluruh tubuh, pikiran, dan jiwa, tidak tercerai berai. Jadi, alih-alih berusaha selalu “konsentrasi” pada apa yang sedang kita lakukan, kita malah akan semakin rileks, karena mengalami perluasan kesadaran. Fokus kita tidak menyempit, tapi meluas.

Ketika ada emosi, pikiran, atau perasaan tertentu, bukan berarti kita lantas mengusirnya, karena berpandangan bahwa orang yang “sadar” tidak pernah merasa takut, atau marah, atau selalu kosong pikirannya. Tidak, bukan seperti itu. Emosi, pikiran, perasaan akan tetap ada, tapi bedanya kita tidak teridentifikasi lagi dengan mereka. Kita tahu bahwa kita adalah ruang yang memeluk mereka, bagaikan seorang Ibu yang memeluk anaknya yg sedang sedih atau marah. Kita tidak lagi menolak emosi, karena penolakan itulah yang membuat kita menderita. Proses menuju ke sini tidak instan, wajar kita kita sesekali masih tersesat. Cukup ingatkan diri untuk kembali hadir, be gentle to ourselves.

Kehadiran sadar itu bukan sesuatu yang harus sempurna. Justru keinginan kita untuk mencapainya apalagi harus sempurna, makin menjauhkan kita dari kesadaran. Kehadiran sadar itu effortless. Kita tidak dituntut untuk tahu banyak dulu untuk bisa hadir secara sadar. Nggak perlu punya gelar atau kepercayaan tertentu, atau agama tertentu. Justru sebaliknya, kita akan meluruhkan label-label yang melekat pada diri kita, karena itu pun bagian dari ilusi.

Kehadiran sadar bukan hanya tentang diri sendiri, tapi membuka ruang bagi kita untuk merasakan keterhubungan yang lebih luas bukan hanya dengan sesama manusia, tapi juga dengan alam, tubuh kita, dan semua yang mengisi ruang-ruang kehidupan. Termasuk benda-benda yang kita anggap sebagai “benda mati”, misalnya rumah, mobil, bangunan publik dll. Ini karena ke mana pun kita melangkah, kita menorehkan jejak energi pada medan energi di sekeliling kita. Energi itu nggak terlihat, tapi nyata, seperti riak halus yang menyebar di permukaan air.

Hadir secara sadar membawa jiwa ke dalam setiap momen, sehingga yang tadinya terlihat biasa dan rutinitas menjadi lebih bermakna. Kita lah yang memberi makna pada kehidupan. Ketika mencuci piring, bukan sekedar bersih-bersih, menyiram tanaman bukan sekedar melakukan tugas chores. Jaman sekarang, pekerjaan seperti ini mungkin akan bisa digantikan mudah dengan robot. Bukannya aku menyuruh agar kita melakukan semua tugas sendiri, tapi aku mengajak untuk merenungkan, adakah bedanya pekerjaan yang dilakukan oleh manusia, dengan yang dilakukan oleh robot? Secara hasil, mungkin akan terlihat sama, atau bahkan lebih baik. Tapi ada jejak jiwa yang tak tergantikan oleh robot. Jika teknologi membantu pekerjaan manusia pun, tetap manusia yang berjiwa yang mengoperasikannya. Teknologi itu adalah alat, penggunaannya akan tergantung dari kesadaran manusia yang menggunakannya. Kita tak perlu khawatir berlebihan dengan teknologi, yang perlu kita lakukan adalah mengingat kembali Diri Sejati kita, sehingga kita bisa hadir secara sadar dalam setiap momen, termasuk saat menggunakan teknologi.

Kenapa jadi bahas robot ya? Mungkin kamu juga pernah berpikir, apakah rutinitas ini bisa digantikan robot? Tapi di sini aku mengajak kita semua untuk merasakan, apa bedanya saat kita hadir sepenuh hati dalam setiap gerakan sederhana itu. Aku memang ngga membuat struktur tertentu ketika memutuskan untuk menulis ini. Tulisan ini lahir begitu saja mengikuti apa yang ingin muncul. Ok, balik ke kehadiran secara sadar ya.. tapi di tulisan berikutnya, karena nggak muat dalam satu post 😆

---

Post selanjutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7679/aes010-jembatan-kesadaran

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7675/aes008-lima-lapis-kesadaran-4

You May Also Like