4. Consciousness (Lapis Jernih): Saat kita sadar bahwa kita adalah kesadaran itu sendiri
Di lapis ini, kita sadar bahwa kita bukanlah pikiran, emosi, perasaan, atau pun semua narasi tentang kita, termasuk peran, profesi, masa lalu dsb. Ini bukan tentang apa yang kita rasakan, tetapi lebih kepada siapa kita sebenarnya. Kita adalah kesadaran itu sendiri. Bagaikan langit biru jernih, yang kadang tertutup awan, kita sadar bahwa kita adalah langitnya, bukan awan-awan emosi atau pikiran. Kita adalah ruang luas yang menyadari semua ilusi datang dan pergi. Ini adalah momen di mana kita sadar thd subyek. Contoh: kita menyadari ada emosi dan pikiran yang lalu lalang, tapi kita tidak teridentifikasi dengan semua itu. Ada jarak antara diri kita dengan pikiran, perasaan, emosi, dan menyadari bahwa kita adalah saksi/ruang yg jernih yang menyaksikan semuanya datang dan pergi.
Cara kembali pulang ke kesadaran: Diam, rasakan ruang yang menyadari segalanya. Ini nggak bisa dipahami pakai pikiran lagi, hanya bisa dialami.
5. Pure consciousness/Non Dual (Lapis Menyatu): Saat semua lenyap ke dalam Cinta.
Jika Awareness adalah Sadar Obyek, Mindfulness adalah Sadar Predikat, dan Consciousness adalah Sadar Subyek, maka di lapis Non dual ini semuanya lebur, tak ada lagi Subyek dan Obyek, semua batas lenyap. Gak ada yang “Aku” yang mengamati. Hanya ada hidup yang mengalir (ngeflow). Kosong, tapi penuh. Ini bukan lapisan yang bisa “dicapai”. Ini adalah momen tenggelam dalam Cinta tanpa syarat. Bukan berarti kita hanya berdiam, tapi justru saat kita beraktivitas hidup dalam keseharian.
Walaupun aku menuliskannya seolah seperti anak tangga yang linier, sesungguhnya perjalanan kesadaran ini tidaklah linier melainkan melingkar seperti spiral. Kadang kita akan menyadari bahwa kita seperti kembali ke titik awal namun melihatnya dari kesadaran yang lebih jernih. Ini adalah perjalanan ke dalam, bukan ke luar. Setiap lapisan terhubung dan saling melengkapi. Bukan berarti kita harus sempurna selalu berada di lapis ke -5. Dalam sehari pun wajar jika kita berpindah-pindah. Yang penting bukan “di lapis mana kita berada”, tapi bahwa kita mau melihat, merasakan, dan mencintai diri kita sendiri di mana pun kita sedang berada. Saat kita tersadar bahwa kita sedang melaju dalam mode autopilot, kita gak perlu panik atau merasa bersalah. Kesadaran itu sendiri adalah momen pulang. Kita hanya perlu kembali hadir, lembut dan penuh kasih. Be gentle to ourselves. Itu mantranya.
Ada kalanya di mana aku merasa “gagal” ketika suatu waktu aku bereaksi ke Kido yang merengek saat aku sedang lelah. Saat itu, aku sedang merasa energi terkuras dan aku gak bisa melihat sesuatu dengan jernih, maka ketika aku mendengar ia merengek, aku masuk lagi dalam mode autopilot. Padahal sebelumnya aku seringkali mampu tenang dan merespon dari cinta. Ini bukan kesalahan. Sadar itu bukan berarti selalu tenang dan ngga pernah merasa kesal atau marah, tetapi bagaimana kita bisa menerima dan memeluk semua “tayangan” yang hadir, termasuk rasa kesal, rasa gagal kita. Detik di mana kita sadar bahwa kita sempat tidak sadar, saat itu lah kita kembali pulang. Aku belajar bahwa momen “jatuh” pun bisa menjadi jembatan pulang. Gak perlu berupaya keras “mencapai” kesadaran. Kita hanya perlu mengizinkan diri kita untuk menjadi seapaadanya dan pulang ke pelukan yang selalu ada di dalam ❤️.
---
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7678/aes009-kehadiran-sadar-di-tengah-rutinitas
Post sebelumnya:
Bagian 1: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7667/aes005-lima-lapis-kesadaran-1
Bagian 2: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7673/aes006-lima-lapis-kesadaran-2
Bagian 3: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7674/aes007-lima-lapis-kesadaran-3