"Perempuan yang berpendidikan tinggi akan dihadapkan pada dua pilihan: menjadi inspirasi atau menjadi bahan pembicaraan."
Setelah lebih dari tiga tahun berlalu, kami akhirnya kembali bertemu. Dia adalah seorang perempuan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam mewujudkan asa. Pelukan yang kami bagikan bukan hanya sekadar merapatkan tubuh, tetapi juga menyatukan jiwa yang lama terpisah.
Kami memilih untuk menerjemahkan rindu dalam pertemuan singkat, di sela acara buka bersama. Kebetulan, ia juga harus menjemput ayahnya yang baru pulang kerja dari luar negeri di Bandara Juanda. Meski sama-sama berasal dari Jawa Timur, jarak tetap menjadi pemisah. Laut, satu pulau besar, dan delapan jam lebih perjalanan harus ia tempuh sebelum menaiki perahu kecil menuju rumahnya di Pulau Gili. Sebuah pulau kecil yang hanya diterangi listrik dalam hitungan jam setiap harinya.
Namun, malam itu, dalam pertemuan singkat, kami berbagi lebih dari sekadar cerita. Kami mengemas pertemuan menjadi refleksi, menggali kembali ingatan, membahas mimpi yang dulu kami rajut, dan merenungkan realitas yang kini kami hadapi.
Perempuan Desa: Antara Mimpi dan Realitas
Kali ini ia melabeli dirinya dengan perempuan desa. Ia kini mengabdikan diri sebagai guru junior di sekolah yang penuh dengan senior. Perjalanan kariernya tidak mudah. Ia harus merangkap banyak tugas, mengambil alih berbagai tanggung jawab, dan sering kali berdiri di garis depan saat ada masalah. Namun, lebih dari sekadar beban pekerjaan, ada hal lain yang lebih berat mengusik pikirannya: perbedaan cara pandang perempuan di desa dan di kota.
Di desanya, pernikahan dini masih menjadi hal yang lazim. Banyak perempuan terjebak dalam pernikahan tanpa kesiapan menjadi seorang ibu. Meskipun akses pendidikan mulai terbuka, tetap saja banyak yang menganggap perempuan sebagai calon istri dan ibu lebih dulu daripada individu yang berhak bermimpi dan berpendidikan tinggi.
Ironisnya, ketika seorang perempuan desa berhasil menempuh pendidikan tinggi, ia justru dihadapkan pada penghakiman sosial yang tak kalah menyakitkan. Pertanyaan seperti "Kapan menikah?", "Suamimu pekerjaannya apa?", hingga "Rumah dan mobilnya di mana?" seolah menjadi ujian baru bagi perempuan yang ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Seakan-akan, gelar akademik hanya menjadi hiasan di ruang tamu, bukan bekal untuk memperjuangkan masa depan.
Perempuan Kota: Kebebasan yang Semu
Lain di desa, lain pula di kota. Di kota, perempuan memang memiliki lebih banyak kebebasan. Tidak ada batasan yang mengikatnya pada tradisi seketat di desa. Namun, kebebasan ini sering kali bersifat semu.
Perempuan yang bekerja di kota harus tunduk pada aturan perusahaan. Tidak lagi terikat oleh orang tua atau suami, tetapi oleh kontrak kerja dan target. Di balik itu, mereka tetap menghadapi ekspektasi yang tidak jauh berbeda. Masyarakat masih memandang perempuan sebagai sosok yang harus bisa menyeimbangkan karier dan peran domestik. Di kota, perempuan memang bisa lebih bebas memilih jalannya, tetapi tetap berada dalam sistem yang tidak sepenuhnya berpihak pada mereka.
Perempuan dan Persimpangan Jalan
Di antara desa dan kota, ada persimpangan yang harus dihadapi oleh perempuan. Ketika perempuan desa ingin meraih mimpi, ia harus berjuang melawan tradisi. Ketika perempuan kota mencoba mandiri, ia harus menghadapi sistem yang sering kali tak memberi ruang untuk keberpihakan.
Perempuan di desa dan kota sama-sama menghadapi tantangan. Hanya bentuknya yang berbeda. Namun, satu hal yang pasti bahwa mereka berhak untuk bermimpi, berjuang, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
Seperti kata R.A. Kartini: "Saat kita berani bermimpi, kita harus berani berjuang. Sebab, dunia tidak akan berubah dengan sendirinya."
Pertemuan singkat malam itu menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan tidaklah mudah. Namun, selama ada suara yang terus bersuara dan langkah yang terus melangkah, perubahan bukanlah hal yang sulit didamba.