Tragedi kehilangan bahan makanan membuatku semakin menginginkan punya kebun sayuran sendiri. Walaupun yang hilang adalah daging namun impianku punya peternakan masih jauh sekali, bisa jadi masih di urutan 10 keatas lebih pantas disebut impian jangka panjang. Seperti harvest moon punya kebun mapan dulu baru merambah mengurus ternak.
Menginjak usia kepala tiga impianku rasanya makin realistis. Keinginan-keinginan dulu tampaknya sudah tidak relevan. Keseharian ku sekarang membuatku menginginkan hal yang lebih sederhana yang membuatku senang, kata Marie Kondo “Does this spark joy? If it does, keep it. If not, dispose of it.”
Sesekali saat memasak entah kenapa ada saja bahan yang lenyap entah lupa dibeli atau merasa masih ada di rumah sehingga tidak membeli. Kalau sudah seperti itu kan jadi buang-buang waktu. Dua kali perjalanan untuk membeli bahan yang terlupa. Ah aku sebal kalau persiapan masakku terganggu. Keseringan melihat video pembuat konten yang bertema berkebun membuatku keinginanku punya kebun sendiri semakin tinggi.
Pelan-pelan aku mulai menanam tanaman krusial nomor satu yang sering terlewat, daun jeruk. Karena sudah punya pohon jeruk purut aku tidak pernah lagi membeli daun jeruk, rupanya aku mengeksploitasi pohon itu sehingga frekuensi antara memetik dengan bertumbuh tunas baru tidak seimbang lambat laun pohon itu menjadi setengah botak berujung daun-daun barunya hanya tumbuh 1 helai bukan 2 seperti angka 8 artinya daun yang dihasilkan sudah tidak dapat digunakan untuk memasak karena rasanya pahit dan tidak wangi. Maafkan aku pohon jeruk purut. Saat ini aku punya 3 pohon jeruk purut, 1 si senior yang hanya menghasilkan jeruk untuk pelengkap sambal dadak dan 2 si junior yang daunnya masih sesuai jalur, beli 2 agar bergantian diambil daunnya. Kalau tidak kejadian si senior akan terulang.
Masih dari teman-teman seperjerukan aku juga menanam jeruk nipis, jeruk lemon dan lemon cui. Ribet amat punya macam-macam jeruk? Hahahaha untukku yang setengah pemilih semua macam jeruk punya jasanya tersendiri untuk berbagai masakan. Tolong jangan protes, terima kasih.
Tidak ketinggalan aku punya pohon cabai. Ada cabai keriting dan cabai rawit. Bukan sembarang pohon cabai karena ku semai sendiri dari biji, bijinya cabai hasil panen di kampungku jadi rasanya sama. Ku sayangi mereka seperti anak sendiri, dengan cinta dan kasih mereka sering berbuah menyelamatkan aku dari harga cabai yang saat ini sedang melambung.
Punya anak yang suka makanan kuah apalagi kalau bukan daun bawang dan seledri. Manusia hemat ini akan menyisakan 5cm batang dari akar untuk ditanam kembali sehingga saat hilang ingatan aku tinggal lari ke belakang rumah untuk memotong beberapa lembar daun. Menghemat sekaligus keberlanjutan kenapa tidak.
Ah lalu aku punya daun pandan, meski tampak tidak penting untuk membuat makanan manis khas Indonesia tentu saja butuh daun pandan tetapi masak spontan sore hari begitu warung sudah tutup sulit mencarinya untuk melengkapi membuat jajanan sore. Nah ternyata daun pandan yang terkena sinar matahari pagi akan mudah tumbuh besar. Benar benar besar, rimbun seperti semak-semak. Supaya tidak makan tempat akhirnya banyak dipangkas kemudian keesokannya habis diambil tetangga hahaha.
Tahun ini aku sudah berhasil menggeser-geser pot tanaman hias yang pemiliknya sudah tiada mati berperang melawan hama. Kali ini aku ingin menanam daun kemangi, lalapan yang paling kusuka. Sulitnya di Bandung ini daun kemangi besar-besar dan rasanya kurang tajam, berbeda dengan kemangi yang ada di Jakarta dan Jawa daunnya kecil dan pedas. Sepertinya aku harus mencari bibit kemangi secara online. Belum lagi menanam tomat dan terong wah mantap, lalapanku semakin lengkap.
Tak terasa porsi tanaman sayurku sudah menyaingi lapak tanaman hias. Begitulah cita-cita tidak dapat disulap secepat membuat candi prambanan, perlahan dengan memegang tujuan impian yang abstrak tadi mulai menampakkan wujudnya. Perihal menanam sayuran lain sepertinya perlu mengorbankan lapak tanaman hias untuk mewujudkannya. Sayang sih namun bukannya menggapai cita-cita perlu mengorbankan hal lain yang kita suka? Menurutku premis barusan itu adalah versi ambisiusnya. Untukku yang sekarang kita kerjakan saja perlahan tanpa harus mengorbankan hal lain yang kita suka. Bukan begitu?