Saya keluar dari Senior Center dengan menggendong tas berenang. Pagi ini memang saya pergi berenang sebelum kemudian berangkat kerja. Senior center terlihat lengang ketika saya menunggu Nina yang masih bersiap-siap, sambil menunggu saya membuat coffee latte di mesin kopi yang tersedia di situ dan duduk merenung sambil menunggu.
Ketika di luar, langit sudah mulai terang, di perbukitan terlihat warna oranye yang indah, sebagian dipantulkan oleh salju yang masih bertebaran di mana-mana. Udara memang masih sangat dingin, dari hidung atau ketika saya membuka mulut akan langsung keluar uap putih. Seperti lokomotif hahaha..
Lalu saya berpikir, pagi ini sangat indah dan saya merasa bahagia seolah-olah sedang liburan! Ya, kenapa saya tidak mengganggap setiap hari sebagai bentuk liburan? Toh banyak sekali yang bisa dinikmati, keindahan alam, keramah-tamahan orang-orang yang berpapasan dan saling mengucapkan selamat pagi, nikmatnya kopi susu gratis dari mesin kopi di Senior Center, tubuh yang segar sesudah berenang di pagi hari. Semuanya sangat sempurna! Saya bisa menganggap ini seperti liburan! Tidak ada bedanya seperti ketika saya berlari pagi di Waikiki sambil menikmati kanal buatan yang bernama Ala Wai, kemudian berbelok ke jalan Kalākaua, nama jalan di Waikiki yang diambil dari nama raja terakhir di Hawaii. Hampir tidak ada bedanya! Hanya saja saya berada di 2 tempat yang berbeda. Satu di pesisir samudra Pasifik yang biru dengan debur ombak yang dapat menghipnotis diri saya dibarengi dengan suara burung camar, atau di sini di daerah pegunungan yang berjejer dari New Mexico hingga Canada dengan puncak yang diselimuti salju dan udara minus sekian derajat celcius. Semuanya hanya ada di persepsi.
Memang benar bahwa hari ini saya harus pergi bekerja, tapi bekerja hanyalah sebuah kegiatan, sama saja dengan belanja, memasak, mencuci pakaian, atau berenang di laut dan kolam renang, membaca di pantai sambil berjemur, itu semua adalah bentuk dari kegiatan, berbagai bentuk aktifitas! Ya, itu semua jadi berbeda jika kita mengotak-kotakan persepsi. Daripada harus pusing, ya persepsinya diubah. Setiap hari adalah liburan, karena hidup kita di dunia ini juga hanya sementara, hanya merupakan sebuah perhentian sebelum kita melanjutkan ke tahap yang lain, entah apa itu, yang jelas kita tidak selamanya akan di sini dan begini.
Manusia percaya akan bentuk kehidupan yang lain. Ada istilah reinkarnasi, itu diambil dari bahasa Latin yang artinya take on the flesh again. Dalam agama Hindu juga mengenal reinkarnasi sebagai kepercayaan filosofis dimana sesudah kematian biologis, manusia lahir kembali dengan tubuh yang baru, bisa menjadi manusia lain, binatang atau roh sebagai bentuk proses siklus alam yang diatur oleh karma yang kalau tidak salah disebut samsara.
Dalam konsep agama Budha lain lagi, karena tidak mengenal konsep roh, jiwa atau spirit yang eternal. Yang ada hanya “stream of consciousness” yang menghubungan hidup dengan kehidupan melalui proses yang disebut dengan punarbhava (dari bahasa Sansekerta) atau or punabbhava ( dari bahasa Pāli), yang secara harafiah artinya "menjadi kembali" atau dipendekkan menjadi bhava, yang artinya menjadi atau “becoming.”
Pendeknya semua agama mengenal kehidupan yang akan datang! Kehidupan saat ini akan pindah ke kehidupan yang lain sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Dalam agama Kristen atau Islam juga begitu, kita mempercayai Surga, sebuah konsep dari perhentian lain sesudah kehidupan ini. Jadi kehidupan saat ini adalah sebuah perhentian menuju perhentian lain sebagai bentuk perjalanan yang panjang. Apakah pasti begitu? walahualam, belum ada orang yang dapat mengkonfirmasi dan mengatakan sudah beberapa kali hidup dengan bentuk dan rupa berbeda, kalaupun ada yang berkata demikian belum tentu ada yang mempercayainya. Karena dalam hal ini ucapan manusia sangat besar diragukan daripada mempercayai konsep yang diajarkan oleh agama.
Saya tidak ingin berdebat soal ajaran agama. Silahkan saja, setiap orang mempunyai keyakinan yang berbeda-beda. Saya hanya ingin bicara persepsi. Tidak ada orang yang membenci liburan. Semua orang menikmati liburan, semua orang senang jika pergi berlibur. Orang Bandung pergi ke Jakarta atau ke Bali atau ke luar negeri. Kegiatannya apa? melihat-lihat, mencoba makanan, belanja dan sebagainya. Saya tinggal di Bandung yang jadi tempat liburan orang Jakarta, tapi kenapa orang Bandung tidak berpikir sedang berlibur di Bandung? Nah itu khan persepsi!
"Tapi khan di Bandung saya bekerja, mencari nafkah!" Ada yang mendebat demikian. Sekali lagi, bekerja itu salah satu bentuk aktifitas, seperti makan, nonton atau tidur. Orang yang berlibur juga melakukan aktifitas. Sama saja! Sama seperti hari Senin dan hari minggu, isinya juga aktifitas. Aktifitas itu netral, yang menjadikan itu menyenangkan atau tidak itu adalah persepsi. Kalau "bekerja" ditambah dengan rasa nikmat, sama saja dengan nonton bioskop. Nonton dan bekerja adalah 2 bentuk aktifitas. Tinggal ditambah kata "senang" maka rasanya akan jadi beda. Kita tambahkan kata "senang" pada semua aktifitas maka kita akan berlibur sepanjang hayat!
Nah itu ocehan ngawur saya hari ini! Hahahaha.***