Memilih topik hari ini tidak sulit, karena ini momen istimewa buat Semi Palar - juga buat saya pribadi, kemarin kita semua melalui proses satu tahun kita menulis bersama di Ririungan ini. Dari catatan terakhir, ada 61 penulis AES. Baru sebagian kecil dari kita warga Semi Palar - yang memberanikan diri mencoba menulis hingga sebagian kecil lagi yang menjajal komitmen diri untuk membuat satu tulisan pendek setiap hari - hingga melampaui waktu satu tahun.
Termasuk saya sendiri yang hari ini mencatatkan esai nomor 365 - tapi belum genap 365 esai karena saya sempat tertinggal sekitar enam esai - dan belum tuntas mengejar ketertinggalannya. Sampai hari ini esai saya yang ke 345, 346 dan 347 masih harus saya genapi. Tulisan saya hari ini adalah proses refleksi saya untuk proses menulis saya setahun terakhir ini.
Setahun menulis bersama di Ririungan - saya menyaksikan AES ini berkembang dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Perspektif saya juga berubah, tulisan-tulisan pendek ini bukan sekedar tulisan biasa. Apa yang sudah terkumpul di Ririungan ini sesuatu yang luar biasa. Saya membahasakannya sebagai Narasi Kehidupan. Untuk bisa sampai ke kesimpulan ini, satu-satunya cara ya dengan membaca tulisan-tulisan pendek ini. Kepingan-kepingan pengalaman, pemaknaan, penghayatan, pemikiran dan perasaan bahkan angan-angan dan harapan para penulisnya.
Saya ingin mengelaborasi kata kunci di atas ini : Narasi Kehidupan. Kalau saya bisa, saya yakin semua warga Smipa bisa. Karena saya yakin menulis Atomic Essay bukan sesuatu yang sulit. Kita semua bisa menulis, kita semua pernah menulis, sejak SD kita belajar menulis dan diminta mengarang oleh para guru. Di universitas kita sudah menyusun skripsi dan lainnya. 250 kata tulisan pendek hanya sekitar 3-4 paragraf. Walaupun tentunya berbeda dengan apa yang kita lakukan lewat hal-hal instan melalui medsos... Ini sekilas tentang menuliskan Narasi.
Mengenai Kehidupan, menulis adalah salah satu cara kita bisa Merayakan Kehidupan. Saya pernah menulis tentang ini juga. Bagaimana kita mensyukuri anugerah kehidupan yang boleh kita alami setiap hari. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa setiap hari kita punya pengalaman kehidupan yang bisa dibagikan kepada orang lain. Siapapun dia. Pengalaman kehidupan kita setiap hari pasti berbeda bagi setiap individu dan berharga, memiliki makna yang berbeda bagi setiap individu.
Setelah satu tahun menulis saya punya ruang untuk merefleksikan apa yang saya lalui hari demi hari. Ini luar biasa buat saya - seperti menghadiahi diri dengan kado luar biasa - kisah perjalanan yang sudah dilalui satu tahun.
Seperti Aki Muhidin bilang Bisa can Tangtu Tuman. Membangun Tuman (kebiasaan) saya akui tidak mudah perlu pemahaman utuh (ngarti) juga. Karena kalau pemahaman kita tidak utuh, motivasi kita tidak cukup besar untuk mendorong diri konsisten dan disiplin melakukannya. Alasan terbesar untuk tidak melakukan ini kebanyakan soal waktu. Kalau kita yakin refleksi diri ini penting seperti halnya mandi atau sikat gigi, kita tentu akan meluangkan waktu untuk melakukannya setiap hari. Sesederhana itu.
Buat para penulis AES, saya punya harapan besar banyak yang mau mencoba mendapatkan pengalaman ini. Menulis rutin adalah bagian penting dari pengenalan diri dan pengelolaan diri - sejalan dengan Menemukan Bintangku Sendiri, jargon yang kita usung bersama di Semi Palar. Kalau kita bisa mengenal dan mengelola diri dengan baik, kita punya peluang besar untuk Semi Palar, Tumbuh Menjadi Harapan. Salam.
Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/brown-cafe-caffeine-close-up-414565/
duh punten tadi belum tuntas tulisannya. 🙏🏼
Selamat, Kak Andy, untuk esai yang ke 365. 🍻