Seingat saya ada beberapa buku yang pernah saya baca, yang berkisah tentang waktu. Yap, waktu... Buku yang satu adalah Momo karya Michael Ende, buku itu saya baca sudah cukup lama - sekitar tahun 2008 - di tahun-tahun awal Semi Palar. Buku kedua adalah The Time Keeper - karya Mitch Albom, saya baca sekitar 4-5 tahun yang lalu. Hmm saat menuliskan ini saya spontan mengingat-ingat kapan saya membaca buku-buku itu. Waktu saya memulai menulis ini, mata saya juga otomatis melirik ke jam - memastikan jam berapa waktu saat ini. Sudah lewat dari jam sebelas - sayapun mulai mengetik esai ini sebelum jarum jam memindahkan hari ini ke hari esok.
Manusia memang terperangkap dalam penjara waktu. Sepertinya hal ini satu-satunya penjara di manusia tidak bisa meloloskan diri. Semua orang hanya punya 24 jam, dia hanya punya sekian tahun waktu hidupnya. Rico pernah menulis esai menarik tentang ini yang judulnya 5200 Weeks.
Mitch Albom dalam bukunya menceritakan bagaimana otak manusialah yang akhirnya memerangkap dirinya dalam waktu. Bagaimana mulainya? Pada saat manusia mulai menghitung waktu... Menarik ya bagaimana intelektualitas manusia justru memerangkap kehidupannya sendiri. Saat ini, di dalam kehidupan modern ini, kita tidak bisa lepas dari waktu. Di pergelangan tangan ada penunjuk waktu, di dinding tergantung jam dinding, di kota-kota besar jam dengan lonceng besar berdentang mengingatkan warga kota tentang waktu...
Tapi sebetulnya manusia bisa seperti melepaskan diri dari penjara waktu. Saya sendiri pernah merasakan itu, saat saya tinggal beberapa malam di Bumi Langit Institute - di tempatnya pak Iskandar di Imogiri. Hal yang sama diungkapkan Rico saat kami sedang berada di desa Kandangan, Temanggung. Kesamaannya? Kami sedang berada di tempat yang tenang, di desa, jauh dari kesibukan dan ritme dan detak kehidupan kota besar.
Hari ini muncul di youtube saya satu judul filem menarik dari kanal YouTube favorit saya: Sustainable Human. Filemnya saya simpan di sini juga supaya teman-teman bisa ikut mencermatinya. Dari filem itu mudah-mudahan kita bisa cukup paham kenapa waktu memerangkap kita dan bagaimana kita bisa melepaskan diri dari perangkap itu, kalau kita cukup memahaminya. Filem ini sendiri berjudul A New Paradigm of Time.
Sejauh saya pahami, persepsi kita tentang waktu adalah sangat psikologis. Hal ini yang menjelaskan kenapa manusia bisa merasakan ada saat-saat waktu bergulir sangat cepat, sebaliknya ada waktu-waktu di mana segala sesuatu terasa melambat... Kabar baiknya, kita tidak sepenuhnya terperangkap, walaupun waktu hidup kita memang terbatas, kita punya peluang untuk 'mengendalikan' bagaimana waktu bergulir dalam hidup kita.