Manusia adalah bagian dari alam, karena hidup dan kehidupannya tak bisa dilepaskan dari alam. Manusia butuh air, udara dan tanah yang sehat supaya makanan dan segala kebutuhannya bisa didapatkan dari interaksi dan dinamika di antara seluruh elemen pembentuk alam semesta sebagai sebuah kesatuan.
Tapi manusia dengan segala keunikannya, termasuk akibat proses evolusi yang membentuk struktur otak manusia, peradaban berkembang dengan segala dinamikanya sampai hari ini. Hari ini manusia dan peradabannya juga semakin canggih membangun kotak-kotak, berbagai bentuk pembatas yang diciptakan manusia, dengan berbagai latar belakang, proses sejarah, alasan dan pertimbangannya. Kotak-kotak ini ada banyak, suku, agama, bangsa, kelas ekonomi, pilihan politik dan lain sebagainya.
Masalah lingkungan yang sekarang terjadi sudah sangat besar, karena manusia melepaskan diri dari koneksinya yang hakiki dengan alam. Memperparah apa yang terjadi di mana manusia juga memisah dirinya satu sama lain sebagai umat manusia. Sejak beberapa waktu yang lalu, Reza, Bea dan teman-teman dari Plastafvall Solutions - yang sudah berkolaborasi cukup lama dengan Semi Palar menggulirkan studi yang menarik - menelaah soal kepedulian lingkungan dari perspektif keberagaman. Kita tahu di Indonesia - setidaknya dikenal 5 agama dan sebetulnya Indonesia sebelum masuknya agama-agama besar masyarakat tradisinya banyak sekali mengenal berbagai aliran kepercayaan sebagai cara mereka membangun relasi dengan semesta yang lebih besar dan sakral di luar diri dan masyarakatnya.