AES754 Lagi, Mengapa Menulis?
Andy Sutioso
Monday February 10 2025, 8:27 PM
AES754 Lagi, Mengapa Menulis?

Dalam rangka Festival Literasi 2025, kembali saya menulis soal ini. Sudah sering saya menulis soal ini. Mudah-mudahan tidak bosan. Saya sendiri tidak pernah bosan karena beberapa keyakinan saya soal menulis. Keyakinan ini bukan hanya hadir karena sekedar nyaho bahwa menulis itu penting, tapi juga dari pengalaman bersama teman-teman penulis AES yang sudah menjadi sahabat perjalanan saya selama ini. Jadi tulisan ini semacam sebuah apresiasi buat teman-teman penulis AES karena berbagai hal yang bisa saya baca, amati dan kenali dari proses teman-teman semua di ruang penulisan ini. Jejaknya jelas, saat saya menuliskan esai ini, ada enam ribu tujuh-ratusan esai yang apabila dihitung, menelurkan satu juta enam ratus tujuh puluh lima ribu kata yang dirangkai menjadi berbagai narasi. Narasi yang bukan sembarangan, saya istilahkan sebagai narasi kehidupan. 

Bahasa adalah salah satu kemampuan manusia yang membuat manusia mengungguli spesies lainnya. Bahasa (language) begitu istimewanya karena melalui bahasa, peradaban manusia dibangun sampai saat ini. Betul makhluk lain juga punya kemampuan berkomunikasi. Primata (monyet) hingga ikan paus atau dolphin bahkan serangga sekalipun bisa berkomunikasi satu sama lain, tapi tidak dalam level yang bisa dilakukan sesama manusia. Di luar kemampuan berkomunikasi, manusia punya kemampuan membangun narasi kolektif. Hal inilah yang jadi kekuatan luar biasa manusia di dalam perjalanan peradabannya sejak manusia purba tinggal di gua. Lukisan-lukisan di dinding gua menjadi bukti kekuatan bahasa tulis, karena itu jadi rekaman, jadi narasi peradaban yang diwariskan generasi ke generasi dan terus dielaborasi sampai ke jaman sekarang. 

pexelstoshihikotanaka32352604313735336.jpg

Photo by toshihiko tanaka: https://www.pexels.com/photo/a-wall-painting-at-lascaux-cave-13735336/

Gagasan dan pemikiran manusia kemudian ditorehkan di atas lempengan batu agar bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Di Indonesia juga ditemukan relik-relik semacam itu, salah satunya prasasti Batu Tulis di Bogor. 

Di era berikutnya, manusia mengandalkan lembaran kulit dan daun sebelum menciptakan kertas. Berbagai naskah penting dan manuskrip dituliskan di atas gulungan kertas atau scrolls kemudian mulai dijilid hingga berbentuk buku. Di Indonesia, lembaran-lembaran daun lontar digunakan untuk merekam tulisan-tulisan penting - yang sampai sekarang bisa dilihat di berbagai museum sejarah. 

pexelsmaxmishin11882036.jpg

Photo by Max Mishin: https://www.pexels.com/photo/brown-book-on-wooden-table-11882036/

Revolusi peradaban terutama di bidang agama dan keilmuan segera meledak sejak diciptakannya mesin cetak oleh Johann Guttenberg di Jerman pada tahun 1450-an. Sejak itulah buku-buku penting bisa secara masif menduplikasikan catatan sejarah, teori-teori berbagai bidang bahkan naskah-naskah yang karena kesakralannya disebut sebagai kitab suci. Peradaban manusia dibangun di atas narasi dan tulisan-tulisan tersebut - sampai hari ini. Deklarasi kemerdekaan, undang-undang, adalah bahasa tulis manusia di atas mana sebuah negara dan bangsa dibangun. Di ranah pendidikan kurikulum dituliskan untuk melandasi berbagai proses yang akan dilaksanakan untuk mendidik para muridnya. Perjanjian dagang dan kerja sama dituliskan melalui bahasa hukum yang mengikat manusia satu sama lain. Sedemikian pentingnya bahasa tulis bagi manusia. 

pexelstomfisk12258147.jpg

Photo by Tom Fisk: https://www.pexels.com/photo/a-text-on-a-wall-12258147/

Chat-GPT yang sekarang ini banyak digunakan adalah juga sebuah perangkat intelijen berbasis pemodelan bahasa (language modelling). Intelegensi artifisial ini juga mengambil ranah terstrategis manusia - dalam hal ini bahasa - yang kemudian berpotensi mengintervensi arah peradaban ke depan. 

Singkat kata, tulisan ini lagi menggaris bawahi sedemikian pentingnya bahasa - dalam hal ini bahasa tulis untuk perkembangan peradaban manusia. Kesimpulan sederhananya, kalau anak-anak kita harapkan berperan dalam membangun peradaban yang lebih baik ke depan, kemampuan mereka dalam menulis jadi sangat-sangat penting. Kalau kita ingin mereka menjadi Semi Palar: tumbuh menjadi harapan.

Akhirnya bagi kita semua, para kakak dan orangtua pendidiknya, keterbatasan kita tidak boleh menjadi penghalang bagi proses anak-anak kita ke depan. Kesadaran ini mutlak betul kita miliki. 

Di dalam perjalanan Rumah Belajar Semi Palar menuju ke tahapan tujuh tahun ke tiga, saya pikir ini jadi mutlak - apalagi di tahun ini, kita mencoba menyelenggarakan Festival Literasi - selama seminggu penuh - menandakan bahwa apapun bentuknya, Literasi bagi anak-anak kita adalah sangat penting bahkan esensial.  

Semoga catatan kecil ini jadi salah satu kepingan untuk membantu kita paham lebih utuh - pentingnya kita semua membangun kemampuan menulis dalam diri anak-anak kita. Sebagai guru, tentunya kita perlu menjadi contoh bagi mereka. Sesederhana itu. Salam literasi, salam penulisan. 

Photo by mali maeder: https://www.pexels.com/photo/close-up-of-man-using-mobile-phone-246658/