Akhir-akhir ini terus terang saya banyak mengeluh. Selalu ada saja yang salah di mata saya. Misalnya orang yang tidak berhenti di perempatan ketika ada tanda stop, atau orang tidak berhenti dan terus bersepeda walau ada tanda untuk menuntun, lalu mahasiswa yang terus sibuk dengan HPnya ketika menyeberang walau banyak kendaraan yang hilir mudik, makanan yang kurang bumbu, orang yang tidak antri, oh pokoknya mudah sekali menemukan kesalahan-kesalahan pada banyak orang. Bukankan memang kita cenderung melihat kesalahan daripada kebaikan?
Mengeluh dan ngomel karena situasi yang diluar harapan kita akhirnya membuat kita lelah. Semakin banyak dan bertumpuk semua keluhan itu, sadar atau tidak akan mempengaruhi kondisi emosional kita sendiri. Mungkin teman-teman mengalami ini, dan saya sependapat bahwa sama sekali tidak menyenangkan dan membuat pandangan kita menjadi keruh. Tapi sebetulnya apakah kondisi yang kita hadapi itu benar-benar seburuk itu? Sekali lagi, harus selalu diingat bahwa manusia memang cenderung memperhatikan lebih banyak pada hal-hal yang negatif daripada yang positif karena memang otak kita sengaja melakukan itu untuk menjaga diri kita agar tetap aman. Dengan lebih memfokuskan diri pada hal negatif, kita akan lebih berhati-hati akan berbagai bahaya yang mungkin akan terjadi. Ya, semacam self defense mechanism. Begitu kurang lebih. Nah, kembali ke pertanyaan saya, apakah benar bahwa kondisi yang kita hadapi itu sedemikian buruknya? Ini harus benar-benar kita cermati dalam menjawab pertanyaan itu.
Tadi pagi di salah satu media sosial saya sempat membaca sebuah unggahan. Tulisan sangat pendek tentang Bob Marley, seorang pelopor musik reggae yang pernah hampir kehilangan nyawanya ketika ada usaha pembunuhan yang konon disinyalir karena ada motif politik. Dalam unggahan tadi pagi, Bob Marley ditanya jika ada wanita yang sempurna di dunia ini. Bob menjawab: Siapa peduli akan kesempurnaan? Bahkan Bulan yang indah pun tidak sempurna, memiliki banyak kawah. Samudra sangat indah tapi asin dan gelap di dalamnya. Angkasa tidak berujung tapi sering tertutup awan. Jadi segala sesuatu yang indah itu tidak sempurna, tapi sangat istilewa. Oleh sebab itu seorang wanita dapat menjadi begitu spesial untuk orang tertentu. Jadi berhentilah berusaha menjadi sempurna, tapi usahakan agar tetap bebas dan penuh dengan kehidupan, melakukan segala sesuatu yang kamu cintai dan bukannya berusaha membuat orang lain terkesan pada dirimu.
Wah, kata saya dalam hati. Bukan main ungkapan yang diucapkan oleh Bob Marley ini. Banyak sekali orang yang berusaha dengan berbagai cara menjadi sempurna, alih-alih menjadi sempurna, akhirnya malah terlihat konyol dan jauh dari sempurna. Pernah lihat orang-orang yang ketagihan operasi plastik? Nah itu salah satu contoh orang yang tidak puas akan penampilan dirinya lalu berusaha mengubah dirinya yang mungkin menurutnya akan menjadi sempurna. Apakah akhirnya demikian?
Satu lagi yang membuat saya berubah pikiran dan dapat mempelajari pengalaman keseharian disamping apa yang dikatakan oleh Bob Marley, yaitu konsep orang-orang Jepang yakni konsep Wabi-Sabi. Konsep ini mengajak kita untuk mengapresiasi dan mendorong kita untuk mengerti bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna. Ketika kita melihat piring yang retak atau ada bagian dari jaket kita yang sedikit sobek bahkan kehilangan orang yang paling berarti dalam hidup kita, itu semua dapat memberikan pelajaran dan mengajak kita untuk menghadapi segala bentuk tantangan dan menemukan kekuatan serta keindahan dalam proses healing, proses penyembuhan dan perbaikan. Seperti misalnya Seni Kintsugi, konsep yang diutamakan adalah sesuatu yang rusak dapat lebih bagus serta lebih indah daripada yang baru.
Saya memang harus lebih mendalami lagi konsep Wabi-sugi maupun seni Kintsugi ini, tapi ada hal yang saya peroleh darinya walau hanya membaca sekilas bahwa kita harus bisa menerima ketidaksempurnaan sebagai suatu keindahan tersendiri, bahwa garis yang tidak lurus itu bisa terlihat indah, bahwa pohon yang kerdil serta bengkok-bengkok ternyata dapat menjadi sebuah bonsai yang harganya melebihi pohon yang normal. Ya, keindahan itu ada dimana-mana, ketidaksempurnaan itu hanyalah persepsi.
Foto credit: linkedin.com