Kemarin berita duka masuk ke hape saya. Kepergian seorang guru, kepala sekolah saya sewaktu di SMP dulu. Pak Sutardi namanya. Salah seorang guru yang membawa kesan sangat mendalam bagi saya. Kalau dipikirkan lagi beliau yang membuka kesukaan saya terhadap dunia keseni-rupaan. Karena beliau memang mengajar kami Seni Rupa.ย
Saya ga ingat persis apa, tapi ada pengalaman yang saya ingat betul bahwa beliau sempat mengapresiasi secara khusus apa yang saya buat di kelas. Saya ingat perasaan saya saat itu senang dan bangga. Mungkin karena itu juga saya kemudian memilih jurusan arsitektur sewaktu saya kuliah, karena saya merasa saya punya kompetensi tersendiri dalam bidang ini. Terima kasih pak Sutardi ๐๐ผ.
Saya juga kenal cukup dekat dengan putranya, Sidharta. Dulu hal ini jadi kebanggaan karena kenal dengan kakak angkatan - setidaknya bagi saya waktu itu - jadi sesuatu yang spesial. Merasa lebih keren gitu... Bersama Sidharta juga saya jadi pengurus Perpustakaan. Dan karenanya saya jadi punya alasan untuk tinggal di sekolah lebih lama - bahkan menginap di sekolah untuk mengelola dan membereskan perpustakaan. Ini juga membuat saya merasa bangga karena punya kesibukan lain di luar mengikuti pelajaran di sekolah sehari-hari.ย
Setelah lulus SMP, karena beliau satu paroki dengan keluarga kami di paroki St. Laurentius, kami kerap berjumpa dengan beliau. Tidak jarang ayah dan ibu kami mengajak pak Sutardi ikut pulang karena perjalanan pulang pasti melewati tempat tinggal pak Sutardi di sekitar perempatan Geger Kalong Hilir. Dalam perjalanan tentunya kami banyak berbincang dan dari situ kami menjadi lebih dekat.
Di tahun 2015, di luar dugaan, ibu saya mengajak pak Sutardi hadir ke Semi Palar - dalam kesempatan Gelaran Karya di akhir tahun. Saya sendiri tidak menduga - tapi saya luar biasa senang, pak Sutardi yang dulu jadi kepala sekolah saya di SMP, hadir di Semi Palar. Beliau penyuka sejarah dan kebudayaan. Saya merasa terharu sekaligus bangga sewaktu pak Sutardi mengamati karya-karya yang dihasilkan teman-teman kelas 8 di jenjang SMP. Kak Danti yang juga murid beliau menjelaskan juga apa yang dibuat teman-teman K-8, kelompok Andaliman. Bagi saya dan tentunya juga kak Danti, ini jadi momen yang istimewa.ย
Di sekitar momen itu saya pernah juga mampir ke rumah beliau sekedar menyapa. Dengan bangga beliau bercerita dan menunjukkan koleksi filateli dan numismatiknya - plus benda-benda lain yang punya nilai sejarah dan budaya. Rumah beliau yang tidak besar itu nyaris seperti museum. Nyata betul beliau mencintai kegiatannya itu. Nyaris setiap benda koleksinya beliau tahu seluk-beluknya. Sayangnya saya tidak menyimpan foto saat menjumpai beliau.ย
Saat kemarin saya pergi ke rumah Duka, saya berusaha mencari foto beliau saat kunjungan ke Semi Palar - yang saya masih ingat tersimpan di antara ribuan foto yang ada di hape saya. Dan saya senang berhasil menemukannya. Peristiwa hampir 10 tahun yang lalu.ย
Kalau bicara penyesalan, saya menyesal tidak menyempatkan lagi untuk menyapa atau berjumpa pak Tardi lagi - sebelum beliau meninggal. Pembenarannya tentu sangat banyak, karena berbagai kesibukan saya selama ini. Apapun itu, sama sekali tidak mengurangi rasa terima kasih dan penghormatan saya kepada beliau atas segala yang boleh saya dapatkan dari beliau - apapun bentuknya. Seperti selama ini, pak Tardi akan juga terus hidup dalam kenangan dan batin saya atas berbagai kebaikan yang boleh saya dapatkan dari beliau.
Selamat jalan pak Sutardi, selamat beristirahat di alam keabadian. Sampai kita berjumpa lagi kelak๐๐ผ๐๐ผ๐๐ผ.ย
Photo by Aidan Nguyen: https://www.pexels.com/photo/white-rose-3639000/