Memilih diksi atau istilah dalam berbagai aktivitas komunitas - juga untuk diri kita sebagai individu punya signifikansinya masing-masing. Buat warga Semi Palar hal ini sudah jadi bagian dari kultur kita. Pemilihan kata seperti Rumah Belajar, panggilan kakak buat para guru, istilah Tantangan untuk menggantikan PR, dan lainnya sudah menjadi keseharian. Bukan sekedar unik atau supaya beda, tapi kita yakini bahwa kata-kata punya enerjinya sendiri. Soal ini juga sudah menjadi topik berbagai esai yang dituliskan di Ririungan ini.
Kemarin siang di ruang Co-Op muncul bahasan tentang SHU (Sisa Hasil Usaha). Istilah ini umum dikenal di koperasi. Tapi saya pikir ini salah besar. Tidak heran kalau banyak koperasi tidak berkembang. Hasil Usaha yang dibagikan kepada para anggota sebetulnya jadi tujuan utama berdirinya sebuah koperasi. Bahwa usaha yang dimiliki dan usahanya dikerjakan bersama para anggota menghasilkan sesuatu yang jadi hak bagi setiap anggota. Lalu apa menariknya kalau yang dibagikan itu hanya sisa? Saya pikir ini sangat melemahkan spirit koperasi yang terutama.
Jadi ya begitulah, seperti halnya di Rumah Belajar, kita perlu menggunakan istilah-istilah yang berbeda, yang lebih mencerminkan esensi dan bisa membawa makna lebih mendalam - juga semangat yang diusung di dalam pelaksanaannya sehari-hari. Mudah-mudahan kita bisa membiasakan diri untuk menggunakan kata-kata berbeda, karena saya sendiri kalau hanya dibagi hasil usaha, ya ogah ah... .
Photo by MART PRODUCTION: https://www.pexels.com/photo/food-wood-man-people-7718876/
hahaha...