AES639 Menilik Jejak Masa Lalu
Andy Sutioso
Friday March 15 2024, 8:19 PM
AES639 Menilik Jejak Masa Lalu

Tanpa banyak direncanakan, hari Minggu lalu muncul ide spontan untuk pergi ke Sumedang. Ngapain? Idenya ya berburu tahu Sumedang yang asli. Asli maksudnya tahu Sumedang yang digoreng di Sumedang dan langsung dihidangkan lalu dinikmati di Sumedang. Walaupun di Bandung banyak yang berjualan tahu Sumedang, tentunya ga seotentik yang dijual di kotanya. 

Jadilah kami meluncur ke Sumedang. Jarak tempuh Bandung-Sumedang jadi sangat singkat setelah dibukanya tol Cisumdawu. 60 menit perjalanan dan kami sudah di pintu keluar tol kota Sumedang. Mencari tahu Sumedang di kota Sumedang tentunya sangat mudah. Di mana-mana banyak yang berjualan tahu Sumedang. Mencari yang enak itu tantangannya. Dengan bantuan mbah Gugel kami memutuskan merapat ke salah satu rumah makan yang berjualan Tahu Sumedang. Tidak salah pilihan kami. 

Tidak lama datang seporsi Tahu Sumedang dengan lontong yang segera dinikmati. Masih ngebul, baru beberapa saat diangkat dari kuali besar di dapurnya. Dicocol sambal spesial yang dibubuhi kecap manis. Maknyus tenan. Teh tawar panas menemani di sampingnya. Sarapan yang spesial betul pagi kemarin.

Setelah beberapa waktu, sambil menimmati sarapan, kami mulai mencari tempat tujuan berikutnya yang bisa dieksplorasi. Tempat yang tidak jauh tapi menarik dikunjungi. Salah satu pilihannya adalah ke waduk Jatigede, butuh satu jam perjalanan. Mencari yang lebih dekat kami menemukan benteng tua peninggalan belanda, 20 menit perjalanan dari tempat kami berada. Lokasinya di Bukit Palasari.

Mendekat ke lokasi, ternyata akses jalan ke sana sedang diperbaiki oleh warga setempat. Akhirnya kami memutuskan berjalan kaki ke tujuan. Seorang warga bilang, nanjak pa, lumayan 5 kilometeran. Saya sempat berpikir wah lumayan juga - tapi mengecek di GoogleMaps saya cukup yakin jaraknya ga sejauh itu. Sebagai member Klab Jelajah Bandung, jalan kaki tentunya jadi sebuah kesukaan. Akhirnya kami mulai menelusuri jalan menuju ke lokasi. Seperti diduga, suasananya sangat menyenangkan. Jalanan aspalnya bagus, tidak besar, tapi mulus dan tidak licin walaupun saya tidak mengenakan sepatu hiking dan jalan agak basah. Tidak lama pepohonan besar menaungi perjalanan kami, suasana semakin sejuk dan teduh, walaupun begitu tidak terasa menyeramkan. Tidak banyak bertemu orang lain dalam perjalanan kami menuju ke lokasi. Setelah tanjakan yang cukup membuat berkeringat, mengikuti beberapa tikungan, akhirnya kami sampai ke tujuan. Foto di atas ini yang pertama kami lihat dan kemudian terlihat beberapa bangunan benteng yang dulu dipakai oleh pasukan Belanda saat berperang dengan pasukan lokal di daerah Sumedang yang dipimpin oleh Bupati Sumedang saat itu, Aria Soeria Atmaja di peralihan tahun 1900-an. 

Selain kami hanya ada sekelompok pramuka yang sedang berkegiatan. Kami menelusuri seluruh kompleks benteng itu, 8 bangunan besar dan kecil yang ditata berkeliling di puncak bukit Palasari. Bangunan benteng ini dibangun seperti dikamuflasekan di bawah bukit. Dari sudut-sudut tertentu tidak akan terlihat ada bangunan di sana. Suasana sepi, tapi tidak ada perasaan mencekam ataupun menyeramkan. Yang ada hanya suasana hutan di sana, suara burung dan serangga yang bersahutan. Yang menarik juga kami tidak menemukan sampah. Ini spesial... Kami berkeliling dan mengamati suasana di sana.

Dua foto yang kami tempatkan ini adalah juga sekedar teaser untuk memberikan gambaran tentang suasana di sana. 

20240310_113747.jpg

original_71e9d9c2d361427fbbf90cdc4e30263d_IMG_20240310_1140192.jpg

Saya tidak mau bercerita detail supaya tidak jadi spoiler buat teman-teman pembaca. Tulisan ini hanya jadi catatan perjalanan kami dan mudah-mudahan jadi pemantik buat warga Smipa yang kebetulan mampir ke Sumedang. Singkat kata, ini jadi pengalaman menarik dari kunjungan tak terencana kami ke kota Sumedang. Kali ini kami berkesempatan untuk menilik jejak masa lalu. Jadi pengalaman yang berkesan juga. Semoga kami berkesempatan menemukan tempat-tempat menarik lainnya. Salam.