AES399 Hospitaliti
Andy Sutioso
Saturday July 30 2022, 8:08 PM
AES399 Hospitaliti

Saya mengetik esai ini di Omah Yudhi, di lantai atas bangunan bambu yang jadi semacam ruang kumpul bagi pengunjung Omah Yudhi. Sebuah tempat menginap milik mas Yudhi yang berlokasi di area pesawahan di Desa Kandangan, Temanggung - di belakang bangunan-bangunan 'modern' yang menjajari Jalan Raya Kandangan. 

Dalam perjalanan saya ke Jawa Tengah, kami menyempatkan mampir ke Desa Kandangan, Temanggung. Besok kami  rencana mampir ke Pasar Papringan. Kami mengupayakan ini karena ini bisa jadi kesempatan baik mengenalkan pengalaman yang sangat berbeda dari Indonesia. Indonesia yang seasli-aslinya - yang bersahaja - kehidupan di pedesaan yang bisa sangat menyenangkan. Saya sempat menulis tentang ini di salah satu esai saya di Ririungan ini. Buat yang sempat membaca esai ini, semoga suatu saat bisa berkesempatan mampir ke desa Kandangan atau ke Pasar Papringan. Karena ini bukan tempat biasa - ini tempat di mana Kehidupan yang Holistik bisa dialami dan dirasakan pengalamannya secara nyata. Salah satu tempat lagi yang bisa saya sebut adalah Bumi Langit Institute di Imogiri, Jogjakarta. Ini juga tempat yang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi. 

Dalam perjalanan kali ini saya bersama keluarga berjumpa dengan sosok-sosok unik - salah satunya mas Hardi yang mengenalkan dirinya sebagai guide / pemandu. Bukan guide biasa - tapi memang seseorang yang bisa memandu kita ke tempat-tempat yang menyajikan suasana dan pengalaman yang khas di sekitar Temanggung. Bukan tempat-tempat wisata pada umumnya, tapi tempat dan komunitas yang punya keunikan - dan dengan sendirinya menyimpan nilai rekreatif. Kemarin, kami diundang untuk berkunjung ke tempat-tempat yang punya nilainya sendiri-sendiri. Melihat suasana dan keindahan alam yang masih sangat alami, kegiatan ekonomi masyarakat setempat, satu tempat menyajikan apa yang diupayakan sebagai terobosan bagi kegiatan ekonomi dan penghidupan masyarakat setempat dan upaya pertanian organik yang dikawal oleh petani muda. Mas Hendi yang walaupun bergelar sarjana memilih untuk kembali ke desanya di lereng gunung Sindoro dan bertani organik bersama masyarakat setempat. Keren... Banget! Saya sangat beruntung bisa mendapatkan pengalaman itu. 

20220730_070808_resize_39.jpg

Terkait judul di atas : Hospitaliti, biasanya masyarakat mengidentikkan kata ini dengan tempat wisata dan rekreasi. Tempat-tempat yang memanjakan pengunjung dengan berbagai fasilitas dan atraksi. Tapi menurut saya bukan itu, hospitaliti menggaris bawahi interaksi yang terjadi antara pengunjung dan yang menerima kunjungan. Masyarakat setempat. Hanya itu yang penting. Apakah tempat dan fasilitasnya sederhana - saya pikir itu ga jadi masalah. Tapi bagaimana masyarakat setempat membuka pintu ke komunitasnya beserta segala sesuatunya untuk dilihat dan dikunjungi - itulah hospitality - yang kita tahu terjemahannya adalah keramah-tamahan. Jadi wisata adalah bukan perkara tempat yang sudah dipoles atau dihias dengan gemerlap. Bukan itu... ini lagi-lagi salah kaprah. Tapi ya kalau mindsetnya hospitality adalah bisnis (usaha) ya tentu jadinya salah kaprah. 

Inilah yang jadi situasi di banyak tempat di mana pengembangan wisata dilakukan di banyak tempat. Akhirnya tempat-tempat yang unik dan punya keindahan itu akhirnya jadi rusak. Bagi para wisatawan, mereka datang, dan kemudian meninggalkan tempat itu, meninggalkan kerusakan di tempat wisata yang sudah usai dikunjunginya. Begitulah jadinya. Saya mendengar hal itu terjadi di Bunaken - yang sekarang katanya sudah ditinggalkan. Ciletuh juga begitu, saya pernah liat foto di medsos di mana tempat itu betul-betul dipenuhi sampah yang ditinggalkan para pengunjung. Sepertinya akan mudah sekali menemukan contoh-contohnya. Jadi ya begitulah, semoga ini jadi pemikiran bersama. Demikian catatan saya kali ini. Salam.