Saya ingin mengaitkan - mengoneksikan dua hal yang saat ini jadi perhatian saya. Antara Konflik (Pertentangan) dan Ko-operasi (Kerja Sama). Ada konflik mengerikan di Ukraina sana, akibat dari kompleksitas dinamika situasi politik antar negara, antar kekuatan Rusia melawan kekuatan Ukraina - yang di belakangnya berdiri juga EU dan NATO. Di sisi lain, di Semi Palar, kita sedang mengupayakan bergulirnya Koperasi Semi Palar yang dilatar-belakangi spirit kolaborasi, kerja sama untuk keuntungan bersama.
Dari perspektif berpikir holistik, konflik muncul karena pengkotak-kotakan. Karenanya kita berpikir bahwa hal-hal yang bukan kita, adalah ancaman buat kita. Sederhananya, blok Timur adalah ancaman bagi blok Barat - begitu juga sebaliknya. Saat kita bisa melihat bahwa segala sesuatu adalah terkoneksi, kita adalah satu, tentunya kita tidak akan melihat bahwa ada ancaman di luar diri kita. Terang dan kegelapan sekalipun adalah sesuatu yang bukan kontradiktif, tapi sesuatu yang komplimentari - hadir secara bersamaan. Tidak mungkin ada gelap kalau tidak ada terang dan begitu juga sebaliknya. Terang adalah ketiadaan gelap dan gfelap adalah ketiadaan cahaya. Variabelnya adalah semata soal keseimbangan. Toh alam semesta ini adalah siklus, karenanya malam berganti siang dan seterusnya... Demikianlah hukum alam.
Menurut saya ini juga soal kesadaran. Kalau kita sadar bahwa segala sesuatu terkoneksi, kita adalah bagian dari keseluruhan, tentunya kita akan memandang bahwa konflik adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Satu lagi, saya ingin mengutip kata-kata eyang Albert - yang terkait dengan kesadaran - bahwa kita tidak bisa menyelesaikan masalah menggunakan tingkat kesadaran yang sama saat permasalahan itu dimunculkan. Sederhananya, kita harus naik level dari kesadaran yang terkotak-kotak - dan menghasilkan konflik dengan kesadaran yang baru yang lebih tinggi bahwa kita adalah satu sehingga kita bisa berkolaborasi - bekerja sama, ber ko-operasi. Salam.