Dalam perbincangan kami di dalam Rapat Koordinasi Lingkung kemarin, saya bersama tim Lingkung berbincang mengenai berbagai hal. Agenda yang dibicarakan salah satunya adalah tentang Sudoku - bagaimana formasi tim Smipa di tahun mendatang, tentang proses rapotan dan lain sebagainya. Pembahasan kami lakukan per jenjang - tentang bagaimana para KJ menyiapkan dan mengkoordinasi berbagai hal agar segala sesuatu yang perlu dikerjakan bisa berjalan optimal.
Membicarakan perkembangan tim jenjang, ada ungkapan kak Robert yang menarik, kakak-kakak sekarang jauh lebih rileks. Wah saya senang sekali mendengarnya, mudah-mudahan benar demikian. Karena manusia yang rileks - bisa melaksanakan segala sesuatu dengan lebih baik, berkualitas. Sederhananya, ia punya kendali atas apa yang sedang dilakukannya. He or she is in control. Kalau seseorang tidak punya kemampuan cukup atau dirinya tidak mampu mengendalikan apa yang dikerjakannya, otomatis dia akan ada di bawah tekanan - stressfull. Tapi stress itu penting untuk mendorong seseorang untuk terus maju - kalau dia bisa mengendalikan dirinya, tekanan yang adapun akan teratasi. Kembali lagi segala sesuatu perlu berpijak pada pengelolaan diri. Bicara tentang diri - sudah sering saya tulis di sini bahwa hanya ada empat dimensi kedirian yang bisa sepenuhnya dalam kendali manusia : badan, pikiran, emosi dan enerji. Kalau kita bisa menjaga - mengelola bahwa ke empat aspek kedirian itu dalam kondisi baik: badan sehat dan bugar, pikiran jernih, emosi stabil dan enerji maksimal, tentunya segala sesuatu yang kita hadapi - apapun itu akan lebih mudah kita kendalikan. Tapi, ke empat dimensi kedirian tadi - terlebih dahulu harus ada dalam kendali kita.
Perlu jadi catatan penting bahwa being at ease (hmm, saya belum ketemu bahasa Indonesianya) - bukan berarti nyantai. Sebaliknya at ease itu memungkinkan manusia untuk bekerja dalam intensitas tinggi. Tapi segala sesuatu ada di dalam kendali kesadarannya. Ini yang keren. Jadi manusia yang bisa mengendalikan pikirannya, bisa menempatkan dirinya untuk berpikir dalam intensitas tinggi - dan menghentikannya saat dia merasa perlu menghentikannya. Jadi ini berbeda dengan apa yang disebut dengan overthinking. Overthinking justru sebaliknya, manusia tidak bisa menghentikan pikirannya - jadi individu itu ada dalam kendali pikirannya. Nah ini yang perlu disadari betul.
Solusinya bagaimana? Sederhananya ya melalui pendekatan-pendekatan meditatif, melalu diam dan hening. Belajar masuk dalam situasi being - non doing, non thinking. Kalau kita terbiasa melakukannya, badan, pikiran, emosi dan enerji akan bisa lebih mudah kita kendalikan, kita kelola. Dan kemudian selanjutnya hal-hal yang harus kita kerjakan dalam kehidupan kita - bisa kita lakukan dengan lebih mudah, at ease... Oh iya kebetulan punya foto tim lingkung yang lagi pada happy - semoga cocok jadi ilustrasi tulisan ini. Salam. 🙏🏼