Sore tadi, saya bersama kak MJ, kak Lyn dan kak Meita mengawal Rumpi Sada sesi ke 2, melanjutkan sesi pertama yang digelar di bulan Desember. Rumpi Sada adalah upaya Semi Palar untuk berbagi cerita dan pengalaman kepada rekan-rekan para pendidik yang ingin tahu lebih jauh tentang hal-hal yang pernah kami coba lakukan selama menggulirkan pembelajaran holistik. Spiritnya adalah Merdeka Belajar.
Hari ini yang hadir tidak banyak. Forum tadi hanya diikuti 10 peserta - termasuk tim Smipa. Tapi karena forumnya kecil, forum bisa jauh lebih interaktif. Para peserta bisa mendapat kesempatan untuk berbagi dan kita bisa belajar lebih banyak. Peserta yang terjauh adalah Rijal - yang mengikuti forum online tadi dari Sabah. Beliau bercerita bagaimana dia dan rekan-rekan gurunya mendampingi anak-anak di daerah perbatasan Malaysia dan Indonesia - yang membawa persoalan tersendiri. Dinamika dan interaksi sosial di sana cukup kompleks dan sekarang ini cukup banyak anak-anak di sana yang tidak jelas kewarga-negaraannya. Hal itu terjadi karena warga di sana yang menikah dan tanpa catatan kewarga-negaraan dan administrasi yang jelas. Anak-anak kemudian lahir tanpa status kewarga negaraan yang jelas. Ini jadi masalah tersendiri. Banyak anak-anak di sana yang tidak bisa mendapatkan KTP dan tentunya berdampak pada banyak hal lainnya termasuk juga pendidikan.
Satu peserta lagi, Tyo adalah pendamping anak-anak jalanan dari Rumah Belajar SAHAJA (Sahabat Anak Jalanan). Ini juga masalah tersendiri. Anak-anak yang tinggal dan besar di jalanan di sekitar Pasar Ciroyom. Tyo dan kawan-kawannya mendampingi mereka supaya ada yang mengarahkan dan membantu mereka berkembang lebih terarah. Setahu saya Sahaja ini sudah cukup lama berdiri, dan mereka - perintisnya, Fajar dan Ainun pernah mendapat penghargaan dari Kick Andy. Keren banget.
Bude Ratna juga salah satu yang hadir. Sosok yang satu ini sangat tidak asing di Semi Palar. Bude Ratna bercerita bagaimana selama pandemi beliau berusaha merancang pendekatan belajar tari - Creative Dance jarak jauh. Dan cukup berhasil. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana caranya. Tapi saya percaya Bude Ratna punya caranya sendiri.
Alhasil forum tadi sepertinya terbalik. Mestinya Semi Palar yang belajar dari mereka. Tapi memang demikianlah forum Rumpi Sada ini dimaksudkan sebagai ruang berbagi. Berbagi pengalaman, semangat dan inspirasi. Dan dalam pertemuan tadi hal itu sangat terasa. Waktu tidak terasa berjalan, dan lagi-lagi kami melewati batas waktu yang direncanakan. Memang waktu tidak pernah cukup kalau kita bicara pendidikan. Saya sangat bersyukur atas forum dan pengalaman tadi. Semoga teman-teman yang hadir juga merasakan hal yang sama. Semoga tetap semangat menjalankan peran di ruang masing-masing. Sampai jumpa lagi di pertemuan minggu depan.
Photo by Miguel Á. Padriñán: https://www.pexels.com/photo/two-white-message-balloons-1111368/