AES907 Pentingnya Literasi, Cerita Lokal dan Identitas
Andy Sutioso
Thursday January 15 2026, 12:30 PM
AES907 Pentingnya Literasi, Cerita Lokal dan Identitas

Ini catatan obrolan saya dengan seorang teman yang belum lama saya kenal tapi terasa sudah kenal dekat. Tidak sering jumpa juga, tapi terasa seperti seorang teman lama. Nama teman saya ini Yuri, dipanggilnya opa Yuri. Yuri Romero lengkapnya, kelahiran Cuba tapi sudah lama tinggal di Indonesia. Beliau mendirikan sebuah yayasan MegaMind - yang bergerak di bidang pendidikan juga - walaupun bukan secara formal melalui sekolah, tapi melalui berbagai proyek dan gerakan terkait pelestarian lingkungan maupun juga budaya. Yuri sudah sempat mampir ke Semi Palar dan sempat melakukan kerja sama kolaborasi dengan KPB. Kenza, salah satu alumni KPB juga sempat magang di sana. 

Di awal Januari lalu, kami bertukar kabar dan akhirnya janjian bertemu untuk 'catching up'. Singkat cerita, kami bertukar cerita tentang apa yang sedang dilakukan. Yuri dan timnya akan segera melaksanakan proyek di suatu lokasi di Jawa Timur. Saya tidak akan ceritakan detail karena sejujurnya saya tidak tahu apakah proyek ini boleh diketahui publik atau ngga. Lagi pula proyek ini baru proyek pertama dan baru akan tuntas di pertengahan tahun ini. 

Terkait judul di atas saya ingin mencatatkan satu hal penting. Yaitu soal identitas. Saya pikir ini juga salah satu yang jadi keunikan kita manusia - salah satu dimensi kesadaran yang fundamental yaitu identitas

Sama halnya dengan apa yang sedang diupayakan oleh tim Smipa Disada untuk mendampingi sekolah-sekolah di Kuningan membangun budaya literasi, saya akhirnya saat sebentuk identitas ini bisa ikut ditumbuhkan, hal ini akan menjadi akar dari apa yang diupayakan melalui proyek-proyek semacam ini, apapun bentuknya. 

Bercermin dari berbagai komunitas yang akarnya terasa kuat, saya bisa menyebutkan beberapa di antaranya. Jatiwangi Art Factory, lalu Bumi Langit Institute di Imogiri, juga Pasar Papringan di Ngadiprono, Temanggung. Tempat-tempat yang enerjinya berbeda, ada sesuatu yang otentik dimiliki oleh tempat dan masyarakat di sana. Sebuah narasi lokal yang bisa dijadikan tempat berpegang, tempat kembali bagi warganya sekaligus menjadi sesuatu yang menarik bagi masyarakat di luar kelompok ini untuk hadir dan ikut menikmati, mengapresiasi apa yang mereka miliki.

Saya pribadi punya kesan yang sangat kuat bagi komunitas-komunitas tersebut. Disadari atau tidak, local story, kisah yang dimiliki masing-masing tempat dan komunitas itu jadi sesuatu yang menjadikan mereka punya sesuatu yang dijadikan pegangan bersama dan dengan demikian mendukung keberlangsungan narasi yang mereka miliki, apapun itu. 

Jatiwangi Art Factory, misalnya, sejauh saya pahami adalah kota kecil yang tidak punya akar sejarah /budaya. Jatiwangi adalah kota yang tumbuh sebagai salah satu titik logistik Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Daendels. Sangat fungsional sifatnya. Jadi tidak punya identitas tertentu. Kang Arif Yudhi seorang seniman yang jadi penggerak dan inisiator Jatiwangi Artf Factory punya pandangan bahwa identitas adalah suatu yang esensial dan dalam prosesnya berhasil membangun narasi lokal. Narasi ini berhasil dijadikan pegangan bersama masyarakat di sana, walaupun narasi itu dirancang kemudian.

Dari diskusi dengan Yuri - saya pahami hal ini sangat OK dilakukan. Karena yang terpenting masyarakat bisa punya narasi bersama, ikon, identitas atau apapun itu yang menjadi milik bersama warganya... Hal ini juga yang saya lihat dalam proses mewujudkan Bumi Langit Institute atau Pasar Papringan Ngadiprono. 

Seperti halnya manusia, sebagai individu, identitas adalah sesuatu yang esensial. Sebuah sense of self - yang menggaris bawahi juga eksistensi diri sebagai individu yang unik. Hal ini berlaku juga di dalam konteks masyarakat dan bangsa. Perlu disadari di sini bahwa ini sudah jadi tantangan di masyarakat modern hari ini... Semoga hal ini juga jadi kesadaran kita bersama untuk menempatkan perhatian pada hal-hal ini untuk berbagai hal yang sedang kita kerjakan. Salam. 

Foto : Dokumentasi Pribadi, Pasar Papringan Ngadiprono, 2024