AES071 Bersepeda
Andy Sutioso
Saturday July 24 2021, 8:53 AM
AES071 Bersepeda

[repost dari Ning]

Tulisan hari ini akan singkat saja - saya akan mengutip satu teks yang saya dapatkan pagi tadi melalui pesan WhatsApp. Tidak tahu siapa yang menuliskan tapi isinya menurut saya bagus, saya sepakat dengan intinya bahwa Hidup, seperti halnya bersepeda yang terpenting adalah perjalanannya, bukan tujuannya. Tujuan hanya ada satu - dicapai pada saat kita mencapai tujuan kita. Tapi kalau kita terlalu fokus pada tujuannya, kita akan kehilangan atau melewatkan segala sesuatu yang ada / terjadi selama perjalanan. 

Bicara tentang bersepeda, saya sempat ingat juga esai kak Yanti, kenapa bersepeda itu sangat menyenangkan, karena dalam hal kecepatan, sepeda itu tidak terlalu cepat, tapi tidak juga terlalu lambat. Kita bisa bersepeda selambat kita berjalan kaki. Tapi di waktu-waktu tertentu kita bisa melaju cukup cepat untuk merasakan bagaimana angin menerpa wajah kita. Sepeda juga kendaraan yang hening. Dia tidak bising seperti kendaraan lainnya. Walaupun melaju dengan tenaga manusia, sepeda juga memungkinkan kita untuk mencapai jarak yang cukup jauh. Saya sempat membaca satu artikel - yang menuliskan bahwa semestinya inovasi kendaraan berhenti pada saat manusia menemukan sepeda. Cukup sampai di situ. Sekarang, kendaraan bermotor - jadi ciptaan manusia yang terus mengotori atmosfir. 

Sejak PPKM beberapa waktu lalu, rutin saya bersepeda terhenti. Sempat mencoba keluar bersepeda di minggu ke 3 PPKM, tapi saya baru tahu ssesampai di rumah bahwa bersepeda juga sebetulnya tidak diperbolehkan. Menjelang akhir PPKM darurat pagi tadi saya kembali mengeluarkan sepeda saya dan kembali menikmati perjalanan saya bersepeda. Menyenangkan sekali rasanya. 

 

BERSEPEDA.

Bersepeda merupakan kegiatan yang pernah dilakukan oleh hampir semua orang. Sejak masih balita, kita sudah memanjakan anak-anak kita dengan membelikan sepeda mini yang memiliki tiga atau empat roda. Saat anak beranjak remaja, kita juga membelikan sepeda dua roda yang lebih besar. Saat dewasa, mungkin diantara kita ada yang membeli sepeda untuk keperluan berolahraga.

Dalam bersepeda, kita pasti akan melalui tiga jalur yang berbeda yaitu menanjak, mendatar dan menurun. Saat sedang menanjak, energi kita akan terkuras lebih banyak, memperkuat ayunan pedal agar dapat melalui tanjakan. Namun, janganlah kita terlalu bernafsu mencapai puncak secepat mungkin, sebab kita sendiri harus mengukur batas kemampuan. Jika tanjakan terlampau curam, tidak ada salahnya, kita turun sejenak dari sepeda dan berjalan bersama sepeda hingga ke puncak. Jika kita terlalu memaksakan diri, padahal kemampuan tidak cukup mumpuni, dipastikan kita akan jatuh terjungkal karena tidak sanggup mengayuh pedal sepeda. Jika kita merasa sanggup untuk melampauinya, sebaiknya kita mengatur nafas dan tenaga untuk mengkonstankan putaran ayunan pedal, supaya sepeda melaju stabil. Tetap menjaga konsentarasi untuk menghadapi rute turunan yang mungkin tiba-tiba muncul di depan.

Saat menghadapi turunan, kita tidak boleh kaget hingga terlalu cepat menarik rem. Sebab kita akan terjungkal, jatuh terpuruk dan dapat mengakibatkan luka.
Cobalah untuk mengikuti alur jalannya, menyeimbangkan sepeda dan mengatur pengereman dengan penuh kehati-hatian. Saat berada di jalan mendatar, kita hanya perlu mengayuh dengan santai sambil mempersiapkan kemungkinan munculnya rute tanjakan atau turunan. Bersepeda itu sesungguhnya bukan pada masalah berapa jumlah kilometer yang berhasil ditempuh. Namun yang lebih diutamakan adalah cara menikmati setiap kayuhan pedal untuk melaju hingga mencapai tujuan akhir.

Bersepeda itu identik dengan kehidupan yang sedang kita jalani. Hidup itu menarik dan mengasyikkan bukan karena semakin banyak jumlah umur yang dijalani, namun bagaimana kita menikmati detik demi detik untuk mendapatkan umur tersebut. Bersepeda juga bukan masalah bentuk sepeda atau aksesoris cantik dan canggih yang terpasang pada sepeda, namun sesungguhnya bagaimana cara memanfaatkan sepeda dan aksesorisnya untuk memperoleh pengalaman perjalanan yang menarik. Bersepeda adalah suatu kegiatan yang dapat dinikmati sendirian atau bersama orang lain. Dengan bersepeda, akan tercipta pengalaman selama mengarungi perjalanan, yang dapat diceritakan kepada orang lain. Bukan sekadar berlomba-lomba membanggakan kehebatan maupun kecanggihan dan harga sepeda.

Demikian juga dengan kehidupan manusia. Kita hidup bukan melulu membicarakan mengenai harta kekayaan dan jabatan yang diperoleh, namun sesungguhnya kita harus memanfaatkan semua yang dimiliki agar hidup kita menjadi lebih berharga, bukan hanya sekadar nilai nominal.

Sobatku yang budiman…
Mengutip pepatah Jawa yang menyebutkan : “Urip kuwi golek jeneng, ojo golek jenang” yang artinya : “Hidup itu untuk mencari nama, bukan mencari makan…”
Hidup itu seyogyanya bukan untuk dinikmati sendiri, namun harus bermanfaat bagi orang banyak. Hidup bukan sekadar untuk mencari harta dan jabatan, namun bagaimana memanfaatkan kelebihan yang dimiliki untuk sebesar-besarnya kebahagian orang lain. Alhasil, kita akan menjadi manusia yang mempunyai nama yang baik.

Untuk apa kita memiliki sepeda, jika kita hanya mempunyai cerita tentang saat kita membelinya, bukan pada saat mengayuh pedalnya menyusuri aneka rute perjalanan yang mengasyikkan? Bukankah menaiki sepeda itu terlihat lebih menarik dan terasa lebih mengasyikkan, apalagi dapat menempuh perjalanan bersama rekan-rekan yang lain dalam suasana ruang gembira dan penuh kebahagiaan? 

“It is about the journey, not the destination… Because life is a Journey…” 

 Photo by Rikki Chan on Unsplash