Hari kedua dari Semester Rewind yang diselenggarakan kelompok Engklek (K-12 KPB). Hari ini giliran Karmel dan Tasha yang berbagi cerita, proses dan refleksi pembelajaran di semester pertama. Menarik sekali mendengar cerita Karmel dan Tasha dan bagaimana mereka belajar mengatasi berbagai keterbatasan mereka dan berproses menjadi diri mereka di titik ini.
Esai ini tidak akan terlalu bercerita tentang apa yang mereka kisahkan tentang proyek-proyek mereka. Esai ini akan terlalu pendek untuk mengisahkan kembali itu semua. Tapi ada satu kata kunci yang saya ingin angkat dalam tulisan ini: Konsistensi. Sejak kemarin kata ini banyak disebut-sebut. Jadi sepertinya ada semacam benang merah yang mengikat proses mereka setidaknya di semester ini. Walaupun hal-hal kecil yang mereka tempatkan untuk belajar membangun konsistensi, ini juga tidak membuatnya jadi sederhana. Justru karena hal-hal kecil, begitu besar godaan untuk tidak melakukannya. Di sinilah letak tantangannya. Tapi toh kalaupun dalam hal kecil kita belum bisa konsisten, bagaimana kita bisa konsisten dalam hal besar yang lebih sulit?
Kenapa konsistensi jadi sesuatu yang saya bahas kembali di sini. Ini sangat terkait dengan apa yang jadi kata-kata keramat yang diwariskan Aki Muhidin dan kita adopsi jadi salah satu filosofi pembelajaran di Semi Palar. Dari nyaho, menuju ngarti, menuju bisa, kemudian tuman lalu ngajadi. Mestinya kita semua bersepakat bahwa tujuan akhirnya adalah ngajadi. Ngajadi dipahami sebagai kondisi di mana pengetahuan sudah bertransformasi menjadi ilmu - yang sudah dihayati oleh si pembelajar. Meng-hayat-i pengetahuan artinya pengetahuan sudah menghayat. Inilah yang dimaknai sebagai ngajadi, di mana ilmu sudah menjadi bagian dari kedirian si pembelajar.
Yang jadi penting bagi kita di sini adalah menyadari sepenuhnya, bahwa kita tidak bisa ujug-ujug ngajadi. Untuk bisa ngajadi, tuman harus dilalui dulu. There is no shortcut. Dari sekedar bisa menjadi tuman juga bukan hal gampang, karena konsistensi jadi kuncinya - seperti yang diceritakan teman-teman KPB dari pengalaman belajar mereka. Perlu disiplin, komitmen dan kesadaran untuk bisa melaksanakannya. Yang paling sulit - seperti yang saya alami sendiri adalah bagaimana kita bisa mengalahkan diri sendiri dari segala kemalasan, keengganan dan segala macam alasan yang dimunculkan pikiran kita.
Terima kasih banyak buat Karmel, Tasha, Denzel dan Linus yang sudah berbagi pengalaman belajarnya di dua hari terakhir ini sekaligus jadi inspirasi buat tulisan saya malam ini. Sukses dan tetap semangat! Salam Smipa.
gambar dari quotefancy.com