Menggenapi lagi dengan satu kepingan tentang kesadaran - nyambung dengan apa yang sempat kita bahas bahwa manusia punya 'antena' yang mengoneksikan diri kita sebagai mikro kosmos dengan dimensi kesemestaan yang tak berbatas (makro kosmos). Filem pendek ini menjelaskan sekilas tentang itu.
Banyak sumber mengatakan bahwa manusia modern tercerabut dari akarnya. Karenanya manusia modern ini bingung hendak kemana, di sisi lain juga saat ingin menelusuri asalnya, tidak juga tahu mau kembali ke mana. Lupa dari mana sejatinya dia berasal. Kebingungan ini membuat manusia modern kehilangan identitas dan pada saat yang sama juga kesulitan menemukan makna kehidupannya. Perjalanan peradaban membawa kita ke sana. Ada yang bilang ini disengaja, mungkin juga tidak, ini bisa diperdebatkan. Kenyataannya manusia modern sudah sampai di titik ini. Saya akan menggunakan istilah diskoneksi. Manusia hari ini terdiskoneksi dengan Tuhan - walaupun mungkin rajin beribadah, kehidupannya terdiskoneksi dengan alam di tengah lingkungan yang serba modern - tapi serba artifisial. Terdiskoneksi dengan orang lain - sementara setiap hari bermedia sosial banyak, yang merasa kesepian dan juga terutama terdiskoneksi dengan dirinya sendiri. Tak paham kenapa Tuhan memberikan hadiah eksistensial, sebuah anugerah tak ternilai. Sebuah pertanyaan besar, kenapa Tuhan mengijinkan kita hidup hari ini melalui badan dan pikiran yang membungkus jiwa kita masing-masing. Sesuatu yang dikenal dengan krisis eksistensial.
Walaupun demikian dari apa yang dicoba disampaikan - setidaknya melalui proses kita bersama di Rumah Belajar Semi Palar, kita mencoba kembali menempatkan proses belajar kita di atas kata kesadaran. Proses yang kita sebutkan sebagai berkesadaran. Dari proses yang berkesadaran inilah kita mudah-mudahan kita bisa kembali ke akar kita, kembali terkoneksi ke kesejatian diri kita. Semoga kita bisa.