Tulisan ini memang hanya mencatatkan bagaimana saya sedang punya hutang menulis. Minggu kemarin agenda sangat padat dan melelahkan. Cukup banyak tulisan saya yang seperti ini, sekedar untuk mendorong diri untuk menulis - walaupun kondisi sedang tidak kondusif untuk menuliskan sesuatu yang lebih berbobot.
Awalnya saya kira menulis dua hari sekali tidak terlalu berat - tapi sama saja. Karena rutinitasnya berkurang, ritmenya juga terasa berbeda. Tahun lalu saat menulis setiap hari, yang konstan terasa adalah dorongan bahwa saya harus menulis - setiap hari - seperti halnya kita harus gosok gigi setiap hari. Nah menulis dua hari sekali ini kan ada kelonggarannya, ada kendornya, hal ini juga yang tidak menjadikan lebih mudah - walaupun dalam hal menulis, memang kita jadi lebih ringan.
Masuk ke perkara hutang menghutang, hutang itu kan selalu ga enak. Apapun itu bentuknya, hutang budi, hutang uang, juga hutang menulis. Ini juga yang terasa. Tapi toh ini hal baik, karena ini juga memotivasi kita untuk kembali menulis, melunasi, menuntaskan tulisan yang belum kita buat. Tulisan ini adalah salah satunya. Walaupun ga ada isinya, dan mungkin ga ada maknanya buat orang lain tulisan ini buat saya jadi penting, karena ini bentuk kesadaran tentang hutang yang saya buat. Ya kembali lagi menulis itu kan manfaat utamanya buat diri sendiri.
Saat menulis ini saya terpikirkan bagaimana penulis-penulis hebat pasti juga punya pengalaman seperti ini. Mereka kan bukan robot atau mesin yang dijalankan oleh AI. Manusia itu kan kompleks banget alam pikir dan dimensi kediriannya. Hanya kita aja yang ga pernah tau, dari sekian banyak masterpiece yang kita baca, di belakangnya ada berapa banyak naskah tulisan atau draft yang gagal atau tidak pernah diterbitkan. Jadi marilah terus menulis... Salam.
Photo by Ann H: https://www.pexels.com/photo/yellow-jigsaw-puzzle-piece-3482442/