1 Mei kemarin, hari buruh - sering disebut Mayday. Mayday (kalau dalam bahasa Inggris) adalah kata-kata yang disebutkan untuk mengungkapkan sebuah keadaan darurat. Semacam SOS (Save Our Soul). Apakah disengaja atau tidak ya saya ga tau juga. Tapi ya begitulah hari buruh memang sering dikonotasikan negatif dan kerap diramaikan dengan demo para buruh yang menuntut perbaikan upah dan lain sebagainya.
Kenapa saya menulis tentang buruh, saya menyoroti ini dari perspektif sistem ekonomi Kapitalis. Karena para kapitalis inilah yang mendirikan sistem industri dan pabrik-pabrik, muncul kalangan buruh, anggota masyarakat yang jadi pekerja di dalam sebuah sistem ekonomi. Kelompok masyarakat yang disebut sebagai working class. Mereka jadi mata rantai terakhir dalam sebuah sistem industri. Lebih lanjut seringkali muncul berbagai masalah karena kondisi kerja, berbagai masalah kesejahteraan termasuk karena masalah keamanan dan kesehatan, jam kerja yang panjang dan lain sebagainya. Semua ini dirangkai dengan imbal kerja yang tidak sepadan karena di dalam sistem ekonomi seperti ini, manajemen pabrik punya kredo biaya yang sekecil-kecilnya untuk penghasilan yang sebesar-besarnya. Kenapa? ya sederhana karena sistem kapitalis bekerja untuk pemilik modal - untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya bagi pemilik modal. Sedikit catatan, saya bukan ahli ekonomi, tapi sedikit banyak saya tahu bagaimana sistem ini bekerja. Sir Ken Robinson - pernah menjabarkan dengan gamblang pula bahwa sistem pendidikan yang selama ini kita kenal memang dirancang menyerupai sistem industri yang selama ini berjalan.
Kalau sebuah sistem itu baik, sistem itu akan berjalan di dalam kesetimbangan, dan tidak menghasilkan banyak keburukan. Sistem yang paling baik adalah sistem-sistem alamiah (ekosistem) - yang berjalan dalam siklus. Contoh sederhananya, soal limbah. Manusia itu kan satu-satunya spesies yang menghasilkan limbah. Ini penanda sederhana bahwa sistem kehidupan manusia - yang katanya modern dan serba cerdas itu - cacat besar. Kerusakan lingkungan di mana-mana bisa kita lihat dan yang kita rasakan hari ini sudah sampai pada titik krisis iklim, karena berbagai kerusakan yang dibuat oleh manusia.
Perburuhan juga adalah penanda sederhana kegagalan sistem ekonomi kapitalistik yang selama ini ada. Lalu solusinya apa, solusinya ada di konsep-konsep seperti koperasi pekerja atau worker co-op. Dimana pekerja juga di sisi lain adalah pemilik usaha bersama tersebut. Dengan demikian konsep buruh jadi terhapuskan. Dalam konsep seperti ini, petugas keamanan dan CEO bisa jadi punya penghasilan berbeda karena lingkup tugas dan tanggung jawabnya juga berbeda. Tetapi keduanya punya status yang sama, pemilik perusahaan. Mereka punya hak suara yang sama lalu juga punya hak yang sama saat kemudian ada hasil usaha yang didapatkan dan dibagikan merata kepada pemilik perusahaan. Keren kan...
Jadi ya begitulah, tulisan kali ini saya ingin menyoroti soal buruh dalam konteks hari buruh. Sebetulnya kita punya alternatif sistem ekonomi yang lebih holistik, lebih adil dan lebih manusiawi juga. Salam.
Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/group-of-persons-wearing-yellow-safety-helmet-during-daytime-33266/
Colek @ahkam siapa tahu mau merespon. 🙏
Mantaap banget tulisannya, Kak. 👍
Besok saya respons ya, Kak. Sekalian nerusin tulisan saya tentang AI yang juga sangat berkaitan dengan semua yang Kak Andy sampaikan dalam esai ini.
Yang saya alami, buruh hampir selalu dalam posisi terjepit antara system dan "kelemahan" manusia. Maksud saya soal kelemahan adalah keterbatasan profesionalisme pemegang keputusan, seperti misalnya personel pembuat keputusan di union atau organisasi buruh yang mudah disuap sehingga tidak memperjuangkan kondisi buruh malah memperkaya diri. Kedua, seringkali pembuat keputusan di korporasi menganggap buruh sebagai karyawan yang replaceable, jika para buruh keluar bisa dengan mudah dicari penggantinya. Nah sampai di sini bisa dilihat dengan jelas bahwa buruh sangat powerless.