Nemu gambar keren ini. Jadi kepikiran untuk nulis soal bersepeda. Kenapa saya suka bersepeda 😊. Kebetulan aja saya abis gowes hari Minggu kemarin. Sambil nongkrong menulis juga setelah sudah cukup lama saya ga gowes²an.Â
Tulisan ini juga saya tuntaskan di hari Minggu pagi setelah saya pulang gowes. Kebetulan pagi ini saya gowes bersama teman saya Budiono. Teman ini yang menjebak saya untuk bersepeda. Tapi alhamdulilah sampai saat ini ini jadi olahraga yang saya jalankan sampai sekarang.Â
Kenapa saya bilang menjebak, waktu itu, seingat saya di tahun 2007an, saya sempat tanya-tanya tentang pergowesan sama Budiono ini. Jawabannya agak di luar dugaan, karena tidak lama saya dipinjami sepeda lengkap dengan helmnya. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mencoba apalagi beralasan ga ada sepeda. Akhirnya suatu waktu kami mulai gowes bareng, dan saya keterusan sampai sekarang. Setelahnya dengan budget terbatas, saya membangun sepeda dengan komponen yang mendasar, tentunya dengan berkonsultasi sama Budiono ini. Sepeda yang saya pakai sekarang masih frame sepeda yang saya yang saya beli di tahun 2007.
Di tulisan lain saya juga pernah bercerita bahwa saya juga suka teknologi. Nah sepeda ini dari perspektif teknologi punya keunikan tersendiri. Karena dia kendaraan yang human powered, para perancang sepeda berusaha untuk membuatnya ringan untuk mengakomodasi fungsi sepeda yang dituju. Sekarang sepada ada banyak sekali variasi. Mulai dari sepeda untuk di kota (citybike) hingga untuk naik turun gunung bahkan untuk perjalanan jarak jauh (touring). Alhasil berbagai teknologi diterapkan termasuk memanfaatkan teknologi canggih (titanium, carbon fibre) dan lain sebagainya untuk menjadikan sepeda ini kuat tapi tetap ringan. Tentunya menjadikan juga beberapa teknologi untuk bersepeda jadi sangat-sangat mahal.Â
Buat saya tantangannya adalah menemukan sepeda yang gue banget. Inilah yang jadi keasikan saya selama bertahun-tahun menemukan komponen yang murah, fungsional tapi juga keren. Hal ini juga jadi hobi saya selama ini, utak-atik sepeda.Â
Berbeda dengan lari atau hiking, jarak tempuh bersepeda bisa berlipat-lipat. Jadi eksplorasi berbagai tempat juga lebih dimungkinkan menggunakan sepeda. Ini saya sukai juga. Terakhir saya bersepeda agak jauh adalah bersama kak Mamat dan kak Yanti dan kak Lyn ke Saguling. Seru banget pengalaman ini.Â
Sepeda juga memungkinkan kita untuk melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat, sehingga bisa mengamati apa yang ada di sekitar kita. Lagi pula bersepeda itu nyaris tanpa suara. Jadi kalau kita menemukan jalur sepi di tengah sawah di bawah pepohonan, ini selalu jadi pengalaman yang istimewa. Masuk di jalan-jalan kecil di kota juga memungkinkan karena sepeda jadi moda transportasi yang cukup ramah di tengah jalan-jalan yang sempit.
Jadi selain sehat, ramah lingkungan, olah raga ini juga memberi ruang bagi saya untuk ngulik si sepedanya itu sendiri. Saya pernah menulis tentang ini dalam esai yang judulnya DIY People. Jadi ya begitulah tulisan saya kali ini tentang kenapa saya suka bersepeda.Â
Terima kasih buat Budiono yang menjebak saya masuk ke dalam olahraga ini. Seperti yang bisa banyak dilihat di jalanan, masih banyak orang-orang yang sudah cukup sepuh tapi tetap bersepeda, harapan saya sama juga. Bisa terus bersepeda di waktu-waktu mendatang. Salam. Â