Pandemi menghadirkan disrupsi, padahal roda perubahan sudah berdekade lamanya bergulir sangat cepat. Demikian cepatnya sehingga sulit bagi manusia untuk memahami dan memaknai perubahan yang ada. Karenanya apa yang dihasilkan perubahan ini adalah kekacauan demi kekacauan, karena manusia gagal memahami, merangkai dan menghayati perubahan yang ada sebagai bagian utuh kehidupannya yang semestinya terkoneksi, utuh bahkan juga sakral.
Manusia tidak lagi sempat menoleh ke kiri atau ke kanan, bahkan hilang juga peluang untuk melihat ke dalam diri merefleksikan segala sesuatu bagi hidup dan kehidupannya. Manusia sibuk tergopoh-gopoh berusaha agar tidak terjatuh dan kemudian tergilas roda perubahan. Mengerikan sebetulnya. Ia hanya bisa melihat ke sedikit ke depan agar bisa dengan segera mencari tempat pijakan berikutnya agar tidak terjatuh dan terjerembab.
Dengan segala kecepatan perubahan dan rime kehidupan yang ada, sebetulnya manusia mau ke mana? Apa yang dicari? Ke mana tujuan hidupnya? Bukankah konyol kalau kita tergesa-gesa menuju suatu tempat yang kita tidak tau di mana lalu ada apa di sana? Kita hanya takut ketinggalan karena semua orang di sekitar kita tampak selalu bergegas...
Dan akhirnya karena hanya ketakutan kita dilindas roda perubahan, kita gagal meletakkan makna untuk hidup kita yang singkat ini. Setelah tergesa dan bergegas kita tidak sampai juga ke tempat yang semestinya kita tuju...
Mari berhenti sejenak dan merefleksikan hidup dan kehidupan kita. Manusia butuh jeda yang bermakna. Manusia butuh diam dan hening. Karena apa yang dicari ada di sana... ada di dalam diri kita masing-masing... Semoga kita bisa...