AES080 Memahami Media Sosial, Memaknai Ririungan
Andy Sutioso
Monday August 2 2021, 8:59 PM
AES080 Memahami Media Sosial, Memaknai Ririungan


Media Sosial dan Pergeseran-pergeserannya


Saya membayangkan pada awalnya friendster, facebook, instagram dirancang untuk mengoneksikan satu pengguna dengan lainnya. Medianya aja berbeda-beda... Instagram itu tentang gambar (images), Tiktok itu isinya video2 pendek. Twitter awalnya adalah tempat bertukar pesan pendek 160 karakter...  

Keren ya... Sekian lama waktu berjalan, pengguna medsos semakin banyak mencapai miliaran pengguna - mulailah motif ekonomi bekerja. Ada value yang begitu menggiurkan ada di sana... dan di sanalah rangkaian algoritma dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) bekerja membaca data dari segala sesuatu yang dipostingkan oleh miliaran penggunanya di seluruh dunia. Dan... data ini sangat-sangat berharga... 

Jadi saat ini, yang namanya media sosial itu sudah jauh bergeser. Media sosial gratisan yang sekarang ini kita manfaatkan, sudah dijadikan alat untuk pengamatan (surveillance), jadi wadah untuk attention economy bekerja, di mana segala jenis promosi dan iklan bekerja - menyusup ke bawah sadar manusia penggunanya - melalui berbagai peran penggunanya yang dilabeli keren-keren seperti influencer, endorser dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya untuk kepentingan pemilik modal juga. Belum lagi kalau media sosial dimanfaatkan untuk menyusupnya berbagai hoax atau tempat berbagai kelompok kepentingan memasarkan propagandanya, apakah itu kepentingan politik, ekonomi tentu saja - bahkan juga idealisme ataupun agama... Mengerikan... 

Saya lihat ada lima komponen penting dalam sebuah sistem media sosial : user (pengguna), konten yang dikontribusikan user, follow, like dan comment. Coba saja perhatikan, ke lima komponen ini pasti ada di setiap ruang media sosial. 

Awalnya user mulai menyimpan konten tertentu. Karena sudah ada konten, yang namanya like (👍) dan follow mulai bekerja. Kemudian user mulai memfollow user - karena satu user menyukai konten yang dihasilkan user tertentu. Comments juga mulai diisi, untuk menanggapi konten yang tersimpan. Di sinilah Timeline mulai berputar mencatatkan setiap posting baru yang muncul, siapa mem-follow siapa, siapa me-like konten apa atau siapa memberikan komen terhadap konten tertentu... Pada dasarnya ini adalah mekanisme media sosial - apapun bentuknya. 


Tentang Ririungan Semi Palar


Kita berpindah bahasan ke Ririungan ini. Siang tadi jumlah anggota Ririungan baru mencapai 60 anggota. Memang ga akan jadi banyak-banyak juga, karena bukan itu tujuannya. Kemudian sejak kemarin warga Ririungan mulai menambahkan konten di sini, juga memindahkan konten dari Ning ke rumah yang baru di sini.

Hal-hal di bawah ini penting dipahami supaya kita bisa menjaga bersama esensi apa yang semestinya ada dan dipertahankan di ruang interaksi seperti Ririungan ini. 

  • Warga Ririungan (user) adalah elemen terpenting. Setiap individu warga Ririungan berkontribusi terhadap apa yang akan muncul secara kolektif di sini. Kalau setiap warga merasa nyaman untuk mengekspresikan dirinya, menjadi diri sendiri, Ririungan ini akan jadi sangat otentik. Karena warga Ririungan ini yang akan menyumbangkan konten (isi) di dalam Ririungan ini. Warga Ririungan adalah konten kreator di Media Sosial kita ini. 

  • Konten, tentunya tergantung pada spirit yang dihayati dan suasana Ririungan secara keseluruhan. Karena konten apa yang dikontribusikan oleh para warga, oleh kita masing-masing akan jadi bagian, jadi kepingan dari apa yang dimunculkan Ririungan ini secara keseluruhan. Kalau kontennya seragam akan jadi membosankan, kalau receh, akan jadi ringan, kalau kontennya bermutu, Ririungan ini akan jadi berbobot dan seterusnya. 

  • Timeline : Kalau diperhatikan ada dua TimeLine di Ririungan ini. Global Timeline (yang ada di halaman depan) dan Profile Timeline - yang isinya hanya interaksi kita bersama orang-orang yang kita follow. Kalau kita follow semua orang, tentunya timeline profile kita akan sama isinya dengan timeline keseluruhan. Ga terlalu banyak gunanya...

    Saya sendiri akan memilih warga Ririungan yang akan saya follow. Kalau kontennya saya suka, nyambung dengan saya atau saya bisa belajar dari konten2 yang disumbangkan warga tersebut. Warga tersebut akan saya follow... Saat banyak interaksi terjadi, kita akan sulit mengikuti apa yang terjadi di Ririungan ini kecuali timeline pribadi kita cukup selektif hanya untuk orang-orang tertentu yang saya follow. Tapi toh di ruang utama kita akan bisa terus mengikuti berbagai dinamika interaksi yang ada. 

  • Like : secara harfiah memberi tanda pada konten tertentu bahwa kontennya saya sukai. Jadi kalau medsos ini ingin bekerja baik, kita perlu memberikan like kalau kita betul2 menyukai kontennya - bukan karena saya sekedar berteman dengan warga lainnya.  

  • Comments : menurut saya adalah bentuk apresiasi yang jauh lebih tinggi dari sekedar like - karena kita bisa menjelaskan secara gamblang, apa yang saya sukai dari konten tersebut atau lebih keren lagi memberi masukan pada warga Ririungan tersebut - sebagai sang kreator konten agar bisa lebih baik lagi.

Dalam situasi pandemi yang sangat membatasi, Ririungan adalah ruang interaksi antar kita - yang bisa mengoneksikan kita sebagai anggota keluarga besar Semi Palar. Tulisan Joe yang berjudul Jauh, tapi Tetap di Rumah saya pinjam untuk menggambarkan hal ini. 

Bukan hanya itu, Ririungan ini adalah ruang belajar bersama. Coba saja baca apa yang dipostingkan di blog warga. Nyaris segala topik ada di sana, bersumber dari berbagai pengalaman, pemikiran, gagasan, renungan dan ragam pemaknaan dari kita masing-masing. Sejauh saya amati semuanya sangat orisinil, unik, jujur dan terbuka. Hal ini yang belum pernah saya temukan di ruang media sosial lainnya - di luar sana... Di Ririungan ini kita punya sesuatu yang sangat berharga... Semoga bisa kita jaga bersama. 

Photo by Gil Ribeiro on Unsplash

admin
@admin   5 years ago
Media sosial mungkin sudah jadi semacam kebutuhan juga bagi kita makhluk sosial karena sebagian dari waktu kita sudah dihabiskan di dunia maya. Semoga Ririungan bisa menjadi Rumah Belajar Digital yang kondusif bagi warga Semi Palar.