Saya membayangkan pada awalnya friendster, facebook, instagram dirancang untuk mengoneksikan satu pengguna dengan lainnya. Medianya aja berbeda-beda... Instagram itu tentang gambar (images), Tiktok itu isinya video2 pendek. Twitter awalnya adalah tempat bertukar pesan pendek 160 karakter...
Keren ya... Sekian lama waktu berjalan, pengguna medsos semakin banyak mencapai miliaran pengguna - mulailah motif ekonomi bekerja. Ada value yang begitu menggiurkan ada di sana... dan di sanalah rangkaian algoritma dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) bekerja membaca data dari segala sesuatu yang dipostingkan oleh miliaran penggunanya di seluruh dunia. Dan... data ini sangat-sangat berharga...
Jadi saat ini, yang namanya media sosial itu sudah jauh bergeser. Media sosial gratisan yang sekarang ini kita manfaatkan, sudah dijadikan alat untuk pengamatan (surveillance), jadi wadah untuk attention economy bekerja, di mana segala jenis promosi dan iklan bekerja - menyusup ke bawah sadar manusia penggunanya - melalui berbagai peran penggunanya yang dilabeli keren-keren seperti influencer, endorser dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya untuk kepentingan pemilik modal juga. Belum lagi kalau media sosial dimanfaatkan untuk menyusupnya berbagai hoax atau tempat berbagai kelompok kepentingan memasarkan propagandanya, apakah itu kepentingan politik, ekonomi tentu saja - bahkan juga idealisme ataupun agama... Mengerikan...
Saya lihat ada lima komponen penting dalam sebuah sistem media sosial : user (pengguna), konten yang dikontribusikan user, follow, like dan comment. Coba saja perhatikan, ke lima komponen ini pasti ada di setiap ruang media sosial.
Awalnya user mulai menyimpan konten tertentu. Karena sudah ada konten, yang namanya like (👍) dan follow mulai bekerja. Kemudian user mulai memfollow user - karena satu user menyukai konten yang dihasilkan user tertentu. Comments juga mulai diisi, untuk menanggapi konten yang tersimpan. Di sinilah Timeline mulai berputar mencatatkan setiap posting baru yang muncul, siapa mem-follow siapa, siapa me-like konten apa atau siapa memberikan komen terhadap konten tertentu... Pada dasarnya ini adalah mekanisme media sosial - apapun bentuknya.
Kita berpindah bahasan ke Ririungan ini. Siang tadi jumlah anggota Ririungan baru mencapai 60 anggota. Memang ga akan jadi banyak-banyak juga, karena bukan itu tujuannya. Kemudian sejak kemarin warga Ririungan mulai menambahkan konten di sini, juga memindahkan konten dari Ning ke rumah yang baru di sini.
Hal-hal di bawah ini penting dipahami supaya kita bisa menjaga bersama esensi apa yang semestinya ada dan dipertahankan di ruang interaksi seperti Ririungan ini.
Dalam situasi pandemi yang sangat membatasi, Ririungan adalah ruang interaksi antar kita - yang bisa mengoneksikan kita sebagai anggota keluarga besar Semi Palar. Tulisan Joe yang berjudul Jauh, tapi Tetap di Rumah saya pinjam untuk menggambarkan hal ini.
Bukan hanya itu, Ririungan ini adalah ruang belajar bersama. Coba saja baca apa yang dipostingkan di blog warga. Nyaris segala topik ada di sana, bersumber dari berbagai pengalaman, pemikiran, gagasan, renungan dan ragam pemaknaan dari kita masing-masing. Sejauh saya amati semuanya sangat orisinil, unik, jujur dan terbuka. Hal ini yang belum pernah saya temukan di ruang media sosial lainnya - di luar sana... Di Ririungan ini kita punya sesuatu yang sangat berharga... Semoga bisa kita jaga bersama.
Photo by Gil Ribeiro on Unsplash
Media sosial mungkin sudah jadi semacam kebutuhan juga bagi kita makhluk sosial karena sebagian dari waktu kita sudah dihabiskan di dunia maya. Semoga Ririungan bisa menjadi Rumah Belajar Digital yang kondusif bagi warga Semi Palar.