Menulis lagi tentang AI, karena sepertinya semua sedang eforia tentang Kecerdasan Buatan. Banyak pihak sedang sangat excited dengan teknologi baru ini karena akan memberikan banyak kemudahan. Di tengah peradaban yang sangat gandrung dengan kemudahan dan kepraktisan serta segala yang instan, AI memang sangat menggiurkan.
Banyak juga yang sudah sibuk bikin konten bagaimana AI bisa bikin cuan dengan mudah saat misalnya jual beli di pasar saham (stock market). Atau juga saat mahasiswa mau bikin esai dengan topik tertentu sebanyak 2500 karakter misalnya. Dalam beberapa menit esai tersebut bisa tuntas. Sebelumnya mahasiswa mungkin perlu menghasilkan berjam-jam atau bahkan berhari-hari untuk mengerjakan tugas yang sama. Tentunya ini jadi kendala untuk proses belajar. Disrupsi AI akan sangat besar bagi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satunya pendidikan. Saya yakin para guru dan dosen akan pusing kepala untuk memastikan apakah karya tulis yang dibuat muridnya adalah karya otentik atau hasil kerja AI. Tapi saya tidak akan bahas soal ini. Saya akan bahas soal orisinalitas.
Apa yang dihasilkan AI pada akhirnya adalah hasil reka ulang dari informasi yang sudah ada sebelumnya. AI akan merangkai tulisan baru dari apa yang ada di dalam jangkauan olahan informasinya. Jadi sudah tentu keluaran dari proses-proses AI bukan sesuatu yang orisinal atau muncul dari pemikirannya. Bisa jadi di suatu titik, kemampuannya merangkai informasi akan menampilkan sesuatu yang sepertinya orisinal, tapi ujung-ujungnya hal ini kembali kepada algoritma yang ditetapkan oleh para programmernya. Tentunya perdebatan soal ini tidak akan ada ujungnya.
Saya pikir akan lebih bermanfaat kalau kita bicara tentang orisinalitas - dengan berpijak pada pemikiran apakah apa yang dihasilkan adalah hasil olah pikir manusia atau hasil kerja AI. Ini esensinya. Apakah suatu karya tulis, misalnya adalah hasil karya manusia atau mesin. Dari sini kita bisa berpijak untuk bicara soal value atau nilai. Seperti halnya kalau kita bicara batik tulis atau batik cap - atau sebaliknya batik yang polanya dikerjakan oleh mesin. Nilainya tentu berbeda. Dalam konteks perkembangan teknologi hari ini, saya pikir kita perlu secara sadar menempatkan nilai atau bobot yang berbeda dari hal-hal yang akan muncul kemudian.
Di suatu titik, hal-hal yang orisinal - dituliskan oleh manusia saya pikir akan punya nilai lebih tinggi. Tulisan ini misalnya, saya bisa pastikan bahwa ini saya tuliskan pagi ini di meja makan dari hasil pikiran saya sendiri. Saya lebih bangga menghasilkan tulisan orisinal ini daripada apa yang bisa dihasikan oleh AI. Apalagi tulisan-tulisan yang pada dasarnya berangkat dari narasi kehidupan para penulisnya. Catatan pengalaman, pemaknaan, penghayatan manusia dari kehidupannya. Sesuatu yang akan selalu otentik. Bukankah itu sangat berharga dan tidak mungkin dihasilkan dari rekayasa informasi yang sudah ada sebelumnya.
Semoga ini jadi bahan pemikiran bersama.