Barusan saja saya membaca tulisan Kak Andy tentang Meninggalkan Catatan Perjalanan dan saya benar-benar setuju dengan semua yang kak Andy tulis bahkan menurut saya lebih dari itu.
Saya ingat pertama kali menulis secara lebih rutin ketika diajak ikut serta dalam lingkaran Blogger di Smipa, itu 5 tahun yang lalu, tulisan pertama saya di Bulan Agustus 2016, dan sejak saat itu mulai semakin rajin dan menulis secara rutin. Menulis memang bukan hal yang baru karena sudah saya mulai sejak jaman masih di sekolah menengah, tapi menulis dengan jauh lebih teratur ya sejak di Smipa. Menulis setiap hari sejak di NING, tidak tanggung-tanggung ini rekor menulis saya setiap hari (walau ada 2 hari saya tidak published, tapi pada 2 hari itu saya tetap menulis). Ini hebat, bayangkan setiap hari hingga sekarang ini tulisan saya yang ke 71! Sejak pertama kali menulis, tidak pernah saya menulis 71 hari consecutively! 71 days streak! ini bukan main!
Sebetulnya apa yang mendorong saya untuk terus menulis, toh tidak ada kewajiban untuk itu. Kalau ada hari yang ompong, misalnya, tidak akan pernah ada yang menegur. Kalau rajin menulis pun tidak akan ada yang memuji atau memberi hadiah. Setiap pagi entah di rumah atau di kantor, bertepatan dengan waktu tengah malam di Bandung, saya paling senang membuka NING untuk membaca tulisan-tulisan teman-teman. Ada yang kenal, ada yang tidak bahkan banyak yang belum pernah bertemu tapi kemudian menjadi teman. Hebatnya lagi, yang ditulis itu tidak hanya hal-hal yang berat, ilmiah, tapi juga cerita ringan hingga mengupas hal-hal yang bersifat pribadi. Kok bisa ya?
Ada satu hal yang mungkin menjadi alasan mengapa setiap tulisan itu padat dengan hal-hal pribadi, setidak-tidaknya itu yang saya rasakan; seperti misalnya ada hal-hal yang biasanya saya simpan sendiri bisa dengan nyaman saya umbar di sini. Menurut saya, semua penulis essay di sini merasa nyaman karena ada semacam ikatan kekeluargaan.
Bulan November 2016, saya pernah menulis tentang bagaimana Smipa seperti keluarga (https://wordpress.com/post/justjosite.wordpress.com/145. Di sana saya cerita bagaimana nyamannya relasi antara anak-anak, kakak-kakak dan orang tua. Saya cerita orang tua belajar Matematika dibimbing kakak, lalu kakak bikin cafe, ngopi bareng anak-anak dan orang tua. Orang tua diskusi dan nonton bareng di sekolah, dan lain-lain. Intinya sekolah bagaikan rumah, bagaikan keluarga. Saya tekankan juga bahwa keberhasilan pendidikan anak-anak tergantung dari bagaimana relasi anak, sekolah dan rumah. Apa yang saya saksikan saat itu adalah sekolah sebagai keluarga (juga keluarga sebagai sekolah) yang sangat berkesinambungan saling mendukung dan bekerja sama. Indah sekali!
Nah sebulan kemudian sesudah menulis itu saya pergi jauh, ribuan kilometer tapi relasi tidak pernah berhenti hingga sekarang. Dari bulan Agustus 2016 hingga sekarang saya telah berhasil menulis lebih dari 220 tulisan. Ini dimulai dari angka 1 di Smipa. Kenapa begitu? karena saya merasa nyaman untuk cerita apa saja, dari hal-hal yang ringan sampai keluh kesah. Tidak ada rasa sungkan atau segan. Semua mengalir dengan mudah. Kok bisa? karena saya tidak takut diejek, tidak khawatir dihina atau dianggap sombong dan dianggap suka pamer, sama sekali tidak. Kenapa begitu? karena saya merasa sebagai anggota sebuah keluarga! Dalam sebuah keluarga, kita bisa bebas bicara apa saja, bisa ngobrol dengan jujur. Kalau di tempat lain, bisa saja kita dianggap cengeng dan mengumbar keburukan misalnya, atau dianggap membangga-banggakan diri karena haus pujian, atau ngobrol hal-hal yang ilmiah lalu dianggap sok tahu. Tidak ada di sini! Semua orang bebas mengekspresikan diri apa adanya. Kok saya berani bilang begitu? Gampang! Contohnya banyak! Mau saya bisiki contohnya? Lihat saja kakak-kakak di Smipa, siapa yang jaim? tida ada! Kakak bisa seenaknya di sekolah tanpa alas kaki, pakai celana pendek (eh engga nyindir kepala sekolah loh ahahahaha), bahkan rame-rame dengan orang tua ngepel membersihkan WC bareng sampai ngecat tempat parkir! Hayo coba kasih tau saya di mana ada sekolah semacam itu? Nah kalau sudah nyaman begitu, kita bebas ngobrol tanpa takut dikritik, tanpa khawatir dilecehkan bukan? Sekali lagi, sekolah saya anggap sebagai keluarga bisa "mengajar" dan "mendidik" anak-anak bareng-bareng. Lalu bekal dari sekolah saya bawa pulang sehingga keluarga juga menjadi "sekolah". Sinkron, berkesinambungan, harmonis dan seimbang! Ini yang namanya pendidikan sejati!
Sudah 5 tahun saya jauh dari Smipa tapi sesungguhnya saya merasa tidak pernah pergi. Saya tetap berada di tengah-tengah keluarga. Saya bisa ngobrol setiap hari, dan berbagi pikiran, ide hingga kekhawatiran setiap saat. Walau saya jauh, tapi saya tetap berada di rumah!***
Wah terima kasih banyak Joe buat tulisannya. Senang sekali membacanya. Ayo Joe ajak teman2 lain bergabung ke Ririungan baru ini. Kemarin saya chat sama Ahkam kita mau coba mengajak keluarga besar smipa bergabung di sini dr mulut ke mulut. Lewat word of mouth... kalau datang dari Jo yg di Amrik akan powerful nih ajakannya... 🙏🤗
Terima kasih untuk tulisan ini, Pak Jo. Saya suka sekali dengan pernyataan Pak Jo yang ini: "Dalam sebuah keluarga, kita bisa bebas bicara apa saja, bisa ngobrol dengan jujur." Di Ririungan, kita tidak perlu khawatir bakal di-judge atau di-bully, karena kita adalah satu keluarga yang saling peduli, saling menyayangi, dan saling melindungi. Penuh pengertian dan pengampunan. Kalaupun ada salah-salah kata, yahh...namanya juga sodara, kita akan dimaafkan. Hehehe...
Wah!! benar2 terkoneksi Pak Jo.... tulisan hari ini saya juga berbicara tentang "kekeluargaan" yang sudah jadi "jiwa" di Smipa.... Mantap!!
Konsisten menulis pastinya bikin memori jd kumplit tercatat ya, Joe ..selalu seneng baca cerita2 elu..
Menulis itu salah satu dunia yg aku tinggalkan..dan selalu kurindukan..
Ayo atuh nulis, Nan 😀
Baguuuus bgt bang joe tulisannya... 😍 Bikin kangen sama Smipa...
Ngacung ✌.. setuju 100% sm yg ditulis Joe 👍🏼