AES692 Belajar Memaknai dari Kendi
Andy Sutioso
Wednesday August 28 2024, 8:07 PM
AES692 Belajar Memaknai dari Kendi

Sore - malam ini ada obrolan menarik di grup WA Kakak Smipa dan di grup tim inti Selametan TP20. Pertanyaannya sederhana, apakah kendi yang akan digunakan di Selametan nanti boleh diambil kemudian di hari Selametan atau dibawa pulang oleh anggota kelompok untuk dibawa kembali saat hari Selametan berlangsung di hari Sabtu nanti. 

Sebetulnya kedua-duanya bisa saja - secara teknis. Di sisi lain, kita bisa manusia sebetulnya bisa memilih menjadikannya lebih dari hal teknis belaka. Menurut saya ini adalah bagian dari anugerah yang kita terima sebagai manusia - dan ini perlu disadari sepenuhnya. Karena manusia punya kesadaran, manusia juga punya kelebihan bahwa kita bisa menempatkan makna terhadap segala sesuatu yang kita lakukan. Di sisi lain kesadaran adalah bukan kondisi default manusia, makna juga tidak selalu hadir dalam setiap laku manusia. 

Saat kita hanya bicara soal teknis, kita akan tergeser pada perkara kepraktisan belaka. Yang penting tugas itu terselesaikan. Diskusi di grup tadi dipantik pertanyaan apakah kendi yang akan digunakan dalam Selametan perlu diambil oleh anggota kelompok dan setelah diisi air dari rumah keluarga anggota kemudian dibawa kembali ke Semi Palar pada hari Selametan. Atau... pilihannya, kendi disimpan di sekolah, lalu diserahkan kepada anggota kelompok pada hari Selametan untuk diisi air yang dibawa dari rumah. Hasil akhirnya sama, tapi prosesnya bisa jadi sangat berbeda saat kita menempatkan pemaknaan dari apa yang dilakukan. Kalau hanya dipandang sebagai hal teknis, tentunya keputusan kita bisa sangat sederhana, ga ribet. Tapi di sisi lain, kita juga kehilangan sesuatu yang lebih berharga, yang lebih bermakna. 

ScreenShot_20240828213526.jpeg

Menutup tulisan ini, mudah-mudahan ditangkap bahwa desakralisasi kehidupan muncul dari semakin berkurangnya pemaknaan terhadap berbagai hal yang kita jalankan sehari-hari. Menarik untuk mencermati tulisan kak @matheusaribowo tentang prosesnya membuat Mandala bersama beberapa kakak di Smipa. Dalam perspektif modernitas, ngapain sih bikin Mandala? Buang waktu dan ga produktif. Ya begitulah kemajuan peradaban manusia menggiring kita semua ke pemikiran-pemikiran seperti itu. 

Sebetulnya sederhana. Saat kita memandang segala sesuatu yang kita lakukan sebagai sekedar hal teknis, yang kita dapatkan hanyalah sebatas pekerjaan tersebut selesai, tuntas, ceklis bisa dicontreng. Tapi karena memang tidak ada makna yang dihadirkan, ya tentunya apa yang kita lakukan juga jadi nirmakna. Sebaliknya kalau kita bisa menempatkan makna di dalam setiap hal yang kita lakukan, sekecil apapun, kita akan punya kepingan-kepingan makna yang terus kita kumpulkan. Sederhananya, rangkaian kehidupan kita yang kita jalankan, akan kemudian penuh dengan makna. Hidup kita akan lebih bermakna. Salam.