AES644 Kembali ke Titik Nol Semi Palar
Andy Sutioso
Tuesday April 2 2024, 10:55 AM
AES644 Kembali ke Titik Nol Semi Palar

Setiap tahun, Semi Palar pasti menyelenggarakan Buka Puasa Bersama. Kita tahu di mana-mana BukBer seakan jadi sebuah keharusan. Sebuah trend di berbagai kelompok masyarakat. Walaupun sekilas apa yang dilaksanakan tampak sama, di bawah permukaan ada spirit yang tersimpan dan hal yang ingin dicapai. Selain spirit ada (nilai) value juga yang ingin terus dijaga - terkait konsep pendidikan holistik yang selama ini dibawa di sepanjang proses perjalanan Semi Palar.

Apa itu? Pertama-tama, semangat dan rasa kebersamaan serta juga nilai-nilai yang semestinya ada dan dijaga di sepanjang bulan Ramadhan ini. Semakin ke sini, hari-hari besar keagamaan sekedar menjadi ritual dan kehilangan esensi spiritualitasnya. Ini terjadi bukan hanya di hari Lebaran. Di sisi lain, perayaan Natal juga sudah banyak kehilangan maknanya yang terdalam. Spirit Natal yang esensinya adalah kesederhanaan - disimbolisasikan dengan kelahiran Yesus di tempat yang sangat sederhana dan saat ini jadi sangat materialistis dengan berbagai perayaan yang meriah baik di tempat ibadat maupun juga di berbagai tempat komersial. 

Tahun lalu Bukber Smipa dilaksanakan di sebuah tempat makan yang menawarkan menu All You Can Eat. Alasannya lebih karena alasan teknis: tidak menemukan tempat yang lebih sesuai dengan apa yang diharapkan. Ya mungkin secara sajian yang ditawarkan bisa jadi lebih beragam, tapi makan sekenyangnya semestinya tidak sejalan dengan spiritualitas bulan Ramadhan yaitu menahan keinginan dan mengendalikan hawa nafsu. Sama sebetulnya dengan masa Puasa yang dijalankan oleh umat Katolik, sebelum memasuki perayaan Tri Hari Suci, hari Kamis Putih sampai Minggu Paska. 

Bukber Smipa kali ini jadi spesial karena atas gagasan kak Lyn, diselenggarakan di Titik Nol Semi Palar. Tepatnya di kediaman kami, tempat gagasan tentang Semi Palar digodok dan nama Semi Palar dilahirkan nyaris 20 tahun yang lalu. Dengan persiapan yang singkat, akhirnya BukBer Smipa jadi digelar di tempat ini. Bagi saya dan kak Lyn tentunya ini sangat istimewa. Kakak-kakak yang hadir juga punya kesempatan bersentuhan dengan alur sejarah, titik awal perjalanan Rumah Belajar Semi Palar. Di rumah ini, di ruang depan Semi Palar memulai bersama beberapa kakak, seperti kak Yuyun, kak Caroline dan kak Claudine. Saat itu kami mengenalkan konsep Semi Palar melalui beberapa kegiatan seperti Klab Dongeng Interaktif - berkolaborasi dengan Tobucil juga menyelenggarakan Program Sore Semi Palar bertempat di Rumah Nusantara. Di Rumah Nusantara inilah kedekatan antara mas Ipong, kang Aat dan kak Imam terjalin dengan berbagai gagasan kami tentang pendidikan. 

WhatsApp Image 2024-04-02 at 09.08.26_dd28e933.jpg

Titik Nol perjalanan Semi Palar jadi punya makna tersendiri terkait spirit yang dibawa sejak sebelum Semi Palar dirintis. Spirit, semangat - yang saya istilahkan the fire within - menjadi sangat penting dalam proses transisi kelembagaan yang sedang berjalan saat ini. Saya sempat bercerita tentang beberapa lembaga yang prosesnya perlu menjadi refleksi tentang keberlangsungan sebuah lembaga atau gerakan dalam periode yang panjang. Ini juga tentang sustainability atau kebersinambungan kalau meminjam istilah dari gerakan kelestarian lingkungan. 

Nyambung dengan the fire within, di bawah ini kak Imam dengan spontanitasnya mensimbolisasikan tentang spirit ini dengan menyalakan dua buah lilin yang jadi pajangan di rumah. Soal spirit ini tentunya jadi tantangan bersama, di tengah segala perubahan yang ada, dinamika kehidupan kita bersama di Rumah Belajar Semi Palar.  

20240401_200428 1.jpg

Atma sendiri masih sangat muda - gagasannya sendiri masih digodok, karena ruang yang dikelola seperti ini juga sepertinya tidak banyak dikenal di masyarakat. Mirip-mirip juga dengan Rumah Belajar Semi Palar. Tapi mudah-mudahan apa yang dirintis bisa ikut memperkuat spirit perjalanan Rumah Belajar Semi Palar - melalui bentuk-bentuk yang bisa diwujudkan bersama di ruang komunitas ini. Semoga.