AES634 Empat Tahun Kekosongan
Andy Sutioso
Monday March 4 2024, 11:00 AM
AES634 Empat Tahun Kekosongan

Tulisan kali ini mencatatkan sesuatu yang cukup sering saya angkat dalam berbagai kesempatan bincang-bincang di lingkungan Semi Palar - terutama setelah status pandemi COVID-19 dinyatakan dihapuskan sekitar satu setengah tahun yang lalu.

Tahun 2021 dan 2022 bisa dibilang kita semua dikungkung situasi pandemi, dengan berbagai keterbatasan kita berkegiatan secara normal. Rumah Belajar Semi Palar yang berpijak pada konsep Pendidikan Holistik merasakan dampak yang sangat besar - karena hilangnya koneksi - interaksi langsung di antara warga Semi Palar terutama hilangnya proses belajar holistik yang nyata di sekolah. Dalam situasi itu, kakak-kakak dan tim berusaha semaksimal mungkin menyiasati situasi dengan memaksimalkan berbagai potensi dan kemungkinan yang ada. Semua hal berusaha digantikan secara virtual dibantu teknologi. Harus disadari bahwa Di sisi lain banyak sekali bentuk-bentuk koneksi - interaksi nyata yang terpaksa hilang karena situasi tersebut. Terasa betul bahwa pembelajaran holistik yang diterapkan di Smipa sangat berbeda karakteristiknya dengan proses pembelajaran yang konvensional. 

Catatan penting di sini adalah bahwa dalam konsep yang holistik, pendidikan adalah bukan semata transfer pengetahuan yang bisa dilakukan jarak jauh. Interaksi dan koneksi antara berbagai komponen yang terlibat, antar manusia, manusia dengan lingkungannya dan bahkan dengan Sang Pencipta adalah bagian penting bahkan esensial dari proses pembelajaran holistik. Jadi kegiatan-kegiatan yang bisa diistilahkan sebagai ekstra kurikuler (pembelajaran di luar yang direncanakan di dalam kelas) menjadi penting di sini - apalagi kegiatan-kegiatan seperti ini berpotensi besar melibatkan orangtua murid. Mulai dari LeuKas, Jabawaskita, Upacara bendera, atau kegiatan yang lebih besar seperti Selametan, Festival Literasi, Pasar Ramadhan juga aktivitas KLAB bukan sekedar pelengkap atau aksesoris tapi punya peran cukup signifikan di dalamnya. 

Lalu kenapa empat tahun? Hitung-hitungan bodoh saya seperti ini. Dua tahun pandemi tentunya terhitung. Angkatan setahun sebelum pandemi bisa dibilang angkatan baru - karena keluarga-keluarga ini baru saja bergabung di Semi Palar, lalu berhadapan dengan PJJ di masa pandemi. Jadi sekarang ada 3 tahun 'angkatan pandemi'. Satu lagi saya tambahkan adalah angkatan yang bergabung di TP18, setahun setelah masa pandemi. Angkatan ini adalah angkatan baru juga - dan bergabung di TP18 pada saat Rumah Belajar sedang menata diri masuk ke situasi paska pandemi. Jadi setidaknya ada empat angkatan Semi Palar yang tidak mendapatkan pengalaman utuh menjalani berbagai proses di Rumah Belajar Semi Palar. Ini berlaku bukan hanya bagi orangtua juga kakak-kakak Smipa yang bergabung di dalam periode tersebut.

Memang saya cukup banyak mendengar dari rekan-rekan orangtua yang sudah lebih dulu bergabung bahwa banyak orangtua baru yang belum menangkap apa dan bagaimana spirit dan kultur Smipa. Tapi hitung-hitungan di atas mestinya cukup menjelaskan ya. Bahwa ada 4 tahun yang kosong atau hilang dari proses kita semua di Rumah Belajar Semi Palar. Empat tahun bukan waktu yang pendek - jangka waktu yang dibutuhkan untuk lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Begitulah adanya. Kenapa hal ini saya tuliskan, karena saya pikir hal ini perlu menjadi kesadaran bersama. Artinya ada hal-hal yang perlu kita lakukan untuk mencoba menambal kekosongan yang ada. Semoga kita bisa. Salam.  

Photo by Monstera Production: https://www.pexels.com/photo/crop-woman-with-blank-book-6373411/