"Silakan dua menit." Kakak kelas menyediakan waktu 2 menit, ketika ada teman yang izin ke toilet di tengah pembelajarannya.
2 menit. Tidak dibulatkan jadi 5 atau bahkan 10 menit.
Dan mereka bisa melakukan itu dari keluar kelas hingga kembali ke kelas. 2 menit.
Situasi lain pun terjadi, ketika teman-teman melakukan observasi jumlah tegel di perpustakaan. Kakak memberi waktu 7 menit untuk menghitung tegel sampai menuliskannya di atas kertas LKS.
Dengan sigap teman-teman memperlakukan kesempatan, menghitung tegel perpustakaan dengan "kesadaran" waktu yang disediakan. Ketika ada sisa waktu 3 menit, Kakak mengingatkan agar teliti lalu kembali dihitung.
Kesadaran tentang waktu ini dimulai dari pengisian daftar hadir. Waktu datang ditulis secara detil. Misal jam datang 07.13 menit. Setiap menit begitu berarti. Sampai boleh dikatakan, semua murid di sini hampir tidak pernah terlambat.
Guru saya pernah bilang begini, bahwa hidup seperti sekejap mata. Saya mendengar kalimat ini waktu saya kecil, saat itu saya selalu merasa bahwa hidup terasa lama dan biasa saja.
Namun kalimat Guru saya ini kembali terngiang ketika usia terus bertambah dan bertambah. Terlebih ketika dihadapkan pada berbagai "kehilangan" dan pentingnya memperlakukan kesempatan dengan "syukur". Seringkali ketika ada kesempatan namun hilang begitu saja.
Dalam proses magang selama 20 hari ini di SMIPA memberi kesadaran penuh, bahwa setiap orang di sini, begitu baik memperlakukan waktu secara efektif.