Sudah dua minggu penjelajahan, mengurus rumah dan membagi tugas antara kami berenam saja. Mulai terlihat betapa segala hal yang kami lakukan ada dampaknya.
Harus rajin mencuci baju, kalau tidak akan repot mencari tempat di jemuran. Senang sekali rasanya lihat banyak jemuran kering. Harus segera mandi, kalau tidak harus mengantre. Harus menghabiskan makanan, kalau tidak cepat basi dan sampah akan menumpuk.
Di minggu pertama, sampah kami tidak terlalu banyak, hanya beberapa sampah kresek. Entah kenapa, di minggu kedua, sampah kami banyak sekali. Banyak kresek yang kami gunakan, dan semua itu mulai berbau, jadi kami masukkan ke dalam trashbag hitam besar. Aku hanya bawa dua dari rumah, disarankan Ibu. Tapi dalam minggu kedua itu, kedua-duanya habis terpakai. Mungkin karena kami terpaksa membuang setengah pepaya yang sudah busuk, dan dua batok kelapa yang diambilkan Pak Muh dan sudah habis disantap.
Truk pengangkut sampah hanya datang seminggu sekali. Jadi harus subuh-subuh bangun untuk mengeluarkan sampah, kalau tidak tertinggal, dan bau sampah itu akan ada di rumah kami seminggu ekstra.
Aku jadi mencari cara mengurangi sampah. Dengan dua trashbag sudah habis, kita harus bisa menghemat. Aku juga jadi mulai berpikir dan menyesal bisa menghasilkan sampah sebanyak itu, hanya dari tujuh orang, dan penangannya paling hanya ditinggalkan begitu saja di TPA. Di Bandung aku sering mencuci sampah kemasanku. Aku mulai melakukannya juga di sini.
Sempat aku jemur di teras, namun besoknya hilang, sepertinya ada yang buang. Sekarang aku punya lapak kecil di ruang tamu beralas koran untuk tempat menjemur. Dengan begini, setidaknya sampah kemasanku bisa terkendali. Nanti akan kubawa pulang ke Bandung.
Sampah organik, sudah kami tanyakan ke Bu Imah. Katanya, dia bisa menerimanya sebagai pakan ayam. Sampah tulang dan kulit telur katanya bisa dibuang di bawah pohon saja.
Saat evaluasi tiap malam, kami mencari cara untuk lebih menyadari bagaimana setiap tindakan kami berpengaruh pada tiap hal kecil lainnya.