Suatu hari sebuah kepompong mulai memperlihatkan sebuah lubang kecil yang merupakan jalan keluar bagi seekor kupu-kupu. Seorang anak lewat dan berhenti karena tertarik dan mulai memperhatikan bagaimana calon kupu-kupu itu bersusah payah bergerak untuk memperbesar lubang di kepompong agar dia dapat keluar. Butuh waktu yang sangat lama dan calon kupu-kupu itu terlihat bersusah payah berusaha sekuatnya untuk keluar tapi lubang itu tidak juga semakin besar. Sepertinya calon kupu-kupu itu akan kehabisan tenaga. Anak laki-laki itu memutuskan untuk menolong. Dia mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari sakunya lalu membantu membuat lubang di kepompong itu sehingga kupu-kupu itu dapat keluar.
Kupu-kupu itu dapat segera keluar. Anak laki-laki itu terus memperhatikan. Sayap kupu-kupu itu masih kuncup, seharusnya sesaat lagi akan mulai berkembang dan memperlihatkan sayapnya yang indah, tapi itu tidak terjadi. Kupu-kupu itu harus menyeret sayapnya hingga akhir hayatnya. Dia tidak akan mampu terbang karena anak laki-laki itu tidak sadar bahwa membuat lubang sendiri bagi kupu-kupu merupakan hal yang sangat penting agar cairan tubuh dapat mengalir dari tubuh ke sayap hingga menjadi kuat dan mampu terbang. Kehidupan memang mengharuskan kurpu-kupu itu untuk berjuang dengan keras keluar dari kepompong agar dia menjadi kuat dan mampu tumbuh dan berkembang.
Saya yakin banyak diantara kita pernah membaca atau mendengar cerita di atas. Pesan moralnya juga sudah jelas bahwa tanpa usaha dan kerja keras kita tidak akan mampu menghadapi kesulitan dalam hidup. Kita akan menjadi tajam jika melewati tempaan. Jika kita menjalankan kehidupan yang mudah, kita tidak akan menjadi giat untuk berjuang, kita tidak akan tahan mental, kita akan lemah, Hidup memberikan kita tantangan agar kita kuat dan bisa survive.
Semua terdengar mudah bukan? Hahaha.. sekarang coba kita berefleksi. Ambil contah yang paling dekat: Anak. Sebagai orang tua kita mempunyai kewajiban membimbing, memberi pelajaran dan latihan untuk mempersiapkan mereka agar mampu menghadapi masa depan. Apakah kita sudah cukup memberikan tantangan sehingga mereka terasah dan siap untuk menghadapi masa depan mereka?
Mari kita berbicara dengan jujur. Orang tua mempunyai kecenderungan untuk menilai anak-anak kita dengan kurang tepat. Kita cenderung mempunyai pandangan dan pendapat yang salah tentang kemampuan anak. Banyak diantara kita berpendapat bahwa anak kita lebih baik dari teman-teman sebayanya, kita cenderung membandingkan anak kita dengan peer groupnya. Saya juga melihat banyak orang tua yang terlalu memandang rendah anak-anaknya, kadang mereka memaksakan terlalu keras melebihi kemampuan anak mereka agar bisa bersaing. Tujuannya memang mulia, ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka, tapi secara keterlaluan. Hasilnya, saya melihat sendiri, sangat menyedihkan. Terjadi pada beberapa orang teman saya. Menjadi orang tua memang tidak mudah.
"Jo, kamu harus bisa tarik ulur." Kata seorang psikolog ketika saya ngobrol dan berkonsultasi tentang mendidik anak. Saya hanya memiliki seorang saja, oleh sebab itu selalu berusaha menghindari kesalahan fatal. Anak tidak sama dengan tikus di laboratorium yang bisa digantikan jika percobaan gagal. Tidak boleh ada kata gagal dalam mendidik anak. Kata gagal selalu berusaha dihindari bahkan jika bisa dihilangkan dari kamus! Seram!
Yang dikatakan oleh psikolog soal tarik ulur terdengar mudah. Tapi kita tidak sedang bermain layangan! Anak-anak bukan benda mati. Mereka bereaksi jika ada aksi. Ada yang namanya komunikasi. Ada faktor afeksi, dan banyak lagi. Sangat kompleks dan tidak dengan mudah bisa kita uraikan dan kita antisipasi apalagi hal tersebut ditambah dengan masalah orang tua yng tidak punya pengalaman dan pengetahuan. Tidak ada orang tua yang berpengalaman. Secara fisik kita merasa siap, tapi menjadi orang tua tidak hanya urusan fisik. Waktu mereka bayi kita kewalahan secara fisik karena kurang tidur, semakin anak kita kita dewasa, kesulitan tidur kita kadang kala semakin kuat, bukan karena anak menangis tengah malam minta makan, tapi justru karena kekhawatiran yang kita miliki mengingat masa depan mereka.
Yang terbaik bagi anak. Itu merupakan cita-cita semua orang tua. Bagimana caranya? hahaha.. kita tidak pernah tahu. Yang kita lakukan paling banyak berdasarkan insting, berdasarkan pengetahuan dari bacaan yang kita lahap pagi, siang, dan malam ketika sempat, atau berkaca dari pengalaman bersama orang tua kita. Tapi keputusan-keputusan yang kita ambil selalu dibarengi dengan keragu-raguan. Kita tidak mau menjadi seperti anak laki-laki yang maksud mulianya berusaha membantu kesulitan calon kupu-kupu tapi ternyata akhirnya justru menjerumuskan. Kita tidak mau anak kita seperti kupu-kupu yang tidak mampu menghadapi masa depan mereka karena kita terlalu "baik" hati membantu mereka. Kebaikan yang kita kira merupakan upaya membantu ternyata berkahir dengan bencana. Sejauh mana kita membiarkan mereka menghadapi tantangan tanpa gatal tangan untuk membantu? Itu merupakan pertanyaan yang tidak pernah dapat dijawab. Keputusan yang kita ambil selalu disertai dengan rasa was-was dan pertanyaan yang justru lebih besar lagi, yaitu,"Apakah kita sudah berbuat yang tepat untuknya?" Tidak semudah membuat keputusan seperti anak-anak yang membantu kupu-kupu bukan? Tentu saja! Karena kita mempunyai ikatan emosinal yang sangat erat. Dalam tubuh ank kita mengalir darah kita juga!
Foto credit: sciencing.com