Saya akan menjadi seseorang yang sangat judgmental dalam tulisan ini. Sesekali, biar seru, walau tentunya saya punya alasan. Ini hanya sekedar berbagi, entah benar atau salah, tapi saya mempercayai ini berdasarkan pengalaman menjalani hidup saya. Yang biasa saya lakukan adalah menganalisa apa yang saya alami, lalu berusaha mencari pelajaran apa yang bisa saya peroleh dari pengalaman itu. Nah ini yang ingin saya obrolkan hari ini. Tapi sebelumnya saya mohon maaf bila sangat judgmental.
Ada seorang ibu-ibu tua yang selalu datang ke rumah beberapa kali seminggu untuk menjajakan dagangannya. Ibu ini menjual keripik pisang, pilus, cheese sticks, dan sebagainya. Saya pengagum orang-orang yang bekerja keras, seperti misalnya penjaja keliling. Saya lebih respek pada mereka dibandingkan dengan orang yang berkeliling dengan kemoceng brusaha membersihkan kaca kendaraan seadanya. Membersihkan 2 detik terus minta uang, begitu diberi dia pindah ke kendaraan lain. Saya tidak menyukai mereka. Saya juga tidak suka dengan orang-orang yang menggunakan kostum dan mengharapkan apresiasi. Saya juga tidak akan pernah memberi sedekah pada orang-orang yang merokok. Jika dia mampu beli rokok, tentunya dia mampu membeli makanan. Rokok bukan kebutuhan utama.
Nah, kembali ke ibu-ibu tua ini. Dia rajin mampir ke rumah karena saya senang membeli banyak, kebetulan di rumah selalu ada banyak pekerja, sehingga saya hampir selalu membeli makanan kering dari ibu ini dan membagikan pada para pekerja untuk cemilan sambil minikmati kopi. Saya sendiri hanya menikmati beberapa, sebagian besar saya beli untuk para pekerja. Ibu ini biasanya datang pagi hari, hanya kemudian suatu sore dia datang. Lalu dengan wajah sedih bercerita bahwa ada keluarganya yang sakit dan ingin pinjam sedikit uang untuk berobat. Tidak ada sedikitpun rasa sangsi dalam diri saya, hanya rasa kasihan dan ikut berepati. Lalu saya berikan sejumlah uang dan memberitahu agar tidak perlu dikembalikan.
Beberapa waktu kemudian dia datang lagi, berusaha menjual jaket kulit. Saya mulai merasa tidak nyaman. Dia bercerita pada suatu saat ada yang pinjam uang dan menyerahkan jaket ini sebagai colateral. Saya punya banyak sekali jaket kulit dan tahu kualitas kulit yang baik dan tidak. Tidak perlu memegang, saya tahu itu jaket kualitas jelek dan bukan kulit. Saya tolak ibu itu baik-baik dan dia pergi. Beberapa hari kemudian dia datang lagi. Sore hari, menjelang malam. Saya intip dari dalam ibu itu duduk memandang jauh menerawang. Saya buka pintu, dan langsung raut muka ibu itu berubah, menjadi memelas dan sangat susah. Hingga di sini saya berubah pendapat tentang ibu ini. Saya bisa menebak seribu persen apa keperluan dia. Dan saya benar.
Saya katakan dengan tegas bahwa ini yang terakhir, saya juga punya kebutuhan, tidak bisa terus menerus membantu. Uang tidak perlu dikembalikan, tapi saya tidak akan membantu lagi. Ibu itu memang masih sering datang untuk menjajakan jualannya. Kadang saya membeli banyak kadang sedikit. Itu juga kalau memang saya ingin memberikan pada para pekerja. Satu hal yang selalu saya pegang teguh adalah bahwa saya tidak ingin dimanfaatkan, apalagi oleh orang yang pandai bersandiwara. Saya memang judgmental, tapi saya akan lebih respek pada dia dan tidak merasa dimanfaatkan jika dia tidak berusaha bersandiwara di depan saya. Mungkin saja dia benar-benar sedang menghadapi kesulitan, tapi dengan mendramatisasi keadaan baik dengan jestur maupun raut muka, saya merasa seolah-olah menjadi seseorang yang berusaha dikelabui.
Mentalitas adalah kekuatan yang luar biasa yang dapat sangat mempengaruhi hidup kita serta menentukan keberhasilan. Sikap kita dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan sangat potensial mampu membuka pintu serta kesempatan yang akan memberikan dampak yang sangat signifikan. Itu semua adalah prinsip-prinsip kehidupan yang saya percayai.
Sikap adalah pondasi dari keberhasilan! Bahkan Zig Ziglar, seorang motivational speaker pernah berkata: "Your demeanor, not your fitness, will decide your height."
Banyak orang yang terus menerus terjebak dalam kesulitan karena sikapnya yang kurang baik. Saya tidak mengatakan terpuji atau tidak terpuji, memang banyak yang begitu, tapi saya lebih memilih yang "kurang baik" karena sikap yang demikian seringkali mengarah pada keputusan yang juga kurang baik. Misalnya mencari jalan pintas. Ini salah satu keputusan yang salah. Berapa banyak rekan-rekan saya yang terjerumus karena mengambil jalan pintas? Jalan pintas itu diambil untuk mencari solusi cepat yang instan. Tidak sedikit orang-orang yang saya kenal melakukan ini yang akhirnya menghancurkan hidup mereka, atau yang lebih sering adalah menghancurkan relasi.
Memang sangat mudah saya mengatakan ini. Ini hal yang mudah dibicarakan tapi sangat sulit dihadapi. Jika sudah terjepit dalam sebuah situasi, kadang memang solusi instan yang diambil untuk sementara waktu. Saya tekankan kata sementara. Hanya saja keputusan semacam ini sangat penuh risiko. Sekali lagi, kunci keberhasilan kita salah satunya terletak pada demeanor, pada sikap. Keputusan yang kita ambil juga bergantung pada karakter kita. Karakter terlihat pada sikap, sikap yang akhirnya akan menentukan hasil.
Foto credit: cuteness.com