AES 622 Do I Know You?
joefelus
Sunday February 5 2023, 12:39 AM
AES 622 Do I Know You?

Kadang kala kita merasa betul-betul mengenal seseorang tapi ternyata tidak. Seringkali kita hanya melihat yang kita ingin lihat. Karakter seseorang benar-benar kita tangkap secara bias karena ya itu tadi, kita hanya melihat yang kita ingin lihat. Kita dengan mudah terperangkap pada menghakimi karakter orang lain berdasarkan penampilan, dan akhirnya terbukti bahwa kita salah besar. Seringkali karakter seseorang muncul dan terlihat secara jelas ketika menghadapi situasi yang sebenarnya.

Kita juga sering percaya pada instinct yang seringkali menyesatkan. Ada orang yang sangat sopan, berpakaian rapih dan profesional, ternyata akhirnya hanya seorang penipu. Jaman mahasiswa saya pernah dikunjungi seorang bapak-bapak yang berpakaian rapih, kalau jaman itu namanya baju safari dan sangat sopan, dia minta tolong pinjam uang untuk ongkos naik bus karena dompetnya dicopet. Bapak itu berjanji akan mengembalikan uangnya sambil menunjukkan kartu nama sebagai bukti bahwa dia tidak bermaksud menipu dan memiliki pekerjaan yang mapan. Saya mahasiswa miskin sehingga dengan agak merasa bersalah mengatakan tidak dapat membantu. Lucunya beberapa waktu kemudian di tempat lain saya ketemu bapak yang sama dan minta tolong kepada saya dengan modus yang persis sama. Hahaha.. serius, ini kisah nyata! Kita tidak dapat mempercayai instincts karena sering menyesatkan. Saya pikir bapak itu sungguh-sungguh sedang dalam kesulitan dan saya merasa berdosa tidak dapat membantu. Ternyata... hahaha!

Tidak mudah menilai orang lain secara objektif. Kita butuh waktu dan benar-benar memperhatikan banyak faktor untuk dapat mengenal orang lain secara baik. Kriteria yang ingin kita ketahui misalnya apakah orang tersebut jujur, bisa diandalkan, bertanggungjawab, kompeten, baik, compasssionate, dan sebagainya. Ini bukan kualitas yang mudah diamati, bukan?

Tadi pagi saya pergi sarapan dengan kolega kantor di salah satu dining hall, kebetulan kami pergi ke tempat di mana Kano bekerja. Sahabat saya yang menjadi general manager di sana mengundang kami untuk mampir. Kami masuk dari belakang, dari dapur. Sebelum tiba di dining hall, saya dihentikan salah seorang chef di sana. Namanya Tamao, wanita berdarah Jepang.

"Jo, I want to talk about your son."

Waduh, dalam hati. Ada apa ini? Sebab kelihatannya begitu serius. Saya langsung memberikan perhatian penuh pada percakapan kami sambil merasa sangat was-was.

"Yesterday for the first time I let Kano work at the flat top. He did it perfectly! He did everything perfectly. I am so happy he works with me. My job is so much easier when he is around. He is great"

Plong! Begitu rasanya. Beban yang selama ini saya tanggung serentak rontok dan terlepas semuanya mendengar ini. Selama ini saya menilai Kano berdasarkan tingkah lakunya di rumah. Misalnya dia tidak akan mulai mencuci pakaian sampai ketika hampir semua pakaiannya habis, lalu mesin cuci dipaksa bekerja keras karena beban yang overload, hingga terakhir kali saya harus mengeluarkan sebagian karena khawatir akan jebol. Untuk urusan domestik dia tidak terlalu banyak terlibat. Mungkin itu salah saya juga karena kurang sabar sehingga tidak memberikan kesempatan yang cukup untuk dia berkembang, atau mungkin juga karena Kano benar-benar "memanfaatkan" kebaikan orang tuanya sehingga sengaja memanjakan diri.

"Who was the person Tamao and I talked about?" Tanya saya pada diri sendiri karena saya agak tidak percaya bahwa kami membicarakan orang yang sama. Memang selama ini saya mendengar cerita dari Kano ketika bekerja di tempat yang lama bahwa para manager di sana begitu menyukai dia karena bekerja sangat baik bahkan ditawari promosi untuk jadi manager. Saya saat itu terus terang sangat sangsi sebab Kano belum pernah bekerja sebelumnya dan di rumah dia tidak menunjukkan sebagai anak yang terampil. Sekarang saya mendengar banyak pujian, tidak tanggung-tanggung dari setidak-tidaknya 4 orang chef termasuk salah satu yang punya jabatan tinggi seperti misalnya Chavez, seorang chef yang posisinya sedikit dibawah production chef, chef kepala di Braiden.

Siangnya saya kembali lagi ke Braiden. Sengaja saya datang agak terlambat dari biasanya, yaitu ketika dining hall sedang sibuk-sibuknya. Kano berdiri di flat top memanggang grillled cheese. Tidak ada antrian sama sekali dan semua roti bakar itu warnanya sempurna. "Hmmm.. I guess Tamao told me the real thing. She wasn't joking about it!" Saya langsung merasa senang, bahagia sekaligus bangga tak terkira. Saya mampir sebentar dan ngobrol.

"What are you doing here? Have you had lunch yet?" Tanya Kano

"I am about to have lunch, waiting for my friends." Kata saya.

Saya kemudian menunggu teman-teman yang lain di salah satu kantor. Tidak berapa lama Kano mendatangi saya dan mengajak makan siang sama-sama. Tentu saja saya iyakan karena makan bersama-sama itu sangat jarang kami lakukan, apalagi di tempat kerja. Akhirnya kami dapat duduk di sebuah meja besar dengan beberapa chef, kolega saya bahkan general manager sambil ngobrol. Ini sungguh peristiwa yang sangat menyenangkan bagi saya. Hari ini saya begitu bangga. Tak saya sangka bahwa Kano begitu hebat, he exceed my expectation! I thought I knew him, but apparently some I don't! hahaha..

innocentiaine
@innocentiaine   3 years ago
wah keren Kano.. jadi tau sisi lain anaknya ya pak :)
joefelus
@joefelus   3 years ago
Menarik ya, Kak. Dikira kita sudah tahu semuanya :)