Hari Minggu adalah hari saya bisa bangun agak siang. Sleep in itu seringkali menjadi sebuah kemewahan. Lucu juga kalau dipikir-pikir karena setiap kali saya tahu bahwa esok hari saya tidak harus bangun subuh, perasaan rileks dan senang langsung sangat terasa dan otomatis sejak semalam sebelumnya suasana positif langsung bertebaran di atmosfir. Sebegitu sederhananya, sebegitu dasyat efeknya. Cuma bisa bangun setengah hingga 1 jam lebih siang, bisa mengubah banyak hal. Simple and yet incredible!
Paginya, begitu mata terbuka dan sedikit sinar matahari mulai mengintip dari sela-sela tirai kamar, perasaan rileks itu langsung dapat dirasakan. Keputusan pertama yang saya buat: tidak perlu langsung turun dari pembaringan, keputusan kedua: saat hening sambil berbaring, keputusan ketiga: Oh ya minum obat. Yang terakhir harusnya yang pertama, karena semakin awal dilakukan saya akan bisa sarapan dan minum kopi lebh awal. Tapi pagi ini tidak penting karena tidak ada yang memaksa saya untuk tergesa-gesa. Ini suatu hal yang luar biasa mengingat jaman sekarang kehidupan itu serba cepat, sementara saat ini saya seolah-olah melonggarkan pegas waktu sehingga bisa bergerak sesuai dengan keinginan saya. Everything depends on me and has to be fit to my liking! I am in control and I have the power to decide. Nah perasaan mana yang bisa mengalahkan hal ini? Saat ini tidak ada!
Sesudah mungkin melewati lebih dari 100 keputusan yang telah saya ambil di pembaringan, hal berikutnya yang ingin saya lakukan adalah menyegarkan diri. Membersihkan diri kemudian hal-hal ajaib berikutnya dimulai. Kopi, itu yang pertama. Sambil menunggu mesin espresso mungil mainan saya ini siap, saya mengambil 2 cangkir mungil, steaming pitcher dan lain lain sambil menimbang-nimbang kopi apa yang cocok dengan mood saya pagi ini. Kopi arabica gayo Aceh? Kopi Lampung, atau kopi blend yang pernah secara iseng saya buat sendiri? Mau yang acidic dan pahit atau yang lebih "manis" dan nutty?
Hidup ternyata penuh dengan kesibukan membuat keputusan. Dari hal yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Apakah ini melelahkan? Tergantung pada diri kita masing-masing. Jika memilih itu dijadikan beban dan tidak diberi sisipan kata "fun" maka semua akan menjadi beban. Betul tidak? Kalau tidak percaya, lihat judul ocehan saya hari ini. Judulnya menggunakan sebuah pertanyaan yang kemudian jawabannya tentu berupa sebuah keputusan. Lagi lagi tentang membuat keputusan.
Menulis itu ternyata juga merupakan serangkaian pembuatan keputusan. Setiap kata yang kita pilih adalah hasil dari pembuatan keputusan. Setiap kata, tanpa kecuali. Ketika jari-jari kita mengetik kata yang telah kita putuskan pada saat yang sama otak kita sudah bekerja memutuskan kata apa yang berikutnya kita pilih. Betul tidak? Apakah kalimat berikutnya merupakan sebuah pernyataan atau pertanyaan, itu juga sebuah keputusan. Bayangkan ada berapa keputusan yang kita buat untuk membuat sebuah tulisan. Jika ocehan saya pagi ini terdiri dari 250 kata, saya yakin keputusan yang sudah saya buat akan lebih dari 250 buah, belum termasuk bila kita menghapus kata dan menggantinya dengan yang lain. Apakah sejauh ini saya benar? Menurut saya begitu!
Asyik tidak? Sampai di sini saja saya sudah merasa seru sambil menulis, mendengarkan musik, menyeruput kopi yang harum yang barusan saya buat. Sambil menikmati itu semua, saya masih menunggu roti yang sedang saya panaskan di oven untuk sarapan pagi ini. Harumnya mulai terasa dan itu semua melengkapi kerja semua indera yang saya miliki. Jari-jari tangan menyentuh keyboard laptop, lidah saya menikmati secangkir cafe latte, hidung saya menikmati harum kopi dan harum roti di oven, dan telinga menikmati alunan musik jazz dari sebuah speaker kecil tapi memiliki suara dahsyat bin ajaib, sementara mata memandangi layar monitor. Semua bekerja, semua menikmati sensasinya masing-masing.
Semua itu dapat terjadi karena aura positif! Padahal kalau dipikir-pikir semuanya itu adalah hal-hal kecil dan sederhana. Saya katakan sekali lagi sederhana. Tapi yang sederhana itu dapat terdengar sangat mewah dan luar biasa. Semuanya tergantung pada bagaimana kita melihat. Jika kaca mata kita positif, yang sepele bisa dianggap keajaiban, sementara jika kacamata kita negatif, yang sangat amat megah pun akan tampak menyedihkan. Ya, itu persepsi, dan persepsi kita juga tidak selalu netral, tergantung pada suasana hati sehingga sangat subjektif.
Sekarang jika saya urutkan dari awal hingga akhir, semuanya berawal dari suasana positif dan nyaman sejak malam, tidak tergesa-gesa, tidak dikejar-kejar apapun, easy atau slow living style, being present, focus on positivities, dan sebagainya. Melakukan itu, yang sederhana jadi luar biasa! Yang jelas jika ingin hidup itu berarti, menurut saya kita harus live in the present, atau jika mengutip ucapan Eckhart Tolle: "Realize deeply that the present moment is all you have. Make the now the primary focus of your life."
bener, setuju semuanyaa! aku juga merasa kl penginderaan itu berkah besar bgt yg sering kecemplung ke kotak default ketika kita ga mindful. padahal bs menikmati dan mensyukuri kemampuan penginderaan in the present momen itu bikin list bersyukur ga tamat2 dan attract more an more wonderful things! Have a great Sunday, Om!