AES076 - Mengenal Bahasa Ibu
Ara Djati
Friday November 15 2024, 10:53 AM
AES076 - Mengenal Bahasa Ibu

Mangga. Mang-ga. Mengunyah, menggigit, lidah mengulum di balik mulut. Rasa manis-licin itu hampir terasa di ujung bibir ketika kita mengucapkan kata itu. Jad-wal, lompatan kecil, menggulung serapan dari pedagang asing, eksotis. I-bu. Penuh harap, penuh rindu, penuh mohon; rangkaian suku kata yang pertama keluar dari mulut yang baru. Ibu, sebuah familiaritas, sebuah tanah air, sebuah bahasa. Sesuatu yang lahir di dalam kita sebelu kita tahu dia ada.

Pandanganku akan Bahasa Indonesia tidak selalu sehangat yang kuinginkan. Waktu kecil, aku lebih banyak membaca buku berbahasa Inggris. Kata-katanya terasa lebih variatif, lebih kaya, bisa mengungkapkan jauh lebih banyak dengan bentuk-bentuk huruf yang jauh lebih unik. Bahasa Inggris adalah bahasa global, bahasa keren. Orang dewasa selalu tampak terkesan ketika tahu aku bisa Bahasa Inggris. Jadi itulah yang kuingat selalu: bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa yang lebih bagus, lebih berguna. Sementara Bahasa Indonesia, sesuatu yang begitu normal dan repetitif dan kaku. Kata-katanya terbatas, bentuk kata-katanya juga terbatas. Tidak ada kekangan grammar seperti dalam bahasa-bahasa asing. Tapi ini justru membuatnya terasa membosankan.

Maka, aku menulis dan membaca dalam Bahasa Inggris. Aku melihat dunia dalam lensa yang bukan lensa ibuku, dengan kata-kata yang bukan milikku. Dunia di sekitarku terasa kering dibandingkan dengan apa yang bisa kubaca: negara-negara yang terbebas dari monotoni tropis, dengan makanan yang tak berbumbu. Orang tuaku menyarankanku agar lebih terkoneksi dengan budaya–budayaku sendiri. Tapi, kupikir, Bahasa Inggris sudah menjadi jendela yang lebih luas. Jadi, aku cap Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Aku anugerahkan Bahasa Inggris sebagai bahasa untuk pikiran, untuk pelajaran, untuk kemajuan. Globalisasi dalam bentuk yang kurang diinginkan.

Aku dulu sering kesal ketika membaca buku-buku berbahasa Inggris, tapi tentang budaya-budaya Jepang dan Amerika Latin dan Rusia dan Thailand. Kenapa Indonesia jarang sekali disebut? Lama-kelamaan, ketika aku sudah lebih tua, aku melihat kenapa. Bahasa Inggris dan budaya Barat selalu diagung-agungkan. Aku, seperti banyak anak-anak lain, jadi merasa bahwa inilah bahasa yang lebih penting. Tapi bagaimanapun juga, bahasa ibu sudah terajut dalam diri kita.

Aku mulai melihat Bahasa Indonesia sebagai sesuatu yang alamiah, yang bisa menggulung turun dari lidah dengan alamiah, yang terasa aman dan normal dan seperti rumah bagiku. Kata-katanya sederhana dan fleksibel. Tata bahasanya bisa digunakan sesuai kemauan. Dalam kesederhanaan, bahasa ini terasa siap dan dekat, tak mengintimidasi. Aku membaca tentang orang-orang yang pindah ke negara asing, yang bahasa ibunya terlupakan dan terhapus, dan membayangkan betapa sedihnya kalau itu terjadi padaku. Aku mencoba menggenggamnya, memandangnya sebagai sesuatu yang tidak kalah maju dibandingkan bahasa lainnya. Semakin digenggam, semakin terasa hangat. Dan itulah istimewanya bahasa ibu. Bagaimanapun juga, itu merupakan bagian dari identitas kita. Akan selalu ada suatu hal yang membuatnya terasa seperti rumah.

You May Also Like