AES 409 Kota Kecil
joefelus
Wednesday July 6 2022, 7:22 AM
AES 409 Kota Kecil

Jadi begini, Saya jauh lebih menyukai kota kecil dari pada kota besar. Untuk dijadikan tempat tinggal tentunya. Memang betul kota kecil serba terbatas. Jika ingin meniti karir, kesempatan akan lebih banyak tersedia di kota besar. Orang berbondong-bondong mengejar mimpi di kota besar. Banyak cerita bisa didapatkan di situ.

Saya pernah ngobrol dengan salah seorang pedagang rokok di Pusat kota Bandung, terus terang saya lupa namanya. Dia mempunyai warung kecil di salah satu gang, menjual gorengan, mie instant, rokok, kopi dan sebagainya. Dia mulai membuka warungnya ketika hari masih gelap hingga siang hari. Dia bercerita bahwa keluarganya jauh di kampung di salah satu desa kecil dekat Sumedang. Berjualan di kota besar jauh lebih menguntungkan daripada di kampungnya. Menyewa kamar kecil ber 6 di salah satu lokasi padat di antara gang-gang di pusat kota. Jika ber-6 berada di kamar, tidak akan cukup untuk berbaring. Mereka bisa menyewa kamar ber-6 karena 3 orang bekerja dari subuh hingga sore, 3 orang lainnya bekerja dari sore hingga pagi hari. Begitu cara mereka menghemat. Setiap beberapa bulan sekali pulang ke kampung membawa keuntungan berjualan untuk hidup keluarga. Begitu hidup dia selama bertahun-tahun demi mengejar mimpi.

Kota besar itu walau terlihat indah dan mengagumkan dalam banyak hal tapi dibalik itu penuh dengan drama kesedihan, kesengsaraan dan keprihatinan. Sangat terlihat jika kita memperhatikan dengan seksama di pusat-pusat kota. Saya pernah duduk di sebuah bus kota di pusat sebuah kota, ada seorang gelandangan masuk ke dalam bus dengan membawa hartanya, sebuah ransel yang sudah usang. Duduk di kursi handicap dengan pandangan menerawang jauh, kerut-kerut di wajahnya yang saya yakin menyimpan banyak cerita perjalanan hidupnya hingga berakhir duduk di bus kota dengan harta sebuah ransel tanpa memiliki tempat tinggal.


Di salah satu kota sangat besar, katanya kota ini tidak pernah tidur, bisa disaksikan orang-orang berlalu lalang dengan pakaian hitam, berdasi, berjas dengan sepatu bermerk dan mengkilap. Berjalan dengan sangat cepat seolah-olah waktu sehari 24 jam itu tidak cukup, di tangan kiri memegang sebuah tas kantor berbahan kulit dan terlihat berat, ditangan kanan memegang segelas kopi sambil terus berbicara. Saya kira tadinya dia berbicara sendiri, mungkin karena stress karena kehidupan yang berat dikota yang penuh dengan gedung pencakar langit yang super mewah yang penuh dengan patung-patung, ukiran dan lukisan kaca patri, ternyata dia memanfaatkan bluetooth earbuds untuk berkomunikasi. Tapi lihat di emperan toko-toko yang belum buka karena masih terlalu pagi, banyak orang berbaring dengan selimut menutupi kepala hingga kaki di atas semacam tikar dari bahan karpet yang sudah usang. Ada kontradiksi yang menyakitkan mata dan hati!

Itu hanya sebagian dari cuplikan-cuplikan kehidupan di kota besar. Setiap orang kebanyakan tidak saling mengenal dan menjalani kesibukan masing-masing. Yang paling banyak terdengar adalah komunikasi melalui klakson karena satu merasa terganggu dengan kehadiran yang lain, atau kata-kata makian karena yang satu dianggap terlalu lambat atau menghambat sementara yang lain merasa waktunya terhalang oleh orang lain. Orang-orang mulai berdatangan dari subway, turun dari bus kota dan sebagainya untuk memulai pekerjaan mereka. Tukang-tukang bangunan dengan kaos tangan tebal menenteng peralatan dan bekal makanan mulai ramai turun di jalan. Asap mengepul dari knalpot maupun dari lubang-lubang solokan karena pembuangan air panas dan suhu di luar lebih dingin, sampah-sampah teronggok dijalan menunggu dijemput mobil pengangkut. Ya begitu kota besar, tidak selalu sama seperti di film-film yang kebanyakan hanya menghadirkan yang indah-indah.

Saya tidak betah tinggal berlama-lama di kota besar. Kalaupun ke sana karena hanya ingin mengunjungi tempat-tempat tertentu, tapi untuk tinggal saya akan berpikir berkali-kali. Bandung juga sebetulnya bukan pilihan saya untuk tinggal, saya semata-mata "terjebak" karena harus melanjutkan pendidikan, lalu mulai meniti karir. Berkompromi antara keinginan dan keharusan akhirnya memilih agak jauh sedikit di pinggir kota dengan banyak sawah dan kebun, toh akhirnya berahun-tahun kemudian sawah dan kebun hilang berganti dengan bangunan-bangunan. Air yang tadinya berlimpah sekarang mulai kekeringan. Sumur rumah saya yang dulu mampu untuk menghidupi orang satu kampung, ini sungguhan, sumur saya dulu digunakan oleh banyak orang di kampung saya tinggal, sekarang untuk keluarga saya sendiri tidak cukup. Pada musim kemarau saya harus rela mengisi jerigen-jerigen, mengambil air dari tempat lain untuk dibawa pulang.

Kota kecil adalah tempat yang bagi saya sangat ideal. Udara masih jauh lebih bersih, keramaian juga masih dapat dinikmati. Fort Collins adalah salah satu kota yang membuat saya jatuh cinta. Bagaimana tidak, penuh dengan lapangan, open space, trail untuk bersepeda dan hiking, bisa berlari di jalan tanpa ada rasa khawatir tersenggol kendaraan. Bayangkan saja jumlah populasi 176 ribu yang menempati 148 ribu km persegi. Kalau dibagi rata satu orang bisa menempati hampir 1km persegi hahaaha... Iseng saja! Tidak ada perhitungan seperti itu (mungkin) saya tidak mengerti apa-apa soal demografi. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kota ini sangat luas untuk jumlah penduduk sebanyak itu. Bandingkan dengan kota Bandung dengan luas 167 ribu km persegi dengan jumlah penduduk 2,5 juta! Jelas sudah mengapa saya jatuh cinta dengan kota saya tinggal sekarang. Dari kepadatan penduduk saja sudah dengan mudah dapat dilihat perbedaannya, 2,5 juta dibandingkan dengan hanya 176 ribu! Sementara luas wilayahnya 176 ribu Km persegi dibandingkan dengan 148 ribu km persegi. Mana yang lebih nyaman? Masuk akal lah kalau di kota saya tinggal ini banyak lapangan nan luas sampai kadang ujungnya ada di garis horison karena mata tidak mampu memandang lebih jauh lagi, semuanya lapang.


Ingat jaman kecil ketika pelajaran menggambar? jaman saya anak-anak sering menggambar jalan raja dengan horison 2 buah gunung dan matahari sementara di kiri kanan ada tiang-tiang listrik. Nah pemandangan begini sangat mudah ditemukan di tempat saya sekarang walau tidak ada 2 gunung simentris seperti di gambar anak-anak. Di tempat seperti itu hampir tidak diketemukan rumah karena semuanya padang yang sangat amat luas. Kalau ingin melihat binatang liar, di sini tempatnya. Banyak kijang, bison berkeliaran, atau yang dipelihara seperti sapi, domba dan kuda. Udara? Jelas jauh lebih bersih! apalagi Bus kota kebanyakan menggunakan bahan bakar yang bersih dan mulai menggunakan bus listrik! Emisi gas buang kendaraan pribadi sangat diperhatikan pemerintah, jangan harap ada kendaraan dengan asap seperti bus damri di Bandung! Belum pernah saya lihat semacam itu. Bukan untuk membangga-banggakan kota negara orang lain, yang saya ingin tekankan adalah mengapa saya begitu mencintai kota kecil atau desa. Itu saja. Nah, sampai saat ini saya masih keukeuh, kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin menghabiskan masa istirahat saya di kota kecil atau pedesaan. Kalau bisa dinegara 4 musim ya alhamdulillah, tapi jika di tanah air ya selama jauh dari kehiruk-pikukan perkotaan, saya akan sangat bersyukur. Saya mencintai kedamaian dan ketenangan.***