Dalam sebuah pertandingan memasak, seorang chef wanita yang sangat muda berusaha sangat keras untuk membuka sebuah botol saos. Tahu sendiri ketika bekerja di dapur dimana penuh dengan minyak, maka tangan kita akan menjadi licin dan akan sangat sulit membuka botol. Chef tadi berusaha menggunakan apron, tidak berhasil. Akhirnya dia mencoba menggunakan pisau, juga tidak berhasil. Dalam memasak, waktu sangat penting, apalagi dalam sebuah pertandingan! Memasak sesuatu ketika waktunya off maka hasilnya akan tidak memuaskan atau bahkan akan gagal sama sekali.
Disisi tempat kompetisi itu ada sekelompok penonton menyaksikan sambil bersorak sorai, diantara mereka ada ayah dan ibu chef tadi yang terus memberi semangat. Akhirnya chef tadi menyerah dan berlari menghampiri ayahnya dan memberikan botol tadi. Ayahnya hanya butuh beberapa detik dan botol itu terbuka. Chef tadi berlari diiringi sorak sorai dan kembali meneruskan kegiatan memasaknya. Dad is always a superhero. He is always there when needed!
Sekarang cerita lain. Kemarin ada sedikit "kerusuhan" di rumah. Saya mampir sebentar ke rumah untuk menjemput Kano yang akan bekerja. Sebelumnya saya makan siang di dining hall tempat Kano bekerja. Saya lihat executive Sous Chef bekerja keras. Beliau seharusnya tidak berada di sana. Ternyata production chef dan beberapa cook tidak masuk kerja sehingga tempat itu kekurangan staff. Tidak heran Executif Sous Chef akhirnya turun tangan. Beliau adalah orang kedua yang paling bertanggung jawab di seluruh kampus. Penanggungjawab pertama adalah executif chef.
Memperhatikan kondisi itu, saya tahu nanti Kano akan harus bekerja keras. Kano memiliki beberapa orang bawahan yang membantu dia untuk menyiapkan bahan mentah, nah salah satu dari bawahannya ini tidak masuk. Sebagai seorang ayah, saya ingin Kano dapat mengantisipasi kondisi ini. Itu yang selalu saya inginkan jika akan bekerja, semakin tahu dengan jelas situasi apa yang menunggu saya akan semakin baik sehingga saya punya persiapan yang lebih tepat. Dengan alasan itu, ketika saya bertemu Kano, saya memberitahu kondisi di tempat kerja. Ternyata reaksi dia berlawanan dengan yang saya bayangkan.
"Dad, next time when you have a bad news, can you not tell me and let me find out myself, please?" Kata Kano ketika kami berdua berada di dalam mobil. Kami berdua sejak meninggalkan rumah hampir sama sekali tidak berbicara. Situasi di rumah tadi lumayan buruk apalagi Nina ikut nimbrung dengan sedikit mencela reaksi Kano yang negatif. Situasi menjadi semakin keruh. Sepanjang hari bahkan ketika saya malam hari menjemput dia, kami tidak banyak bicara. Kano masih terlihat kesal dan saya bisa bayangkan kesulitan yang dia hadapi di tempat kerja. Saya membiarkan dia belajar mengolah perasaannya. Memang biasanya dia bisa mengomel bahkan marah-marah seenaknya di rumah. Rumah adalah tempat yang paling nyaman bagi setiap orang untuk melepas semua beban dan kekesalan, tapi saya juga berusaha mengajarkan untuk tidak membawa masalah kerja ke rumah sebab akan mempengaruhi kondisi rumah, mempengaruhi banyak orang bahkan suasana harmonis di rumah menjadi rusak. Urusan pekerjaan sebaiknya ditinggal di pekerjaan. Itu yang saya inginkan dan sepertinya Kano mengerti itu sehingga malam hari walau ibunya berusaha menyapa dengan ramah, dia memilih untuk berdiam diri dan menghabiskan sisa hari mengolah perasaan dan pengalaman dia. Sesuatu hal yang menurut saya sangat sehat dan saya yakin jika dia butuh bantuan akan mendekat dan membuka diri untuk mohon dukungan. Dia sudah dewasa. Itu pendapat saya.
Menjadi orang tua itu tidak mudah. Saya selalu mengatakan bahwa tidak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang tua yang ideal, bahkan banyak bahan bacaan yang sudah saya lahap, tidak selalu cocok dengan kondisi rumah saya. Banyak faktor yang memperngaruhi dan saya berpendapat bahwa setiap rumah tangga memiliki keunikan masing-masing. Memang banyak bahan refleksi dan pengetahuan yang saya peroleh, tapi itu hanya sekedar panduan yang bisa saya gunakan walau tidak seluruhnya dan juga tidak bisa 100% tepat. setiap keluarga mempunyai tradisi, kebiasaan dan juga karakter masing-masing.
Semua orang ingin berusaha menjadi orang tua yang ideal. Saya juga demikian, tentunya dengan kekurangan masing-masing tapi saya selalu berusaha yang terbaik.
"You know, I am this closed to call out knowing that my work is going to be like hell." Kata Kano sambil menunjukkan jempol dan jari telunjuknya untuk menggambarkan bahwa dia begitu dekat ingin tidak masuk kerja karena situasinya akan sangat sulit dan melelahkan.
"But I am a very responsible and reliable person. So I do not do it." Sambungnya lagi.
Saya begitu senang dan bangga ketika mendengar ungkapan Kano ini. Memang bukan hal yang menyenangkan melihat sikap dan reaksi dia dalam menanggapi informasi yang saya berikan, tapi saya mengerti bahwa setiap orang mempunyai preference masing-masing dalam menghadapi krisis. Saya belajar sesuatu hari ini dan akan selalu saya ingat untuk tidak berusaha terlalu keras untuk mewujudkan cita-cita saya sebagai seorang ayah yang ideal. Menjadi superhero tidak harus selalu melakukan sesuatu, membiarkan Kano menghadapi sebagai macam krisis justru mungkin lebih baik. Silence is golden, itu kata pepatah.
Foto credit: Facebook.com