Mekarlah, Mekar
bersama-sama, kita
menghadap sama rendah
dengan penuh kerendahan sukma,
berlindung di bawah mendung
yang masih canggung.
pada satu lembah,
pada satu lembar
hari yang berulang,
kita coba menerka,
apa arti pulang,
jika kita tak lagi bisa
memaknai hangat rumah
yang membesarkan kita.
sementara, semesta ini
adalah satu-satunya tempat kita
menangis sedalam-dalamnya
atau berbahagia setinggi-tingginnya.
adakah kita masih bisa
mengenal harum dedaun
yang menanti jatuh?
adakah kita masih bisa
melihat doa yang pernah kita layangkan
pada satu titik langit yang jauh?
telah kita rajut
kesementaraan kita
dengan benang takdir.
hingga, sukma kita berdekatan-berdekapan.
hingga, segala yang telah menguncup
kembalilah hidup.
hingga, segala yang telah meredup
kembalilah berdegup.
maka mekarlah, mekar,
setitik pendar yang malu-malu
berkobar dalam dada.
dan semesta, terimalah derma kami,
derma yang tak seberapa ini.
2025
Doa Semesta
Tuhan, sembahyang kami tak seberapa
dibandingkan daun-daun yang melambai pada pepohonan.
sembahyang kami tak sekhusyuk tanah yang senantiasa tabah.
sembahyang kami tak begitu tinggi seperti awan yang berarak-beriringan.
Tuhan, ajarilah kami arti kemerdekaan,
merdeka dari segala pamrih,
seperti merdekanya alam yang selalu ikhlas menderma.
Tuhan, hidupkanlah kami kembali
dari hidup yang sebatas bisa kami ketahui.
hidupkanlah sukma yang tertidur dalam raga kami,
sukma yang kekal dalam keabadian semesta yang entah.
Tuhan, terimalah doa-doa kami pada pangkuan-Mu.
sementara, kami selalu percaya, tak ada tempat merebah
yang lebih tepat selain hangat pangkuan-Mu.
Tuhan, dari satu tempat yang dekat,
kami berserah dengan sepi kami sendiri-sendiri.
izinkan kami menghaturkan amin dengan penuh kesungguhan,
amin yang terbebas dari sombongnya jiwa-jiwa kerdil kami.
2025
Selalu asik membaca / mendengar kak Dhimas bermain kata-kata. Lebih jauh adem terasa saat mencermati makna di baliknya... 😇🙏🏼
Hatur nuhun, Kak Andy. 😅🙏