Pada 23 Januari 2023 Bandung dan Cimahi masih diselimuti awan teduh. Sepertinya langit sengaja mengerahkan para awan untuk memayungi petualang Malaya bertualang dalam kayuhan.
Hawa dingin tidak mengerutkan hangatnya perjumpaan dan tekad untuk bersama menyusuri segala medan di depan. Beriring doa dan rasa percaya, "bahwa rutenya relatif datar". Petualang Malaya memacu putaran roda seperti piringan hitam yang melantunkan serta irama musik penggembira. Padi-padi di sawah menari bersama para capung yang terbang rendah.
Sebuah bunker di tepi situ menjadi saksinya, petualang Malaya memuji ciptaan sembari menyantap sarapan. Bincang dan cerita bersautan dengan kepak burung-burung sawah dan suara mesin perahu yang membelah tenangnya air situ. Suasana sederhana yang istimewa.
Perjalanan kembali tak kalah serunya. Sebuah jembatan kayu menjadi sejenak henti di atas gelombang air situ. Hampir di ujung jalan pulang, ada tanjakan yang sedikit menantang. Karena napas sudah direntang, titik akhir perlu membuat kenyang. Seperti dermaga tempat menyandarkan perahu, Malaya menutup perjalanan dengan nikmatnya kupat tahu.
Terima kasih teman perjalanan kala itu, kak Andy, kak Lyn, dan Yanti.Sampai jumpa di cerita tualang berikutnya.
Paragraf kedua terakhirnya bagus amat ka Mamat... ditutup dengan Kupat Tahu. 🤗